Penulis : Romi Zamhir Islami
Di kota-kota besar, kelinci tak lagi sekadar hewan ternak. Ia hadir sebagai hewan kesayangan—dipelihara di rumah, dikenalkan kepada anak-anak, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup urban. Di Jawa Barat, yang dikenal sebagai salah satu sentra kelinci nasional, tren ini semakin terlihat. Kelinci dipelihara bukan hanya di Garut atau Tasikmalaya, tetapi juga di kawasan perkotaan seperti Bandung Raya.
Namun ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: pakan.
Kelinci adalah herbivora non-ruminansia yang sangat bergantung pada serat. Sistem pencernaannya dirancang untuk mengolah hijauan dengan struktur kasar, bukan pakan tinggi pati. Dalam kondisi ideal, kelinci menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengunyah—aktivitas yang bukan hanya penting bagi pencernaan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan gigi yang terus tumbuh sepanjang hidupnya.
Masalah muncul ketika pola hidup manusia berubah, tetapi pola makan kelinci dipaksa ikut menyesuaikan.
Hijauan segar seperti rumput lapang, rumput gajah muda, atau daun-daunan memang ideal. Namun bagi pemilik kelinci di perkotaan, hijauan segar tidak selalu mudah diperoleh. Hijauan cepat layu, sulit disimpan, dan membutuhkan waktu khusus untuk penyediaannya. Dalam kondisi ini, pakan komersial berbentuk pellet sering menjadi pilihan praktis.
Sayangnya, tidak semua pellet diciptakan sama.
Sebagian pakan pellet di pasaran lebih berfungsi sebagai konsentrat—tinggi energi, relatif rendah serat—yang sejatinya dirancang sebagai pakan tambahan, bukan pakan utama. Dalam jangka panjang, pola pakan seperti ini dapat memicu gangguan pencernaan, masalah gigi, hingga penurunan kualitas hidup kelinci.
Di sinilah gagasan pellet hijauan menjadi relevan.
Pellet hijauan adalah pakan yang dibuat dari hijauan yang dikeringkan, digiling, lalu dipadatkan. Bahan dasarnya tetap tanaman pakan, bukan biji-bijian atau sumber pati. Bentuknya memang pellet, tetapi filosofinya berbeda: menghadirkan hijauan dalam format yang lebih praktis.
Pendekatan ini sejalan dengan sejumlah temuan riset nutrisi kelinci. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecukupan serat kasar memegang peranan kunci dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan kelinci. Serat membantu mengatur motilitas usus, menjaga keseimbangan mikroba di sekum, serta mengurangi risiko gangguan pencernaan yang sering terjadi pada pakan rendah serat.
Dari sisi perilaku, pakan berserat juga mempertahankan kebiasaan mengunyah yang alami. Tanpa rangsangan mekanis yang cukup, masalah gigi pada kelinci hampir tak terhindarkan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk pengembangan pellet hijauan. Beragam hijauan lokal—mulai dari rumput gajah muda, daun turi, lamtoro, kaliandra, hingga hijauan pekarangan—telah lama dikenal dalam sistem pakan ternak. Dalam konteks kelinci peliharaan, hijauan ini bisa diformulasikan secara lebih selektif untuk memenuhi kebutuhan serat tanpa membebani sistem pencernaan.
Keunggulan lain pellet hijauan terletak pada konsistensi. Nilai nutrisi hijauan segar sangat dipengaruhi musim, umur tanaman, dan kondisi lingkungan. Pellet hijauan memungkinkan formulasi yang lebih seragam, sehingga pemilik kelinci dapat mengatur pakan dengan lebih terukur dan stabil.
Bagi pemilik kelinci di kota, manfaatnya bersifat sangat praktis: pakan lebih bersih, mudah disimpan, dan tidak menyita waktu. Bagi kelinci, manfaatnya lebih fundamental—pola makan yang lebih mendekati kebutuhan biologisnya.
Di luar aspek kesehatan hewan, pengembangan pellet hijauan juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang arah industri pakan hewan kesayangan. Selama ini, pasar pakan pets cenderung didominasi produk berbasis impor dan bahan konsentrat. Padahal, ada peluang besar untuk mengembangkan pakan berbasis sumber daya lokal yang lebih ramah fisiologi hewan dan lebih sesuai dengan konteks tropis.
Tentu saja, pellet hijauan bukan solusi instan. Formulasi tetap memerlukan pendekatan ilmiah. Tidak semua hijauan aman diberikan dalam jumlah besar, dan kandungan anti nutrisi harus diperhatikan. Di sinilah peran riset dan perguruan tinggi menjadi penting—bukan hanya sebagai penghasil teknologi, tetapi juga sebagai penjamin bahwa inovasi pakan benar-benar berpihak pada kesejahteraan hewan.
Kelinci mungkin hewan kecil, tetapi cara kita memberi makannya mencerminkan cara kita memandang hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Pellet hijauan menawarkan satu kemungkinan: menggabungkan kepraktisan hidup modern dengan kebutuhan biologis hewan. Sebuah pendekatan yang barangkali sederhana, tetapi relevan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan.
- Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet UNPAD)

