Oleh : Deny Saefulhadjar

Setiap kali harga jagung naik, suasana di kandang berubah. Peternak mulai berhitung lebih sering. Ransum ditimbang lebih cermat. Telepon ke supplier jadi lebih intens. Semua tahu, pakan adalah jantung usaha unggas. Kalau bahan baku melonjak, ruang untung langsung menyempit.

Di tengah situasi itu, kita sering lupa bahwa Indonesia adalah negeri padi. Setiap musim panen, penggilingan bekerja hampir tanpa jeda. Beras keluar untuk konsumsi, dan dedak menumpuk sebagai hasil samping. Jumlahnya tidak sedikit.

Di Jawa Barat saja, produksi padi masih berada di kisaran jutaan ton per tahun menurut data BPS. Artinya, dedak yang dihasilkan juga besar. Pertanyaannya sederhana: sudahkah kita memanfaatkannya secara serius untuk pakan unggas?

Bukan Pengganti Total, Tapi Penyeimbang

Dedak padi bukan bahan ajaib. Ia tidak bisa menggantikan jagung sepenuhnya. Tetapi sebagai sumber energi tambahan, dedak punya tempat yang masuk akal dalam ransum.

Kandungan minyak alaminya membuatnya cukup padat energi. Dalam praktik di lapangan, banyak peternak menggunakan dedak sebagai campuran untuk menekan biaya, terutama saat harga jagung sedang tinggi. Selama komposisinya terkontrol, performa ayam tetap bisa dijaga.

Masalahnya sering bukan pada bahannya, melainkan pada cara kita menggunakannya.

Soal Batas, Kita Tidak Bisa Memaksa

Dedak memiliki serat lebih tinggi dibanding jagung. Ayam tidak dirancang untuk mencerna serat dalam jumlah besar. Jika penggunaan terlalu tinggi, pertumbuhan bisa melambat dan konversi pakan memburuk.

Ini bukan soal pro atau kontra terhadap dedak. Ini soal memahami batas biologis ternak.

Selain itu, kualitas dedak berbeda-beda. Ada yang bersih, kering, dan masih segar. Ada juga yang sudah tengik atau terlalu banyak tercampur sekam. Kalau bahan bakunya saja tidak konsisten, sulit berharap hasilnya stabil.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Bisakah penggunaan dedak dinaikkan?” Jawabannya: bisa, tetapi tidak asal naik.

Naikkan dengan Cara yang Benar

Kalau ingin mendorong pemakaian dedak lebih tinggi, ada beberapa hal mendasar yang harus dibenahi.

Pertama, mutu. Dedak harus kering, tidak berbau, dan tidak tercampur sekam berlebihan. Standarisasi di tingkat penggilingan penting. Tanpa itu, formulasi ransum hanya berdasarkan kira-kira.

Kedua, pengolahan. Fermentasi sederhana bisa membantu memperbaiki daya cerna. Tidak rumit, tidak mahal, tetapi perlu kemauan untuk belajar dan mencoba.

Ketiga, formulasi yang dihitung. Banyak ransum masih disusun berdasarkan kebiasaan. Padahal setiap bahan punya angka energi yang berbeda. Jika dihitung dengan benar, dedak bisa ditempatkan secara lebih optimal tanpa mengorbankan performa.

Artinya, kenaikan level penggunaan dedak harus disertai peningkatan pengetahuan.

Momentum yang Tidak Boleh Lewat

Dalam diskusi tentang kemandirian pakan, perhatian sering tertuju pada bahan impor. Padahal solusi lokal sebenarnya ada di depan mata. Dedak padi tersedia stabil, mengikuti produksi beras yang memang menjadi kebutuhan pokok nasional.

Kita mungkin tidak bisa langsung menaikkan penggunaannya secara drastis. Tetapi secara bertahap, dengan pendekatan teknis yang benar, ruang untuk itu ada.

Dedak bukan sekadar limbah penggilingan. Ia adalah peluang efisiensi yang selama ini berjalan di pinggir sistem. Tinggal apakah kita mau menempatkannya di tengah strategi pakan nasional atau tetap membiarkannya sebagai pelengkap ketika harga bahan lain naik.

Pada akhirnya, kemandirian tidak selalu lahir dari terobosan besar. Kadang ia tumbuh dari keberanian mengelola hal-hal sederhana dengan lebih serius.

> Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet UNPAD)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version