Oleh : Fahriansyah Mohammad Yusuf
Pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Ketua Dewan Komisioner (DK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan masyarakat, karena Menteri Keuangan memiliki peran sentral dalam menjaga ekonomi nasional. Pergantian Menteri Keuangan juga menimbulkan Pro-Kontra dari Ekonom.
Tiga bulan lebih sudah Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, banyak kebijakan yang sudah dilakukan oleh Purbaya untuk mendorong perekonomian nasional melalui berbagai sektor.
Salah satu kebijakan purbaya yang menonjol adalah, memindahkan dana pemerintah sebesar 200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA), menurutnya kondisi sistem keuangan saat ini tengah mengalami kekeringan likuiditas sehingga memperlambat laju ekonomi. Dampaknya, masyarakat kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kebijakan moneter dan fiskal belum berjalan optimal.
Menurut Ekonom Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., dalam pemindahan Rp.200 triliun bisa masuk akal. Hal ini mengingat ada dana negara yang mengendap di Bank Indonesia (BI), karena penyerapan anggaran lambat. Penempatannya ke bank dapat meningkatnya kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit, rasio likuiditas membaik, dan hambatan dana jangka pendek berkurang sehingga menurunkan hambatan likuiditas sesaat. “Ditambah dengan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rasio pinjaman (LDR) relatif masih memberi ruang, sehingga penambahan likuiditas dapat diserap”.
Arah kebijakan Purbaya menunjukkan pendekatan yang lebih berani dan pragmatis. Tidak hanya fokus pada stabilitas makro, namun juga berusaha memastikan likuiditas benar-benar sampai ke sektor riil. Karena di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti dan tantangan domestik, seperti perlambatan konsumsi serta tingginya biaya modal. Namun, kebijakan ini tetap perlu diimbangi dengan kehati-hatian dan transparansi, agar kebijakan ini tidak menimbulkan risiko jangka panjang terhadap stabilitas keuangan.
Harapan anak muda ataupun Gen-Z terhadap Menteri Keuangan Purbaya terletak pada kebijakan untuk jangka panjang. Tak hanya itu, pengelolaan keuangan negara yang tidak hanya stabil, namun juga berani mendorong inovasi, membuka lapangan kerja, serta memberi ruang bagi UMKM, startup hingga ekonomi kreatif untuk tumbuh.
Selain itu, Gen-Z berharap purbaya mampu memberikan transparansi dan komunikasi yang jujur. Bagi Gen-Z menteri keuangan tidak hanya membuat kebijakan untuk jangka panjang, tetapi mampu mengambil keputusan yang memahami keresahan generasi muda. Karena setiap kebijakan yang diambil oleh purbaya memiliki efek dalam perekonomian di Indonesia.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

