Oleh : Maria Irene Jessenya
Pilihan hidup untuk merantau adalah kunci untuk melihat luasnya dunia. Grace (bukan nama asli) beranjak dari sebuah sekolah di lereng kaki Gunung Merapi ke kota besar, yaitu Kota Surabaya. Kebiasaan jalan kaki ketika berangkat ke mana pun membuat Grace asing dengan padatnya jalan raya.
Bagi seorang pendatang, jalanan di Surabaya adalah sebuah fenomena ‘shock’ budaya. Ini bukan sekadar macet, tetapi sebuah arena kompetisi yang diwarnai klakson, serobot, dan manuver penuh risiko. Jika di Yogyakarta atau kota-kota yang lebih santai, lalu lintas bergerak dengan laju yang dapat diprediksi. Perbedaan dengan Kota Surabaya ialah setiap pengemudi seolah-olah terlibat dalam perlombaan nol-sum game (kalah-menang) yang sangat pribadi.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana Surabaya macet, tetapi mengapa warga Surabaya—yang dikenal cerdas, tegas, dan ulet dalam bisnis—gagal menerapkan logika yang sama baiknya saat berada di jalan raya?
Masalah utamanya adalah Kegagalan Logika Kolektif. Di mana-mana terjadi kekacauan yang menjadi bukti bahwa kepentingan pribadi (Logika Egois) secara fundamental menolak kemenangan Logika Bersama (Ketertiban). Fenomena ini harus dianalisis dari tiga sudut pandang kritis.
I. Dimensi Logika Egois: Rasionalisasi ‘Mencuri Waktu’
Lalu lintas Kota Surabaya dipercepat oleh etos kerja yang tinggi dan suhu udara yang sangat tinggi membuat masyarakat ingin menyerobot lalu lintas. Agresi di jalan adalah perwujudan Logika Egois yang murni.
A. Ilusi Keuntungan Sesaat
Pengemudi di Surabaya yang menyerobot bahu jalan, menerobos lampu kuning-merah, atau memotong antrian panjang melakukannya karena adanya rasionalisasi egois: Risiko kecil tertangkap ETLE/kecelakaan lebih kecil dibandingkan manfaat yang didapat (menghemat 30 detik). Logika ini cacat fatal. Pelanggaran 30 detik yang dilakukan satu orang memaksa ratusan kendaraan di lajur lain untuk mengerem atau tertunda, menciptakan efek domino. Pelaku mendapatkan keuntungan 30 detik, tetapi ia mencuri total 3.000 detik (dari 100 pengemudi lain). Ini adalah praktik pencurian waktu kolektif yang merugikan efisiensi kota secara total. Hal ini tidak hanya terjadi saat jalan raya sepi dan sempit, tetapi juga di jalan raya besar serta padat.
B. Bandwagon Effect (Kesesatan Ikut-ikutan)
Ketika volume kendaraan pribadi (terutama motor) sangat tinggi, pelanggaran cepat menjadi norma. Pengemudi berpikir, “Semua orang melawan arus di sini, jadi saya tidak akan disalahkan jika ikut.” Ini adalah kesesatan logika (ad populum). Kepatuhan tidak lagi didasarkan pada aturan hukum, tetapi pada tingginya angka ketidakpatuhan orang lain. Di Surabaya, ketidakdisiplinan massal telah menjadi pembenaran untuk bertindak sembarangan.
II. Dimensi Logika Sistem: SITS Melawan Primitif
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya sebenarnya telah menggunakan Sistem Kendali Lalu Lintas Kota (SITS) yang sangat canggih dan logis. Namun, sistem ini terpaksa berhadapan dengan mentalitas pengemudi yang primitif.
A. Penghapusan Countdown Timer (Lampu Merah)
Keputusan untuk menghilangkan angka hitung mundur di banyak lampu merah Surabaya adalah solusi logis terhadap perilaku irasional. Alat HItung Mundur dihilangkan karena pengemudi (terutama pengemudi muda yang cenderung agresif, menurut penelitian) akan melakukan ‘start dini’ (early start) sebelum lampu hijau. Sistem dipaksa beradaptasi: Logika SITS yang cerdas (mengubah durasi sinyal secara adaptif) lebih baik daripada menampilkan data statis yang justru memicu pelanggaran karena dipengaruhi naluri ingin cepat.
B. Logika Lokasi vs. Angka
Data kecelakaan dari Dinas Perhubungan Kota Surabaya menunjukkan faktor tata ruang (tipe jalan, keberadaan median) berkontribusi signifikan terhadap kecelakaan. Logika kolektif seharusnya mendorong warga untuk menghargai desain jalan tersebut. Namun, saat jalan dirancang untuk keamanan (misalnya, diberi median), Logika Egois muncul dan melihat median sebagai “penghalang” yang harus diterobos.
Kegagalan Logika Kolektif di Surabaya hanya bisa diperbaiki dengan mengganti kerangka berpikir, dengan:
- Mengganti “Logika Survival” menjadi “Logika Kooperatif”: Warga Surabaya harus sadar bahwa efisiensi total kota akan meningkat jika semua orang tertib. Jalanan yang tertib adalah aset kota yang mendukung kecepatan bisnis, bukan menghambatnya.
- Memaksimalkan Sanksi yang Tidak Terbantahkan: ETLE harus diperluas hingga ke sudut-sudut rawan. Ketika risiko tertangkap (Biaya) dibuat 100% pasti dan terasa berat, Logika Egois pengemudi akan dipaksa untuk menghitung ulang dan memilih kepatuhan.
- Memilih Transportasi Publik sebagai Pilihan Logis: Warga harus melihat Suroboyo Bus atau angkutan publik lainnya bukan sebagai opsi terakhir, tetapi sebagai pilihan yang logis untuk mengurangi kepadatan dan stres di jalan agar agresivitas masyarakat berkurang. Hal ini didukung karena adanya kebijakan dari Pemerintah Kota Surabaya.
Lalu lintas Surabaya adalah ujian kedewasaan. Untuk menjadi kota metropolitan yang sesungguhnya, warga Surabaya harus membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan Logika Egois di dalam diri, dan bersama-sama menciptakan Logika Kolektif yang tertib, beradab, dan efisien.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

