Oleh: Romi Zamhir Islami

Ambisi pemerintah untuk mengejar swasembada susu nasional kembali menggelora. Dorongan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat sekaligus memangkas ketergantungan impor susu yang saban tahun membengkak.

Refleksi kebijakan yang paling umum terlihat adalah fokus pada penambahan populasi sapi. Pemerintah dan pelaku usaha berbondong-bondong merencanakan impor ribuan ekor sapi perah, membangun kandang-kandang baru, hingga mendorong peningkatan produksi per ekor.

Langkah tersebut tidak salah. Namun, ada satu pertanyaan krusial yang kerap terabaikan dalam hiruk-pikuk perencanaan tersebut: Lantas, apa yang akan dimakan oleh sapi-sapi itu nanti?

Pertanyaan ini terkesan remeh, padahal menjadi penentu hidup-matinya industri persusuan nasional. Sapi perah bukan sekadar ternak peliharaan; mereka adalah “mesin biologis” berproduksi tinggi yang membutuhkan pasokan pakan berkualitas secara ajek dan terukur setiap harinya. Semakin tinggi target produksi susu yang dipatok, semakin tinggi pula standar nutrisi pakan yang wajib dipenuhi.

Satu hal yang perlu disadari bersama: swasembada susu tidak pernah dimulai dari kandang, melainkan dari lahan pakan.

Meneropong Potensi Jagung Tebon

Untuk membangun fondasi industri susu yang tangguh, Indonesia perlu melirik komoditas pakan yang teruji. Salah satu yang paling berprospek adalah whole-plant corn atau di tingkat peternak populer dengan sebutan jagung tebon—yakni tanaman jagung yang dipanen dan dimanfaatkan secara utuh mulai dari batang, daun, kelobot, tongkol, hingga bijinya.

Mengapa jagung tebon? Jawabannya melampaui alasan praktis seperti kemudahan tanam atau produktivitas biomassa. Karakteristik nutrisi jagung tebon memiliki keunggulan ganda yang cocok dengan metabolisme sapi perah:

  1. Serat Rumen: Bagian vegetatif (batang dan daun) menyediakan serat kasar yang penting untuk menjaga kesehatan organ pencernaan (rumen).
  2. Pati Sumber Energi: Bagian generatif (biji dan tongkol) menyimpan pati (starch) yang menjadi pendorong utama produksi energi bagi sapi laktasi.

Dua fungsi mendasar ini hadir dalam satu rumpun tanaman. Hal inilah yang membedakan jagung tebon dari mayoritas rumput tropis. Kendati rumput tropis memiliki biomassa melimpah, kandungan serat sulit tercerna (lignin) cenderung membubung seiring bertambahnya umur tanaman. Sementara itu, keterbatasan kapasitas perut sapi tak memungkinkan mereka makan tanpa batas.

Jagung tebon hadir bukan untuk menyingkirkan rumput, melainkan melengkapi kerapatan energi harian. Isunya bukan lagi “jagung atau rumput”, melainkan bagaimana memadukan keduanya demi menciptakan ransum pakan paling efisien.

Milk per Hectare: Mengubah Tolok Ukur Keberhasilan

Selama ini, parameter keberhasilan produksi tanaman pakan di Indonesia masih terjebak pada angka tonase hijauan segar (fresh weight) per hektare. Paradigma lama ini sudah saatnya dikoreksi.

Hijauan segar sejatinya didominasi oleh kandungan air. Dua jenis tanaman bisa saja mencatatkan berat tonase harian yang identik, tetapi memiliki kadar bahan kering dan nutrisi yang berbeda jauh. Bagi seekor sapi perah, yang menentukan konversi susu bukanlah berapa liter air dari kebun yang masuk ke perutnya, melainkan seberapa banyak nutrien tercerna yang diserap tubuh.

Indikator keberhasilan pakan nasional perlu bertransformasi secara bertahap:

  • Tingkat Dasar: Ton hijauan segar per hektare.
  • Tingkat Menengah: Ton bahan kering (dry matter) dan kecukupan nutrien tercerna per hektare.
  • Tingkat Lanjut: Potensi produksi susu per hektare (milk per hectare).

Gagasan milk per hectare menuntut pelaku industri melihat tanaman pakan dari sudut pandang efisiensi lahan. Tanaman terbaik bukanlah yang fisiknya paling jangkung atau paling berat saat ditimbang basah, melainkan yang mampu menghasilkan nutrisi tercerna paling banyak dari luasan lahan yang sama.

