Temponews.web.id, Bandung – Upaya modernisasi peternakan ayam petelur melalui penerapan teknologi tepat guna terus dikembangkan. Politeknik Manufaktur Bandung (Polman Bandung) berkolaborasi dengan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) menghadirkan inovasi Smart Farm Living Lab, sebuah model peternakan ayam petelur cerdas yang mengintegrasikan teknologi otomatisasi, manajemen pakan presisi, pemanfaatan bahan pakan lokal, pengelolaan limbah, hingga pengolahan pascapanen telur.
Kegiatan ini dipimpin Mohammad Nurdin, S.T., M.A.B., periset Polman Bandung, dan melibatkan Dr. Romi Zamhir Islami, S.Pt., M.Si. dari Fapet Unpad dalam pengembangan pemberian pakan presisi, formulasi ransum, serta evaluasi performa ayam petelur.
“Program ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek 2026 melalui tema ‘Smart Farm Living Lab: Model Quadruple-Helix dalam Pengembangan Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat Desa’. Dan Program ini dikembangkan untuk menghadirkan hasil riset perguruan tinggi yang aplikatif, adaptif, dan bermanfaat langsung bagi peternak,” terang Ketua Tim Periset, Mohammad Nurdin, Senin, 26/10/2026 dalam Press releasenya.
Teknologi Cerdas yang Dapat Diadopsi Sesuai Kemampuan Peternak
Penting diketahui, bahwa Smart Farm Living Lab mengintegrasikan sistem pemberian pakan otomatis (automatic feeding system), pengumpulan telur otomatis (automatic egg collector), dan pengumpulan serta penanganan kotoran ayam (automatic manure handling system). Sistem-sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengelolaan peternakan.
Ketua Tim Periset, Mohammad Nurdin juga menjelaskan, bahwa teknologi tidak harus diterapkan sekaligus. “Harapan kami, Smart Farm Living Lab dapat menjadi model teknologi peternakan yang mudah diadopsi dan diadaptasi sesuai kebutuhan serta kemampuan peternak. Artinya, peternak tidak harus menerapkan seluruh sistem teknologi yang dikembangkan. Apabila kebutuhan utamanya adalah otomatisasi pemberian pakan, peternak dapat mengadopsi sistem tersebut saja. Demikian pula apabila permasalahannya berkaitan dengan pengelolaan limbah atau pengolahan pascapanen telur, teknologi tersebut dapat diterapkan sesuai kebutuhan,” jelas Nurdin.
Konsep modular ini memungkinkan peternak memodernisasi usaha secara bertahap tanpa harus mengganti seluruh sistem kandang yang dimiliki.
Integrasi Otomatisasi dengan Sistem Pemberian Pakan Presisi
Sementara itu, Tim Fapet Unpad, Dr. Romi Zamhir Islami menyampaikan, bahwa fokus kolaborasi Polman Bandung dan Fapet Unpad adalah memastikan otomatisasi pemberian pakan mendukung kebutuhan biologis ternak, bukan hanya mempermudah distribusi pakan.
“Pakan yang ideal bukan hanya pakan yang diberikan dalam jumlah yang tepat, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan nutrien ternak secara presisi. Pada ayam petelur, hal tersebut mencakup ketepatan jumlah konsumsi pakan harian serta keseimbangan kandungan nutrien, terutama protein, energi metabolis, asam amino esensial seperti metionin dan lisin, serta mineral kalsium dan fosfor yang sangat penting dalam mendukung produksi dan kualitas telur,” ungkap Dr. Romi Zamhir Islami.
Menurutnya, konsumsi pakan ayam petelur secara umum berkisar 110–120 gram per ekor per hari, tetapi kebutuhan aktual berbeda menurut strain, umur, fase produksi, lingkungan, dan komposisi ransum. Kisaran ini menjadi acuan awal pengembangan distribusi pakan otomatis yang terukur.
