Oleh : Cinta Alifia Permata Caysa Putri

Indonesia merupakan negara dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang menduduki peringkat 87 dari 157 negara pada tahun 2018, hal tersebut diungkapkan oleh Bank Dunia. Sedangkan Business World memaparkan bahwa SDM Indonesia berada pada peringkat 45 dari 63 negara.

Peringkat tersebut sangat amat tertinggal dari kedua negara tetangga yaitu Singapura yang berada pada peringkat 13 dan Malaysia pada peringkat 22. Hal tersebut tentu menjadi urgensi tersendiri bagi negara kita.

Salah satu faktor pendukung utama dalam penurunan kualitas SDM di Indonesia yaitu Stunting. Hal tersebut didukung oleh terjadinya penghambatan pada pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kekurangan gizi kronis. Anak-anak yang mengidap stunting mengalami risiko dengan angka yang terhitung cukup besar akan keterlambatan pertumbuhan fisik dan intelektual, sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam proses pembelajaran baik dalam akademik maupun non akademik serta memiliki risiko kesehatan yang berjangka panjang. Semua itu dapat menurunkan tingkat produktivitas pada masa yang akan datang sehingga potensi sumber daya manusianya pun kian menurun.

Di Indonesia, permasalahan ekonomi menjadi yang utama kurangnya pemenuhan gizi pada anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Raharja, U. W., dkk, (2019), balita yang berasal dari status keluarga yang memiliki tingkat ekonomi rendah dapat berisiko sebesar 3,182 kali lebih tinggi berpotensi terhadap kejadian stunting daripada balita yang berasal dari keluarga yang memiliki ketahanan pangan yang baik. Dikarenakan pendapatan orang tua yang kurang memadai membuat kebutuhan makan dengan gizi seimbang pun tak terpenuhi.

Rendah tingkat kesejahteraan hidup di Indonesia berpengaruh pada tingginya kasus stunting. Dalam hal ini pemerintah memberikan perhatian pada tingkat kualitas hidup sumber daya manusia di Indonesia, khusunya bagi anak baru lahir hingga usia remaja yang masih sangat butuh asupan gizi dimasa tumbuh kembangnya.

Dari adanya program MBG ini pemerintah ingin memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dengan gizi yang cukup sehingga dapat mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan membawa negara ini menuju Indonesia Emas pada tahun 2045. Ditengah generasi z dan alpha sekarang yang sangat dominan mengonsumsi makanan cepat saji dan kurangnya serat.

Program MBG ini pemerintah memberikan makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan masa tumbuh kembang anak yang mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam porsi yang seimbang. MBG ini juga diharapkan menjadi strategi edukasi gizi di sekolah agar generasi muda sadar akan pentingnya gizi yang seimbang.

Program ini sudah dilaksanakan di 38 provinsi yang ada di Indonesia, dibeberapa kota besar dapat dikatakan berhasil, namun tidak bisa dipungkiri berdasarkan berita aktual masih terdapat beberapa daerah yang mendapatkan MBG dengan porsi yang tidak semestinya, seperti pada video yang di unggah oleh akun bernama @happyeverafter702 yang ramai menjadi perbincangan. Video tersebut menunjukan salah seorang siswa sedang menunjukan menu MBG yang di bagikan pada sekolahnya, dimana potongan buah semangka yang sangat tipis menjadi sorotan.

Dapat disimpulkan terdapat oknum yang menjadikan program MBG ini peluang untuk pemotongan/korupsi anggaran APBN yang digunakan untuk mendanai program MBG ini agar dapat berjalan, masalah tersebut juga terjadi akibat kurangnya pengawasan yang ketat sampai pada penyaluran di daerah daerah.

Untuk mendukung keberhasilan program ini diperlukannya pengawasan yang ketat, sehingga tidak ada celah untuk para oknum-oknum nakal mengambil peluang korupsi pada anggaran APBN yang dikeluarkan secara besar oleh pemerintah guna jalannya program MBG.

