Penulis: TEMPO NEWS

Oleh : Mansyur Di tengah upaya nasional untuk mengejar kemandirian pangan dan mengangkat harkat komoditas lokal, Sapi Pasundan kerap hadir sebagai narasi yang romantis. Rumpun sapi asli Jawa Barat ini merupakan salah satu modal keanekaragaman hayati yang sangat berharga. Namun, dalam perjalanan pengembangannya, sebuah wacana ambisius kerap mengemuka: mendorong Sapi Pasundan masuk ke pasar daging kelas atas (premium cut), memosisikannya setara dengan Wagyu dari Jepang atau Hanwoo dari Korea Selatan, atau setidaknya memaksakannya bersaing sebagai pemenuh daging harian masyarakat. Wacana tersebut tentu terdengar sangat indah dan menawan di atas kertas. Namun, jika kita melihatnya secara jujur melalui kacamata ekonomi peternakan…

Read More

Oleh: Romi Zamhir Islami Ambisi pemerintah untuk mengejar swasembada susu nasional kembali menggelora. Dorongan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat sekaligus memangkas ketergantungan impor susu yang saban tahun membengkak. Refleksi kebijakan yang paling umum terlihat adalah fokus pada penambahan populasi sapi. Pemerintah dan pelaku usaha berbondong-bondong merencanakan impor ribuan ekor sapi perah, membangun kandang-kandang baru, hingga mendorong peningkatan produksi per ekor. Langkah tersebut tidak salah. Namun, ada satu pertanyaan krusial yang kerap terabaikan dalam hiruk-pikuk perencanaan tersebut: Lantas, apa yang akan dimakan oleh sapi-sapi itu nanti? Pertanyaan ini terkesan remeh, padahal menjadi penentu hidup-matinya industri…

Read More

Oleh : Mansyur Ambisi mewujudkan ketahanan pangan nasional untuk meningkatkan derajat gizi masyarakat—termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)—diaktifkan di atas fondasi persusuan yang kian rapuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten mencatat bahwa ketergantungan Indonesia sangat kronis terhadap impor susu beserta berbagai derivatnya. Di saat yang bersamaan, model produksi susu kita itu berbasis sapi perah sub-tropis seperti Friesian Holstein (FH) telah membentur tembok batas ekologis dan ekonomisnya. Kita tersandera untuk mengejar produktivitas per ekor yang tinggi. Selama puluhan tahun, persusuan nasional dikunci oleh paradigma tunggal: memaksa sapi bertipikal iklim dingin untuk berproduksi di wilayah tropis. Pendekatan berbasis klimatologis…

Read More

Oleh : Mansyur Ketahanan pangan Indonesia, khususnya di sektor persapi-dagingan, terus diuji oleh dinamika pasokan global dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Dalam beberapa tahun terakhir, industri penggemukan sapi (feedlot) dalam negeri dihadapkan pada kenyataan pahit: ketergantungan pada sapi bakalan impor semakin membebani secara ekonomis. Ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menanjak terhadap rupiah, skema pengadaan bakalan dari luar negeri—seperti Australia—menjadi kian mahal dan sering kali berada di luar margin keekonomian peternak nasional. Pada sisi lain, perburuan mencari bakalan di pasar domestik juga bukan suatu perkara yag mudah. Melakukan pembiakan (breeding) sapi potong secara mandiri dengan sistem intensif di dalam…

Read More

Oleh : Romi Zamhir Islami Bagi seorang petani, musim panen adalah masa paling membahagiakan ketika seluruh tetes keringat dan kerja keras selama berbulan-bulan akhirnya terbayar tuntas. Kacang tanah dicabut dari tanah, bulir-bulir jagung dipetik, kedelai dipisahkan dari polongnya, dan beragam sayuran segar diangkut menuju pasar. Namun, setelah hasil utama tersebut dipanen, pemandangan di lahan kerap menyisakan tumpukan daun, batang, pucuk, serta brangkasan tanaman yang menumpuk. Tak jarang, sisa-sisa vegetatif ini hanya dianggap sebagai limbah tak berguna atau sekadar dibakar. Padahal, jika kita menengok dari sudut pandang peternak sapi, hamparan sisa panen tersebut menyimpan potensi bernilai tinggi. Sisa tanaman dapat diolah…

