Oleh : Najwa Khairyah

Bulan Agustus biasanya identik tentang merah putih. Dengan lomba anak-anak balap karung, dan tentang parade kenegaraan untuk simbol kebanggaan. Namun tahun 2025 ini, Indonesia berubah warna. Dari merah putih, menjadi merah jambu. Dikarenanakan luka bersama dan rasa keberanian membara.

Fenomena Brave Pink (BP) dan Hero Green (HG) muncul tiba-tiba di dunia digital, mengubah foto profil jutaan warga menjadi simbol solidaritas baru. Dalam waktu sepuluh hari, halaman generator kampanye itu dikunjungi jutaan kali, dan warna pink serta hijau itu menyebar di TikTok dan X bagaikan gelombang sosial yang sudah tidak bisa dibendung. Bukan dari partai, bukan dari organisasi, tapi rakyat yang lelah, marah, dan akhirnya menemukan bahasa baru untuk protes.

Ketakutan Lama dalam Bungkus Baru

Namun dibalik estetika yang terkesan lembut itu, kekuasaan membaca sebagai sesuatu yang mengancam. Pihak otoritas buru-buru menuding gerakan ini sebagai bagian dari “revolusi warna”, istilah yang dulu dipakai untuk menuduh campur tangan asing dalam protes-protes politik. Tudingan itu datang tanpa bukti, namun cukup untuk membungkam banyak suara dengan dalih keamanan nasional.

Narasi semacam ini bukan hal baru. Dalam sejarah politik Indonesia, kritik yang terlalu keras sering dianggap subversif. Padahal, gerakan seperti Brave Pink justru lahir dari kegagalan negara menjawab persoalan domestik bukan karena pengaruh luar. Ketika harga kebutuhan pokok naik, aparat makin represif, dan ketimpangan makin terasa, rakyat akhirnya mencari cara lain untuk didengar. Dan kali ini, mereka memilih warna.

Ketakutan terhadap simbol justru menunjukkan satu hal, bahwa negara masih alergi terhadap kritik. Kita terlalu terbiasa mengidentikkan ketertiban dengan diam, padahal demokrasi yang sehat justru ditandai oleh keberanian warganya untuk berbicara, bahkan dengan bahasa yang berbeda bahkan dengan warna merah jambu.

Bahasa Baru dari Akar Rumput

Brave Pink bermula dari yang sosok sederhana, yaitu Ibu Ana, perempuan yang berdiri di depan barisan aparat dengan jilbab merah jambunya. beliau bukan aktivis profesional, bukan juga tokoh politik. Ia hanya seorang ibu yang kesal melihat ketidakadilan. Ucapannya kasar, emosinya mentah, tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Ibu Ana mewakili jutaan warga yang sudah terlalu lama merasa tak punya ruang untuk bicara.

Bahasa kasar Ibu Ana sempat dijadikan alasan untuk mendiskreditkan gerakan ini. Kritik terhadap DPR dan aparat dianggap tidak sopan, bahkan “tidak pantas”. Tapi ini hanyalah bentuk lain dari weaponization of decorum ketika moralitas dijadikan senjata untuk menyingkirkan suara rakyat kecil. Padahal demokrasi tidak seharusnya eksklusif bagi mereka yang fasih berbicara dengan tata krama politik elit.

Dan dalam hal ini, Fenomena Brave Pink mengajarkan satu hal penting, keberanian tidak selalu datang dari hal-hal yang besar seperti ruang konferensi pers atau ruang sidang parlemen. Kadang, juga bisa muncul dari seorang warga negara yang marah karena harus mencuci baju di air kotor, sementara para pejabat berdebat soal tunjangan.

Keberanian yang Lembut, Tapi Tegas

Melihat sisi filosofi nya warna pink selama ini diasosiasikan dengan kelembutan dan feminitas. Tapi melalui gerakan ini, pandangan berubah pink menjadi simbol keberanian yang lembut. Yang tidak berteriak, tapi juga tidak tunduk. Yang menolak kekerasan tanpa kehilangan daya gugatnya.

Gerakan Brave Pink dan Hero Green juga memperlihatkan kedewasaan baru masyarakat sipil Indonesia di era digital. Tanpa struktur formal, tanpa pemimpin tunggal, mereka bergerak secara desentralisasi dan organik. Di dunia digital yang rawan disinformasi, justru solidaritas emosional semacam inilah yang menjadi benteng yang kuat. Memperlihatkan bahwa keterlibatan publik tidak selalu harus berbentuk demonstrasi fisik. Kadang, dengan gerakan kecil seperti mengganti foto profil saja sudah cukup untuk menunjukkan sikap.

Dampaknya pun cukup nyata. Setelah tekanan publik memuncak, DPR memangkas tunjangan dan fasilitas, termasuk perumahan dan perjalanan dinas luar negeri. Langkah itu memang belum menjawab semua tuntutan rakyat, tapi cukup untuk menunjukkan satu hal yaitu suara masyarakat, bahkan yang disampaikan lewat warna, masih punya daya.

Ketika Simbol Menguji Negara

Namun di titik ini, kita perlu bertanya: apa yang sebenarnya membuat penguasa begitu resah? Apakah karena warna pink itu sendiri, atau karena warna itu menunjukkan bahwa rakyat sudah tak takut lagi?

Pemerintah tampak lebih sibuk mengatur narasi keamanan ketimbang mengurai substansi tuntutan publik. Kasus kekerasan aparat yang menewaskan Affan Kurniawan pengemudi ojek online yang menjadi simbol Hero Green belum terselesaikan. Reformasi internal TNI dan Polri yang diharapkan publik juga belum menunjukkan kemajuan berarti.

Kekuasaan yang bijak seharusnya tidak takut pada simbol. Ia seharusnya peka pada pesan di baliknya. Karena yang menakutkan bukanlah pink-nya, melainkan kemarahan yang membuat warna itu lahir.

Cermin Demokrasi Kita

Pada akhirnya, Brave Pink adalah cermin. Ia memantulkan wajah demokrasi Indonesia apa adanya lelah, penuh luka, tapi masih ingin berjuang. Gerakan ini tidak meminta kekuasaan, tidak pula menuntut revolusi. Hanya menuntut agar negara mendengarkan.

Ancaman terbesar bagi keamanan nasional bukan datang dari warna merah jambu, tapi dari pemerintah yang memilih menutup telinga. Jika negara terus menganggap protes sebagai ancaman, maka yang subversif bukan rakyatnya, melainkan sistem yang menolak dikritik.

Brave Pink bukan benih subversi. Ini adalah termometer demokrasi yang menunjukkan betapa panasnya kegelisahan rakyat saat negara gagal merespons. Dan tugas pemerintah bukan memecahkan termometernya, melainkan menurunkan panasnya.

Kalau Indonesia benar-benar berani,  Maka akan berhenti takut pada warna. Karena keberanian sejati bukan menekan suara rakyat, tapi mendengarkan mereka dengan hati terbuka bahkan ketika mereka berbicara lewat merah jambu.

Ø Penulis Merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version