Oleh : Romi Zamhir Islami
Ketika berbicara tentang pakan ternak, nama rumput gajah, odot, atau leguminosa seperti indigofera mungkin lebih dahulu muncul. Hanjeli biasanya tidak masuk dalam daftar tersebut. Padahal, tanaman yang dikenal dengan nama ilmiah Coix lacryma-jobi L. ini menyimpan potensi yang cukup menarik. Selama ini hanjeli lebih banyak dikenal sebagai tanaman pangan alternatif. Bijinya dapat diolah menjadi berbagai bahan pangan dan telah lama dimanfaatkan di sejumlah daerah Asia. Namun, tanaman dari keluarga rumput-rumputan atau Poaceae ini sebenarnya juga menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan.
Di sinilah hanjeli menjadi menarik. Satu tanaman dapat memiliki lebih dari satu fungsi: menghasilkan bahan pangan sekaligus menyediakan biomassa untuk pakan ternak. Dari tanaman pangan ke sumber pakan. Hanjeli bukan tanaman baru bagi masyarakat Indonesia. Di Jawa Barat, tanaman ini bahkan telah lama dikenal dan dibudidayakan secara terbatas oleh masyarakat. Penelitian mengenai hanjeli di Jawa Barat menunjukkan bahwa tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan dan mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai tanaman alternatif.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap hanjeli juga mulai berkembang. Sebuah penelitian mengenai potensi nutrien hanjeli sebagai pakan ruminansia menunjukkan bahwa bagian daun mengandung bahan kering sekitar 86,73 persen dan protein kasar 8,10 persen. Batangnya memiliki bahan kering 87,05 persen dan protein kasar 7,94 persen.
Angka tersebut memang belum menjadikan hanjeli sebagai “super feed”. Namun, justru di situlah cara pandangnya perlu diubah. Pakan ternak tidak harus berasal dari satu tanaman dengan kandungan nutrien yang sempurna. Dalam praktiknya, ransum ternak merupakan kombinasi berbagai bahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Hanjeli dapat ditempatkan sebagai salah satu sumber hijauan atau bahan pakan yang dikombinasikan dengan sumber protein, energi, mineral, dan bahan pakan lainnya.
Yang menarik bukan hanya kandungan proteinnya. Salah satu kesalahan dalam menilai bahan pakan adalah hanya melihat angka protein kasar. Padahal, ternak tidak memakan angka. Ternak memakan bahan yang kemudian harus dicerna dan dimanfaatkan tubuh.Karena itu, kecernaan menjadi indikator penting.
Artinya, pembicaraan tentang hanjeli sebagai pakan tidak berhenti pada “berapa persen proteinnya”, tetapi perlu dilanjutkan pada pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan ternak?
Hanjeli dan persoalan pakan di tingkat peternak. Persoalan pakan di Indonesia bukan hanya soal kualitas. Ketersediaan juga menjadi masalah. Pada musim hujan, hijauan sering melimpah. Sebaliknya, ketika musim kemarau datang, peternak harus mencari berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan ternaknya. Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi tanaman pakan menjadi penting. Peternak tidak seharusnya hanya bergantung pada satu atau dua jenis hijauan.
Hanjeli dapat menjadi salah satu alternatif tersebut.
Apalagi tanaman ini mempunyai fungsi ganda. Bagian bijinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sementara bagian vegetatifnya berpotensi masuk ke sistem penyediaan pakan.
Konsep seperti ini sebenarnya sejalan dengan pertanian terintegrasi: satu tanaman menghasilkan lebih dari satu manfaat dan biomassa yang sebelumnya kurang bernilai dapat dimanfaatkan kembali. Jangan langsung mengatakan hanjeli sebagai pengganti rumput. Di sinilah kita perlu berhati-hati. Hanjeli belum bisa begitu saja disebut sebagai pengganti rumput gajah atau hijauan unggul lainnya. Data penelitian yang ada masih menunjukkan bahwa pemanfaatannya perlu ditempatkan dalam formulasi ransum yang tepat.
Penelitian yang ada justru menyarankan pemanfaatan hanjeli melalui kombinasi dengan bahan pakan lainnya dan teknologi pengolahan seperti hay, silase, wafer, maupun complete feed.
Dengan kata lain, masa depan hanjeli sebagai pakan bukan terletak pada pertanyaan “apakah hanjeli bisa menggantikan rumput?”, tetapi “seberapa besar hanjeli dapat dimanfaatkan dalam sistem pakan yang efisien?”. Pertanyaan kedua jauh lebih menarik untuk diteliti. Teknologi bisa mengubah nilai sebuah tanaman. Bahan pakan dengan kandungan nutrien sedang dapat mempunyai nilai yang lebih tinggi ketika diproses dengan teknologi yang tepat. Hanjeli dapat diarahkan untuk dibuat menjadi hay atau silase. Biomassanya juga berpeluang dimanfaatkan dalam bentuk complete feed atau produk pakan lainnya seperti wafer pakan.
Teknologi pengolahan dapat membantu memperpanjang masa simpan, mengurangi ketergantungan terhadap hijauan segar, dan membuka peluang pemanfaatan biomassa pada saat produksi tanaman sedang tinggi. Namun, setiap metode pengolahan tentu perlu diuji. Tidak semua perlakuan otomatis meningkatkan kualitas pakan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat perubahan kandungan serat, kecernaan, konsumsi, hingga performa ternak.
Budidayanya juga perlu diperhatikan
Tanaman dengan kandungan nutrien tinggi tetapi menghasilkan biomassa sangat sedikit belum tentu lebih menarik bagi peternak dibandingkan tanaman dengan kandungan nutrien sedang tetapi mampu menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dan mudah dibudidayakan.
Dari lahan hingga ke kendang. Masa depan hanjeli sebagai sumber pakan membutuhkan penelitian yang lebih lengkap. Yang tidak kalah penting adalah penelitian pada ternak secara langsung.
Apakah konsumsi ternak meningkat atau justru menurun? Bagaimana pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan? Bagaimana efisiensi penggunaan pakannya? Berapa tingkat penggunaan hanjeli yang optimal dalam ransum?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah hanjeli hanya menarik secara akademik atau benar-benar dapat diterapkan di tingkat peternak.
Hanjeli bukan tanaman ajaib, tetapi punya peluang
Bagi dunia peternakan, kehadiran tanaman seperti hanjeli memberi satu pesan penting: sumber pakan tidak selalu harus dicari dari tanaman yang sejak awal diberi label sebagai “tanaman pakan”.
Kadang-kadang, jawabannya justru ada di tanaman yang selama ini kita kenal untuk keperluan lain.
Hanjeli mungkin belum menjadi primadona pakan ternak. Tetapi dengan penelitian, teknologi pengolahan, dan sistem budidaya yang tepat, tanaman ini layak mendapatkan kesempatan untuk naik kelas—dari tanaman pangan alternatif menjadi salah satu komponen dalam diversifikasi sumber pakan ternak Indonesia.
- Penulis Merupakan Dosen Laboratorium Tanaman Makanan Ternak – Fakultas Peternakan UNPAD (Universitas Padjadjaran)

