Oleh : Muhammad Reza Febriano
Generasi Z tumbuh di era digital dimana pencapaian kecil sekalipun mudah dipublikasikan dan diberi penghargaan yang kemudian memunculkan budaya self-reward: memberi hadiah pada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras atau sekadar untuk meredakan stres.
Validasi dan Kontrol Emosional
Bagi banyak anak muda, momen membeli barang atau pengalaman kecil setelah menyelesaikan tugas besar terasa layaknya upacara penutup yang memvalidasi usaha. Fenomena ini tercatat dalam sejumlah studi konsumen dan kajian yang dipaparkan Rick dan teman-temannya (2014) dalam Journal of Consumer Psychology yang berjudul “The Benefits of Retail Therapy: Making Purchase Decisions Reduces Residual Sadness” tentang retail therapy yang menunjukkan bahwa pembelian kadang memperbaiki suasana hati dan memberi rasa kontrol sementara.
Dari sisi psikologis, self-reward dapat berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi yang adaptif, dimana hadiah kecil mampu memperkuat motivasi, memberi jeda pemulihan, dan mencegah kelelahan jangka pendek bila dilakukan dalam batas wajar. Literatur psikologi konsumen dan studi kualitatif pada kelompok usia 18–23 tahun dengan judul “The Emotional Dimensions of Retail Therapy” yang dilakukan oleh Noor Afy Shovmayanti dan rekannya (2024) menunjukkan bentuk-bentuk retail therapy atau kegiatan membeli sesuatu yang bersifat non-kebutuhan yang memang termasuk self-rewarding shopping, dimana tindakan itu membantu memperbaiki mood dan memulihkan rasa kontrol yang sempat hilang. Namun penelitian juga menekankan bahwa efeknya sering bersifat sementara dan bisa memicu pola berulang jika sumber stres tidak diatasi.
Urgensi Literasi Finansial
Pernyataan profesor di bidang psikologi menunjukkan nada serupa dalam wawancara publik terkait kesehatan mental, seorang guru besar dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta), Prof. Dr. Rena Latifa, M.Psi. menegaskan bahwa perhatian pada kesejahteraan emosional Gen Z sangat penting, namun Gen Z juga perlu dibekali literasi finansial dan akses ke dukungan profesional agar coping atau regulasi stress lewat pembelian tidak menjadi satu-satunya strategi utama (10/10/2024, laman UIN Jakarta).
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulannya: self-reward bisa menjadi terapi emosional yang wajar dan bermanfaat bila dilakukan sadar, terukur, dan dilandasi perencanaan. Namun jika self-reward dipakai berulang sebagai pelarian dari kecemasan finansial, tekanan sosial, atau ketidakmampuan mengelola stres, ia berisiko menjadi pintu masuk ke perilaku konsumerisme.
Oleh karena itu rekomendasi praktisnya berangkat dari:
- Pisahkan rencana anggaran untuk “self reward”.
- Prioritaskan reward non-materi saat kondisi keuangan ketat.
- Cari strategi alternatif seperti: terapi, bersosialisasi, olahraga, keterampilan mindfulness.
- Tingkatkan literasi finansial sejak dini agar penghargaan pada diri sendiri tidak berujung menjadi beban di masa yang akan datang.