Read More

​Oleh : Nyimas Popi Indriani ​Industri peternakan modern kini menghadapi tantangan multidimensi. Praktik peternakan tidak lagi sekadar mendongkrak produktivitas dan kesehatan ternak, melainkan dituntut untuk menghasilkan produk pangan yang aman, berkualitas tinggi, serta berkelanjutan. ​Di tengah sorotan tajam terhadap penggunaan antibiotik sintetis—khususnya pelarangan Antibiotic Growth Promoters (AGP) yang memicu efek samping bagi kesehatan—dunia peternakan memerlukan alternatif yang lebih natural. Jawabannya terletak pada pemanfaatan bahan alam kaya senyawa bioaktif sebagai phytogenic feed additive atau pakan fungsional. ​Senyawa fitogenik ini dikenal memiliki aktivitas biologis yang komprehensif, mulai dari antioksidan, antimikroba, hingga imunomodulator, yang efektif menggantikan peran zat sintetis secara aman. ​Dari Bumbu…

Read More

Oleh : Romi Zamhir Islami Ketika berbicara tentang pakan ternak, nama rumput gajah, odot, atau leguminosa seperti indigofera mungkin lebih dahulu muncul. Hanjeli biasanya tidak masuk dalam daftar tersebut. Padahal, tanaman yang dikenal dengan nama ilmiah Coix lacryma-jobi L. ini menyimpan potensi yang cukup menarik. Selama ini hanjeli lebih banyak dikenal sebagai tanaman pangan alternatif. Bijinya dapat diolah menjadi berbagai bahan pangan dan telah lama dimanfaatkan di sejumlah daerah Asia. Namun, tanaman dari keluarga rumput-rumputan atau Poaceae ini sebenarnya juga menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Di sinilah hanjeli menjadi menarik. Satu tanaman dapat memiliki lebih dari satu…

Read More

Oleh : Deny Saefulhadjar Setiap kali harga jagung naik, suasana di kandang berubah. Peternak mulai berhitung lebih sering. Ransum ditimbang lebih cermat. Telepon ke supplier jadi lebih intens. Semua tahu, pakan adalah jantung usaha unggas. Kalau bahan baku melonjak, ruang untung langsung menyempit. Di tengah situasi itu, kita sering lupa bahwa Indonesia adalah negeri padi. Setiap musim panen, penggilingan bekerja hampir tanpa jeda. Beras keluar untuk konsumsi, dan dedak menumpuk sebagai hasil samping. Jumlahnya tidak sedikit. Di Jawa Barat saja, produksi padi masih berada di kisaran jutaan ton per tahun menurut data BPS. Artinya, dedak yang dihasilkan juga besar. Pertanyaannya…

Read More

Penulis : Romi Zamhir Islami Di kota-kota besar, kelinci tak lagi sekadar hewan ternak. Ia hadir sebagai hewan kesayangan—dipelihara di rumah, dikenalkan kepada anak-anak, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup urban. Di Jawa Barat, yang dikenal sebagai salah satu sentra kelinci nasional, tren ini semakin terlihat. Kelinci dipelihara bukan hanya di Garut atau Tasikmalaya, tetapi juga di kawasan perkotaan seperti Bandung Raya. Namun ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: pakan. Kelinci adalah herbivora non-ruminansia yang sangat bergantung pada serat. Sistem pencernaannya dirancang untuk mengolah hijauan dengan struktur kasar, bukan pakan tinggi pati. Dalam kondisi ideal, kelinci menghabiskan sebagian…

Read More

Oleh: Romi Zamhir Islami Persoalan pakan adalah jantung dari keberlanjutan peternakan kita. Saat harga jagung dan bungkil kedelai dunia bergejolak, peternak rakyat seringkali menjadi pihak yang paling pertama terpukul. Di tengah kerentanan ini, kita diingatkan kembali pada kekayaan sumber daya lokal yang melimpah namun kerap terabaikan: daun kaliandra (Calliandra calothyrsus). Bagi masyarakat peternak di Jawa Barat, tanaman ini sebenarnya bukan sosok asing. Kita memiliki memori kolektif tentang gerakan “Kaliandranisasi” yang dipelopori oleh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) beberapa waktu silam. Program tersebut telah menghijaukan berbagai pelosok daerah di Jawa Barat dengan tanaman leguminosa berdaya guna tinggi. Namun, tantangan hari…

Read More