Dengan pengawasan ketat yang dilakukan pemerintah diharapkan seluruh pihak yang terlibat, jumlah anggaran yang dirancang pemerintah dalam rangcangan APBN 2026 sebesar Rp.335 Triliun dapat dikelola mulai dari pemberian dana sampai pada pembuatan, dan penyaluran MBG di sekolah-sekolah dapat berkolaborasi secara transparan dan akuntable.

Program ini dapat diteruskan dengan menjadikan negara Brazil sebagai teladan. Brazil sendiri bukan hanya sebagai negara pengagas, namun Brazil juga membuktikan keberhasilannya dalam menjalankan program makan bergizi gratis yang sudah dilakukan sejak tahun 1995 dengan masif, transparan, dan berkelanjutan. Assunção, M. L. (2020). Antara tahun 1992, 2005, dan 2015, prevalensi stunting adalah 22,6%, 11,2%, dan 3,2% (penurunan sebesar 85,8%), sementara prevalensi kelebihan berat badan masing-masing adalah 6,9%, 7,5%, dan 14,9% (peningkatan sebesar 115,9%).

Jika dianalisis berdasarkan data dan kenyataan dilapangan lewat dokumentasi para penerima menerima MBG INI. Program dikategorikan berhasil sebagai catatan. Hal tersebut terjadi demikian, karena masih diperlukannya evaluasi guna keberlanjutan secara jangka panjang dan mencapai presentase angka stunting di Indonesia menurun dari tahun tahun sebelumnya. Dan tingkat Kesehatan dan prestasi siswa meningkat.

Sebagai generasi muda kita dapat mendukung keberlanjutan program pemerintah dengan cara mengawasi, serta mengkritisi dan menyebarkan informasi mengenai MBG sesuai fakta yang terjadi.

Kunci keberhasilan MBG terletak pada integritas semua pihak yang terlibat dalam program ini, agar tidak hanya sekedar program jangka pendek dan selesai begitu saja, namun memberikan dampak besar pada pembangunan Bangsa Indonesia, khususnya meningkatnya tingkat kesejahteraan serta kesehatan generasi muda sebagai agen perubahan Bangsa dan Negara Indonesia,.

> Penulis Merupakan Mahasiswa Perpajakan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Referensi :

  1. (2022, August 18). Pengaruh stunting terhadap perkembangan SDM. Demos Sutha UIN STS Jambi. https://demossutha.uinjambi.ac.id/pengaruh-stunting-terhadap-perkembangan-sdm/
  2. Sicca, S. P. (2023, January 25). Stunting menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kompas.com. https://health.kompas.com/read/23A25061200168/stunting-menurunkan-kualitas-sumber-daya-manusia-indonesia
  3. Sugiarto, E. C. (2019, June 25). Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Menuju Indonesia Unggul. Sekretariat Negara Republik Indonesia. https://www.setneg.go.id/baca/index/pembangunan_sumber_daya_manusia_sdm_menuju_indonesia_unggul
  4. Badan Gizi Nasional. (2025, Mei 7). Pentingnya Program MBG: Tingkatkan SDM dan Pencegahan Stunting. https://www.bgn.go.id/news/artikel/pentingnya-program-mbg-tingkatkan-sdm-dan-pencegahan-stunting#:~:text=Terjadi%20penurunan%20sebesar%201%2C7,kokoh%20untuk%20Indonesia%20Emas%202045
  5. Ferreira, H. da S., Albuquerque, G. T., dos Santos, T. R., Barbosa, R. de L., Cavalcante, A. L., Duarte, L. E. C., & de Assunção, M. L. (2020). Stunting and overweight among children in Northeast Brazil: Prevalence, trends (1992–2005–2015) and associated risk factors from repeated cross-sectional surveys. BMC Public Health, 20, 736. https://doi.org/10.1186/s12889-020-08869-1
  6. Wisnubroto, K. (2025, Mei 1). Belajar makan bergizi gratis hingga ke Negeri Samba. Indonesia.go.id. https://indonesia.go.id/kategori/editorial/9276/belajar-makan-bergizi-gratis-hingga-ke-negeri-samba?lang=1
  7. Video ini diunggah oleh akun TikTok @happyeverafter702, yang dapat diakses melalui: https://www.tiktok.com/@happyeverafter702/video/7543241272308305168
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version