Kemitraan Ekonomi: Ketika Petani Bertemu Peternak

Di luar nilai gizinya, jagung memiliki keunggulan sosial-ekonomi yang masif: petani Indonesia sudah sangat mahir membudidayakannya.

Memperkenalkan komoditas tanaman baru selalu diwarnai kurva pembelajaran (learning curve) yang memakan biaya dan waktu. Dengan memilih jagung, aspek teknis budidaya sudah dikuasai oleh mayoritas petani. Yang perlu diubah hanyalah orientasi pasar mereka.

Melalui skema pertanian kontrak (contract farming), petani tidak lagi sekadar memposisikan jagung sebagai penghasil biji pipil atau bahan pangan, melainkan sebagai komoditas industri pakan sapi perah:

  • Koperasi atau industri peternakan menetapkan standar varietas, umur panen, dan kualitas sejak awal.
  • Tanaman dipanen utuh lalu dibeli secara langsung dari petani.

Model bisnis terintegrasi ini menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan (win-win solution). Peternak tak perlu dibebani investasi pengadaan lahan pakan yang mahal, sementara petani mendapatkan kepastian pembeli (offtaker). Skema ini menjadi penawar dahaga yang sangat krusial, terutama di kawasan padat penduduk seperti Pulau Jawa di mana ketersediaan lahan kian terbatas.

Silase: Solusi ‘Menabung Pakan’ untuk Kepastian Industri

Tantangan lain dari industri persusuan adalah konsistensi pasokan. Sapi perah membutuhkan asupan pakan yang seragam 365 hari dalam setahun. Di sisi lain, panen tanaman pakan bersifat musiman dan memiliki jendela umur optimal yang cukup sempit.

Disinilah teknologi silase memegang peranan kunci.

Jagung tebon yang dipanen pada masa puncak nutrisinya dicacah, dipadatkan, dan difermentasi secara anaerob (kedap udara). Hasilnya adalah pakan berkualitas tinggi yang dapat disimpan berbulan-bulan tanpa menguapkan nilai gizinya.

Secara sederhana, silase adalah mekanisme “menabung pakan”. Lebih dari sekadar cadangan logistik, silase menawarkan standardisasi nutrisi harian. Fluktuasi mutu pakan akibat kebiasaan tradisional “ngarit” harian terbukti kerap memicu stres pencernaan pada sapi dan menurunkan produksi susu secara mendadak. Industri sapi perah berskala modern menghendaki kepastian dan kestabilan stok pakan semacam ini.

Peran Koperasi: Mengonsolidasikan Peternak Rakyat

Muncul kekhawatiran bahwa penerapan teknologi pakan presisi berbasis silase dan pemanenan mekanis hanya bisa dijangkau oleh korporasi ber-kapital besar. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Peternak rakyat dengan kepemilikan 3 hingga 5 ekor sapi tentu tak realistis diwajibkan membeli mesin pemanen (chopper) berbiaya ratusan juta rupiah atau membangun silo penyimpanan raksasa. Kuncinya terletak pada penguatan kelembagaan peternak itu sendiri.

Koperasi susu harus bertransformasi. Koperasi tak boleh lagi membatasi diri sekadar sebagai pengepul (collector) dan penyalur susu segar, melainkan naik kelas menjadi pengelola rantai pasok pakan (feed supply chain manager):

  1. Koperasi mengikat kontrak pasokan jagung tebon dengan kelompok petani di sekitar kawasan sentra.
  2. Alat pemanen dan fasilitas pengolahan silase dikelola secara komunal oleh koperasi.
  3. Silase terstandar disalurkan kepada anggota peternak rakyat secara konsisten.

Lewat konsolidasi kelembagaan ini, peternak skala kecil tetap dapat mengecap tingkat efisiensi pakan yang selama ini hanya dinikmati oleh peternak skala korporasi.

Epilog

Ibarat hendak menyajikan hidangan lezat, menambah jumlah tamu tanpa memastikan piring dan bahan makanannya tersedia adalah tindakan yang terburu-buru. Sapi perah adalah pengolah pakan menjadi susu; menambah jumlah sapi tanpa kepastian pakan bukanlah strategi swasembada yang berkelanjutan.

Sebelum melangkah lebih jauh menghitung alokasi anggaran impor jutaan ekor sapi, ada baiknya pemerintah dan para pemangku kepentingan menjawab satu pertanyaan mendasar: Berapa hektare lahan pakan berkualitas yang sudah benar-benar kita siapkan hari ini?

Masa depan persusuan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh megahnya bangunan kandang atau banyaknya sapi impor, melainkan dari apa yang berhasil kita tanam dan panen di atas tanah Nusantara.

  • Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version