Oleh : Firdaus Widyadana Rosyadi

Solidaritas di Tengah Bencana: Cermin Empati Bangsa

Beberapa hari ini kita mendengar adanya bencana alam yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. Musibah yang melanda ini tidak hanya menjadi sorotan perhatian lokal, namun dunia internasional juga turut berduka dan kerap memberikan bantuan kemanusiaan.

Dilansir dari Kompas.id (29/11), Elon Musk memberikan bantuan kemanusiaan melalui memberikan layanan internet Starlink secara gratis. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, hingga rakyat Palestina pun ikut berpartisipasi dalam bantuan kemanusiaan di Sumatera. Masyarakat lokal pun berbondong-bondong untuk memberikan galangan dana untuk masyarakat Sumatera dan Aceh yang terdampak bencana. Berbagai influencer, artis, pengusaha, hingga masyarakat turut memberikan sumbangsih, baik secara materi maupun relawan yang turun langsung ke daerah membantu masyarakat yang terdampak.

Akar Sejarah dan Makna Gotong Royong

Sebuah semangat gotong royong yang menjadi simbol budaya Indonesia dari zaman dahulu kala. Salah satunya saat masa Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan candi-candi, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan melibatkan ratusan hingga ribuan masyarakat hingga menjadi bangunan yang kita kenal saat ini. Budaya tolong-menolong sesama tetangga kerap kali kita jumpai hingga saat ini terutama di wilayah pedesaan.

Peristiwa 10 November 1945 yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan Nasional juga berasal dari semangat gotong-royong Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari penjajah. Tanpa adanya semangat gotong-royong, saat ini mungkin kita tidak lagi mengenal Indonesia dan Hari Pahlawan.

Sedangkan makna dari gotong-royong sendiri itu apa? Menurut Ir. Soekarno gotong-royong sendiri adalah pembantingan tulang Bersama, pemerasan keringat Bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Artinya apa? Kita melihat sendiri saat tetangga kita sakit, kita berbondong-bondong menjenguk kesana. Saat saudara, kerabat, maupun teman kita mengalami sebuah musibah, kita berbondong-bondong untuk menggalang bantuan untuk kemudian kita serahkan kepada orang-orang yang mengalami musibah tersebut. Ada pepatah di Jawa berupa naliko rekoso dipikol bareng-bareng yang mengedepankan rasa empati kepada sesama manusia.

Tantangan Era Kapitalisme Ekstrim

Pada generasi sekarang, kita semua dihadapkan oleh masa kapitalisme ekstrim. Siapapun yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin cepat ini akan tertinggal satu per satu. Pada akhirnya, seluruh elemen masyarakat akan fokus terhadap kepentingan diri masing-masing.

Lalu, apakah dengan kapitalisme ini gotong-royong akan memudar, bahkan hilang dari bumi nusantara ini? Disinilah peran kita sebagai masyarakat nusantara untuk menjaga budaya gotong-royong ini.

Relevansi Gotong Royong di Era Digital dan Berkelanjutan

Menurut saya, gotong-royong yang harus dikedepankan pada zaman sekarang ini adalah gotong-royong yang mendukung kemajuan secara berkelanjutan. Sebuah konsep gotong-royong di era digitalisasi yang berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan semangat masyarakat untuk memiliki keinginan maju dan berdaya saing tinggi. Kita tidak lagi hidup di era 1900-an dimana dengan hanya bekerja, kumpul, saling membantu sesimpel yang kita ketahui mengenai gotong royong yang terdapat pada buku pelajaran sekolah.

Tantangan yang dialami pada saat ini jauh lebih rumit dan butuh penyelesaian secara berkelanjutan. Bagaimana pada saat ini kita bisa saling bergotong-royong secara intelektual, pendidikan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Seluruh elemen bangsa seperti intelektual, konglomerat, ekonom, ilmuan, tokoh agama, dan masyarakat bisa saling berkolaborasi untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di wilayah Indonesia dan berkomitmen meningkatkan kualitas hidup setiap elemen masyarakat. Dan elemen tersebut di tingkat wilayah masing-masing bisa saling menyelesaikan permasalahan di wilayah masing-masing secara solutif dan berkelanjutan.

Kemandirian Masyarakat dan Solusi Nyata

Ketika elemen-elemen tersebut Bersatu, saya yakin masyarakat tidak akan bergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Namun yang perlu digarisbawahi disini adalah bukan berarti masyarakat anti pemerintah, akan tetapi masyarakat akan lebih piawai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, masyarakat akan lebih berpartisipasi dalam pembangunan negara, dan konsep penerapan SDGs sebagai konsep pembangunan keberlanjutan akan tercapai sepenuhnya. Jangan sampai pada akhirnya kita terlalu sibuk untuk mengomentari pemerintah, para ahli tanpa ada solusi dari setiap komentar yang diberikan.

Saya rasa semangat gotong-royong timbul saat setiap orang yang merasakan permasalahan di daerahnya sendiri dapat berkomentar dan juga memberikan suatu solusi yang nantinya dapat bermanfaat di kemudian hari. Kesadaran pribadi untuk ikut berpartisipasi menjaga lingkungan, dimulai dari hal terkecil seperti membuang sampah pada tempatnya, saling membantu siapapun yang ditemuinya di jalan, seperti tunawisma, dan memberikan edukasi inspiratif serta solutif terhadap golongan masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal.

Penutup: Ajakan untuk Berkontribusi

Mulailah melakukan kebaikan sebagai wujud gotong-royong dalam membangun bangsa Indonesia mencapai Indonesia Emas 2045 dengan caranya masing-masing.

  • Ketika mampu secara ekonomi, bantu masyarakat yang kurang secara ekonomi.
  • Ketika mampu secara pengetahuan, bagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat awam yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal maupun masyarakat yang tidak mengetahui suatu hal.
  • Apabila mampu secara hiburan, hiburlah dengan cara tersendiri untuk menghibur masyarakat yang terdampak musibah seperti yang dialami saudara kita di Sumatera.

Bantulah dengan cara kalian masing-masing agar gotong-royong tetap menjadi simbol khas bangsa Indonesia sebagai konsep adat untuk medukung kesejahteraan dan kemakmuran secara berkelanjutan.

# Penulis Merupakan Mahasiswa Akuakultur Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version