Oleh : Pakula Prilo

Saat Hujan Tak Lagi Murni

Saya selalu menyukai hujan, karena ada sensasi dingin, sejuk , rileks, seperti dapat jeda dari bisingnya dunia. Tapi belakangan, saya mulai bertanya, “Apa benar hujan yang jatuh hari ini masih bersih ?” Pertanyaan itu muncul setelah membaca sejumlah riset yang, jujur saja, membuat saya agak kaget.  Penelitian Brahney et al. (2020) menunjukkan bahwa mikroplastik bisa turun dari atmosfer bahkan di kawasan pegunungan terpencil. Kalau tempat sehening itu saja bisa kena, apa kabar kota-kota besar di Indonesia? Rasanya semua yang tinggal di daerah urban pasti mulai bertanya hal yang sama: apa yang sebenarnya turun bersama rintik yang kita anggap menyegarkan itu?

Seorang peneliti atmosfer dari Utah State University pernah menulis, “We’ve plasticized the atmosphere.” Dan saya pikir… ya, kedengarannya memang seperti itu.

Kok Bisa Ada Plastik di Hujan?

Mungkin beberapa dari kita mengira mikroplastik hanya ada di laut atau sungai. Tapi sejumlah jurnal menjelaskan bahwa partikel plastik ultrahalus sangat mudah terangkat ke udara. Bisa dari gesekan ban kendaraan (Abbasi et al., 2023), dari serat pakaian yang ikut terbang ketika dijemur (De Falco et al., 2021), sampai dari pembakaran sampah plastik yang jujur saja masih sering kita temui di sekitar kita. Begitu partikel-partikel ini naik, angin membawa mereka kesana-kemari, menumpuk di atmosfer, lalu ikut “turun” ketika hujan. Sederhana dan menyeramkan pada saat yang sama.

Kalau dipikir-pikir, ironis juga. Plastik yang kita buang, kita bakar, atau kita abaikan, kini kembali ke kita. Bukan sebagai botol atau kantong, tapi sebagai debu mikroskopis yang kita hirup, kita minum, dan mungkin sudah ada dalam tubuh kita.

Dampaknya ke Tubuh: Kita Sedang Jadi Eksperimen Berjalan

Fakta satu hal: belum semua dampak mikroplastik ke tubuh manusia itu pasti. Tapi bukan berarti semuanya aman-aman saja. Justru sebaliknya ilmu kesehatan kini mulai menemukan potensi risiko yang nggak bisa kita anggap remeh. Leslie et al. (2022), lewat artikel di Environment International, untuk pertama kalinya menemukan mikroplastik dalam darah manusia. Kemudian ragam studi lain menyebutkan potensi:

  • inflamasi jaringan (Schwabl et al., 2019),
  • stres oksidatif,
  • gangguan hormonal akibat bahan aditif plastik (Hermabessiere et al., 2017),
  • hingga kemungkinan efek jangka panjang pada sistem pernapasan (Wang et al., 2021).

Dan semua temuan ini muncul bahkan sebelum kita meneliti efek jangka panjang dari mikroplastik yang masuk lewat hujan.

Kalau saya boleh jujur, di titik ini saya merasa kita sedang “menebak-nebak sambil menunggu bukti” tapi bukti itu nanti datangnya setelah banyak orang terpapar.

Apakah ini Hanya Masalah Kota Besar?

Bukan. Dan justru itu yang bikin isu ini penting.

Studi Allen et al. (2019) memantau hujan mikroplastik di Pyrenees, daerah pegunungan jauh dari aktivitas manusia. Hasilnya? Tetap ada mikroplastik, terbawa angin dari kota hingga ratusan kilometer. Artinya, mikroplastik di hujan bukan hanya urusan metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya. Desa terpencil pun bisa kena, hanya bedanya kita belum melakukan pengukuran saja.

Penelitian di Asia Tenggara oleh Lestari & Trihadiningrum (2019) juga menegaskan bahwa atmosfer Asia adalah salah satu “koridor polusi plastik” terbesar akibat urbanisasi cepat dan pembakaran sampah. Rasanya ini relevan banget dengan konteks Indonesia.

Jadi, kalau ada pembaca yang tinggal di daerah non-urban dan berpikir “kayaknya ini bukan masalah saya”, mungkin sudah waktunya kita mempertanyakan lagi anggapan itu.

Kalau Begitu, Kita Harus Apa?

Bagian ini biasanya jadi ajang solusi yang muluk-muluk. Tapi saya ingin sesuatu yang lebih membumi, lebih jujur, dan lebih dekat dengan hidup kita.

  1. Kurangi pembakaran plastik

Ini langkah paling langsung. Banyak jurnal menegaskan bahwa pembakaran sampah adalah salah satu penyumbang terbesar mikroplastik atmosfer.

Saya paham, tidak semua daerah punya fasilitas pengelolaan sampah layak. Tapi membakar plastik sama saja seperti melemparkannya ke udara lalu menunggu ia kembali lewat hujan.

  1. