Oleh : Mansyur
Ambisi mewujudkan ketahanan pangan nasional untuk meningkatkan derajat gizi masyarakat—termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)—diaktifkan di atas fondasi persusuan yang kian rapuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten mencatat bahwa ketergantungan Indonesia sangat kronis terhadap impor susu beserta berbagai derivatnya. Di saat yang bersamaan, model produksi susu kita itu berbasis sapi perah sub-tropis seperti Friesian Holstein (FH) telah membentur tembok batas ekologis dan ekonomisnya. Kita tersandera untuk mengejar produktivitas per ekor yang tinggi.
Selama puluhan tahun, persusuan nasional dikunci oleh paradigma tunggal: memaksa sapi bertipikal iklim dingin untuk berproduksi di wilayah tropis. Pendekatan berbasis klimatologis yang mengandalkan dataran tinggi yang sejuk sebagai sentra produksi kini tak lagi realistis. Lahan-lahan dataran tinggi tidak hanya makin sempit, tetapi juga mengalami eskalasi nilai akibat kompetisi sengit dengan sektor pariwisata dan properti. Peternak rakyat di dataran tinggi mencoba bertahan untuk tetap hidup diatas himpitan beban tersebut.
Kondisi ini diperparah oleh tren pemanasan global yang membuat iklim dunia kian panas dan ekstrem. Pada temperatur dan kelembapan tropis yang makin meningkat, sapi FH sangat rentan mengalami stres panas (heat stress). Dampaknya fatal dan sistemik: mulai dari penurunan konsumsi pakan, gangguan metabolisme, penurunan drastis produksi susu, hingga kemerosotan performa reproduksi dan daya tahan tubuh ternak. Memindahkan sapi FH ke dataran rendah dengan memodifikasi iklim mikro kandang melalui sistem closed house berpendingin justru membutuhkan investasi infrastruktur awal dan biaya energi harian yang melambung tinggi. Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh peternak yang memelihara 3 – 10 ekor sapi perah. Kita terjebak dalam perangkap produktivitas: mengejar volume produksi per ekor yang tinggi, tetapi dibayar dengan biaya kapital dan operasional yang membengkak.
Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman agroekosistem yang amat beragam, strategi keseragaman komoditas adalah sebuah kekeliruan struktural. Kebutuhan gizi anak-anak Indonesia untuk pertumbuhan tulang dan pembentukan kecerdasan tidak boleh digantungkan pada satu spesies yang rapuh di bawah ancaman krisis iklim tropis. Apalagi pada import. Jawaban atas tantangan ini terletak pada pemanfaatan keanekaragaman ternak perah non-sapi, yaitu kerbau, kambing, dan domba. Keistimewaan biologis ruminansia terletak pada kemampuannya memproses serat dan hijauan dedaunan menjadi protein hewani gizi tinggi. Parameter keberhasilan persusuan nasional sudah saatnya digeser: bukan sekadar produktivitas fisik per ekor, melainkan efisiensi dan nilai ekonomi bersih yang dihasilkan.
Geografis, analisis, dan zonasi agroekosistem
Menghadapi variabilitas geografi dan kenaikan suhu iklim, ternak perah non-sapi menawarkan adaptabilitas yang jauh lebih berdaya tahan. Kerbau perah, misalnya, mampu beradaptasi dengan baik di ekosistem basah maupun lahan marginal dataran rendah. Susu kerbau memiliki kadar solid dan kadar lemak yang lebih tinggi dibanding susu sapi, menghasilkan cita rasa yang lebih gurih serta nilai rendemen olahan—seperti keju dan mentega—yang sangat menguntungkan secara ekonomi.
Sementara itu, kambing dan domba perah memiliki efisiensi konversi pakan yang luar biasa terhadap dedaunan lokal, daya tahan tinggi terhadap pemanasan lingkungan, investasi modal awal yang terjangkau bagi peternak skala kecil, serta siklus reproduksi yang jauh lebih singkat. Secara nutrisi, ukuran molekul lemak pada susu kambing dan domba lebih kecil, menjadikannya lebih mudah dicerna oleh anak-anak serta kelompok masyarakat yang mengalami intoleransi laktosa. Begitu pula pada susu kerbau.
Jika ditilik secara analitis, lanskap pengolahan susu non-sapi menyimpan dinamika yang menarik. Kekuatan utamanya terletak pada ketahanan alami ternak terhadap temperatur tinggi dan kelembapan tropis tanpa risiko stres panas fatal, minimnya biaya kendali iklim kandang, serta kemampuan memanfaatkan limbah pertanian setempat tanpa ketergantungan pakan impor. Namun, kelemahannya terletak pada volume produksi susu per ekor per hari yang masih lebih rendah dibanding sapi FH pemuliaan intensif, serta belum terbangunnya rantai dingin (cold chain) dan jaringan pengumpul susu yang memadai. Peluangnya sangat terbuka lebar untuk mengisi pasokan penambahan gizi nasional berbasis komoditas lokal dan melayani pasar susu fungsional bernilai tambah tinggi. Tantangan terbesarnya ada pada persepsi konsumen yang masih terbiasa dengan karakteristik rasa susu sapi murni serta kelembagaan peternak non-sapi di tingkat tapak yang masih lemah.
Mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, pendekatan yang paling rasional bukanlah menerapkan satu pola baku untuk seluruh wilayah, melainkan melakukan pengelompokan komoditas berbasis kluster zonasi agroekosistem. Pada wilayah rawa dan lahan basah, pengembangan difokuskan pada kerbau perah yang memanfaatkan ketersediaan rumput rawa secara optimal. Pada wilayah dataran rendah kering dan kepulauan kecil, fokus dialihkan pada kambing dan domba perah yang tangguh terhadap cuaca gersang dan efisien memanfaatkan dedaunan pohon (browse plants). Sementara di wilayah pertanian intensif seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, model integrasi tanaman-ternak dapat diterapkan dengan memanfaatkan limbah perkebunan melalui sistem pemeliharaan terkandang. Strategi berbasis kluster dan zonasi ini akan menekan biaya logistik pakan antar-pulau karena pilihan ternak disesuaikan langsung dengan daya dukung vegetasi dan daya tahan termal di pulau masing-masing.
Berbagi peran pemangku kepentingan
Transformasi dari model persusuan mono-komoditas menuju model berbasis diversifikasi terzonasi memerlukan pembagian peran yang jelas. Peternak perlu mengonsolidasikan diri dalam wadah kelompok tani atau koperasi untuk meningkatkan daya tawar, menerapkan pemuliaan ternak lokal terencana, dan memformulasikan pakan berbasis biomassa lokal. Ilmuwan dan peneliti bertugas mengarahkan fokus riset pada pemuliaan genetik ternak perah lokal untuk meningkatkan kapasitas produksinya tanpa mengorbankan daya tahan iklim, menciptakan teknologi pengolahan susu hemat energi yang sesuai untuk daerah kepulauan, serta memetakan daya dukung pakan spesifik wilayah.
Terakhir, negarawan dan para pembuat kebijakan memegang kunci utama dengan menyusun regulasi inklusif yang memasukkan standar susu non-sapi ke dalam kebijakan pangan nasional dan pasokan MBG berbasis regionalisasi. Pemerintah juga perlu menyediakan akses permodalan yang ramah peternak serta membangun infrastruktur pengumpul dan pendingin susu di sentra-sentra non-sapi.
Indonesia itu tidak kekurangan potensi; kita hanya terlalu lama memaksakan satu standar tunggal di atas tanah dan iklim yang serba beragam. Dengan mengarusutamakan efisiensi ekonomi, zonasi wilayah yang adaptif terhadap krisis iklim, dan pemanfaatan keanekaragaman ternak perah lokal, ketahanan gizi bangsa dapat dibangun di atas pijakan yang jauh lebih kokoh, rasional, dan berkelanjutan.
- Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

