Oleh : Emilin Garneta Lana

Beberapa minggu lagi kita sudah memasuki akhir tahun, yang dimana para mahasiswa di Indonesia akan berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya. Mereka dengan kesadaran penuh sudah merencanakan berbagai aktivitas di kampung halaman selama liburan akhir tahun.

Berbicara soal liburan, banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan, contohnya seperti pergi ke tempat wisata. Tempat wisata bukan hanya sekedar tempat untuk bersenang-senang seperti tempat bermain ataupun kebun binatang, tetapi tempat wisata juga dapat memberikan kita banyak ilmu pengetahuan baru, contohnya seperti museum.

Museum merupakan tempat penyimpanan barang-barang maupun cerita bersejarah. Dilansir dari Museum Pendidikan Nasional, museum sebagai wadah penjagaan dan pameran warisan budaya, bukan hanya tempat untuk menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga merupakan suatu perjalanan mendalam menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita. Bisa dibilang museum adalah tempat penyimpanan memori kolektif bangsa, karena disana tersimpan harta karun kisah perjalanan panjang peradaban yang membentuk jati diri bangsa hingga saat ini.

Namun mirisnya, mahasiswa zaman sekarang kurang memiliki minat dalam mengunjungi museum dan memilih untuk mengunjungi tempat-tempat yang hanya viral di media sosial. Padahal, museum justru memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir generasi muda. Melalui museum, mahasiswa dapat menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan realitas yang kongkrit, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada teks, tetapi berlanjut pada pengalaman.

Rendahnya minat mahasiswa untuk berkunjung ke museum ini dikarenakan adanya persepsi bahwa museum adalah tempat yang “kuno”, “membosankan”, dan “tidak relevan”. Mereka menganggap museum yang menyuguhkan sejarah itu “ketinggalan” karena vibe tradisionalnya, padahal justru itu yang membuat suatu budaya terasa “hidup” dan dekat dengan akar sejarah serta perjalanan masyarakatnya.

Mahasiswa justru lebih memilih hiburan instan daripada pengalaman yang membutuhkan refleksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan informasi yang serba teknologi dan digital ini, mahasiswa tidak selalu bisa menganalisis suatu hal secara mendalam.

Padahal, mengunjungi museum dapat melatih mahasiswa melakukan critical thinking secara alami, contohnya saat kita mengamati suatu benda peninggalan sejarah, kita dapat menciptakan sebuah pertanyaan seperti:

– Mengapa benda tersebut penting dalam jejak sejarah?

– Bagaimana peristiwa masa lalu tersebut berkaitan dengan masa kini?

Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti ini merupakan inti dari berpikir secara kritis. Museum menjadi tempat untuk refleksi diri bagi mahasiswa dan dapat menghubungkan peristiwa masa kini, masa lalu, dan masa depan secara logis.

Museum merupakan aset emas yang menyimpan sejuta budaya bangsa. Di sini, kita bisa melestarikan kembali budaya tanah air, karena setiap koleksi yang ditampilkan memiliki makna yang mendalam dan tidak hanya menjadi sebuah pameran biasa yang dipamerkan tanpa ada alasan.

Sebagai mahasiswa, berkunjung ke museum juga membuat saya berpikir bahwa pelestarian budaya bukan hanya peran seniman ataupun pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat yang kelak akan menjadi pewarisnya. Tanpa kesadaran kritis, museum hanya akan menjadi ruang sunyi yang terputus dari kehidupan sehari-hari. Museum bukan hanyalah alternatif tempat wisata biasa, tetapi juga merupakan cara sederhana untuk melestarikan budaya yang dapat membangun kemegahan bangsa.

  • Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Referensi :

  • Museum Pendidikan Nasional. (2023). Mengunjungi Museum: Gerbang Pemahaman Budaya. Museum Pendidikan Nasional. https://museumpendidikannasional.upi.edu/mengunjungi-museum-gerbang-pemahaman-budaya/
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version