Temponews.web.id, Garut — Musim kemarau selalu menyimpan kecemasan tersendiri bagi para peternak sapi perah di Kampung Sukagalih, Desa Giriawas, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Saat rumput lapangan mulai mengering dan produksi hijauan merosot tajam, bayang-bayang penurunan produksi susu hingga ancaman kelangsungan usaha pun ikut membayangi kandang-kandang mereka.
Namun, kecemasan itu perlahan mencair pada Sabtu, 25 Juli 2026 lalu. Di Aula Madrasah At-Taqwa, sebanyak 40 peternak yang tergabung dalam KSU KPGS Cikajang duduk bersama dengan penuh antusias. Mereka tidak sedang meratapi musim kering, melainkan menyerap ilmu baru dari rombongan dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) yang datang membawa solusi nyata.
Menghadang Paceklik Pakan Lewat Inovasi LEUIT Padjadjaran
Dipimpin oleh Dr. Romi Zamhir Islami, S.Pt., M.Si., Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Fapet Unpad hadir membawa program unggulan bernama Lumbung Edukasi untuk Inovasi Ternak (LEUIT) Padjadjaran. Program ini dirancang bukan sekadar memberi ceramah, tetapi mentransfer strategi jangka panjang agar ketersediaan pakan sapi perah tetap aman sepanjang tahun.
Dalam sesi pemaparan, tim mengenalkan berbagai varietas hijauan pakan unggul serta tanaman yang tangguh menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Peternak juga diperkenalkan pada kekuatan nutrisi dari tanaman leguminosa—seperti kaliandra, lamtoro, dan gamal—yang kaya protein untuk ternak.
Tak hanya itu, teknologi pengawetan hijauan melalui pembuatan silase turut dibongkar tuntas. Dengan teknik ini, kelebihan rumput di musim hujan dapat disimpan dan disulap menjadi cadangan pakan berkualitas tinggi saat musim kemarau menerjang.
“Harapan kami, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Giriawas ini, pengetahuan dan keterampilan peternak sapi perah dapat terus meningkat, khususnya dalam pengelolaan dan penyediaan pakan ternak. Dengan pengetahuan yang lebih baik, peternak diharapkan mampu menerapkannya sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan usaha dan kemajuan kelompok,” ungkap Dr. Romi di hadapan para peserta.

Ruang Diskusi yang Hidup dan Partisipatif
Suasana di Aula Madrasah At-Taqwa mendadak cair ketika sesi materi berganti menjadi diskusi kelompok. Ke-40 peternak dibagi ke dalam lima kelompok kecil untuk memetakan masalah nyata yang biasa mereka hadapi di kandang masing-masing, terutama saat kemarau panjang.
Di sinilah interaksi hangat terjalin. Alih-alih komunikasi satu arah, para peternak bebas membagikan pengalaman pahit-manis beternak sambil membedah alternatif solusi bersama para pakar Fapet Unpad. Pendekatan ini membuat para peserta lebih mendalami esensi pemilihan tanaman pakan, manajemen lumbung pakan, hingga trik-trik pengawetan rumput yang aplikatif.
Melalui program LEUIT Padjadjaran pula, Tim Dosen Fapet Unpad melakukan evaluasi awal dan akhir untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Ke depan, program ini diproyeksikan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan berlanjut ke aksi nyata berupa penanaman hijauan unggul langsung di lahan warga serta demonstrasi pembuatan silase di tingkat peternak.
Merajut Asa untuk Kemandirian Peternak Garut
Kolaborasi apik ini digawangi oleh deretan akademisi lintas keahlian Fapet Unpad yang terdiri dari Dr. Romi Zamhir Islami (Ketua), bersama Diding Latipudin, Hendy Setiyawan, Urip Rosani, Rahmad Fani, Ronnie Permana, Rahmat Hidayat, Atun Budiman, Abun, Lovita Adriani, Mansyur, dan Ujang Hidayat Tanuwiria.
Lebih dari sekadar membagikan ilmu, Dr. Romi berharap kegiatan ini menjadi pintu pembuka bagi kerja sama berkelanjutan antara kampus dan sentra peternakan di Kabupaten Garut. Dengan kapasitas yang kian matang, para peternak diharapkan mampu mengelola sumber daya wilayahnya secara mandiri, menjadikan kelompok mereka wadah yang tangguh untuk saling berbagi inovasi, serta menjaga roda industri sapi perah tetap berputar dari dataran tinggi Cikajang untuk Indonesia. *[RZI/TN]