Selain itu, efisiensi tidak semata-mata dinilai dari berkurangnya jumlah pakan. Evaluasi juga mempertimbangkan Hen Day Egg Production (HDEP), konsumsi pakan aktual, efisiensi penggunaan pakan, kesehatan, dan kondisi fisiologis ayam. Dengan demikian, ketepatan distribusi dan ketepatan formulasi nutrisi perlu dikembangkan secara terpadu.
Kemandirian Pakan melalui Pemanfaatan Azolla dan Indigofera
Sebagai pengembangan tambahan yang melengkapi proposal, Tim Fapet Unpad juga mengembangkan formulasi ransum berbasis bahan baku lokal, antara lain Azolla dan Indigofera dalam bentuk tepung hijauan.
Pengembangan formulasi mempertimbangkan keseimbangan energi dan protein, asam amino esensial, kalsium dan fosfor, tingkat penggunaan bahan, serta potensi pengaruhnya terhadap konsumsi dan produksi telur.
“Pengembangan formulasi pakan berbasis bahan baku lokal merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian pakan. Melalui pemanfaatan Azolla dan Indigofera, kami ingin mengembangkan alternatif formulasi ransum yang memenuhi kebutuhan nutrisi ayam petelur, mempertimbangkan efisiensi biaya, dan dapat diadopsi oleh peternak sesuai ketersediaan sumber daya di wilayahnya,” beber Romi.
Pemanfaatan bahan lokal diarahkan sebagai alternatif komponen ransum yang tetap harus memenuhi kebutuhan nutrien dan diuji kelayakan teknis serta ekonominya.
Teknologi Tepung Telur untuk Meningkatkan Nilai Tambah
Smart Farm Living Lab turut mengembangkan teknologi pasca panen untuk mengolah telur menjadi tepung telur (egg powder). Diversifikasi ini diharapkan membuka peluang usaha baru bagi peternak dan koperasi serta memperluas pemanfaatan telur sebagai bahan baku pangan.
Saat ini kegiatan berada pada tahap perakitan dan pengembangan teknologi otomatisasi peternakan serta teknologi pengolahan pascapanen telur. Tahap berikutnya mencakup pengujian operasional, evaluasi kinerja, keamanan produk, dan penyempurnaan bersama pengguna.
Pengelolaan kotoran ayam juga diarahkan untuk pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik, sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Living Lab sebagai Wadah Kolaborasi Quadruple-Helix
Pendekatan Quadruple-Helix mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Polman Bandung berkontribusi pada rekayasa dan manufaktur peralatan; Fapet Unpad memperkuat nutrisi, pemeliharaan, dan evaluasi produksi ternak.
Program diarahkan untuk dikembangkan di Desa Mekarsaluyu, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung pada 27 Agustus sampai 10 Oktober 2026, dengan melibatkan masyarakat dan Koperasi Desa Merah Putih. Peternak dilibatkan sebagai mitra pengujian, pemberi masukan, dan calon pengguna inovasi.
Melalui living lab, kebutuhan pengguna, kemudahan operasi, biaya pemeliharaan, dan kelayakan penerapan dapat dievaluasi dalam kondisi peternakan nyata.
Menuju Model Peternakan Cerdas yang Terstandar dan Dapat Direplikasi
Dalam jangka panjang, Smart Farm Living Lab ditujukan menghasilkan model yang memiliki standar teknis dan operasional, meliputi pengoperasian otomatisasi, pengaturan pemberian pakan, pemantauan performa, pengelolaan limbah, dan pengolahan pascapanen.
Model modular memungkinkan peternak memilih inovasi yang paling relevan dengan kebutuhan dan kemampuan investasinya. Pengembangan pakan lokal melengkapi teknologi otomatisasi untuk mendukung efisiensi dan kemandirian usaha.
Melalui kolaborasi Polman Bandung dan Fapet Unpad, Smart Farm Living Lab diharapkan menjadi contoh integrasi teknologi manufaktur, ilmu nutrisi ternak, dan pemberdayaan masyarakat untuk membangun peternakan ayam petelur yang adaptif, produktif, efisien, dan berkelanjutan. *[Bestari/TN]

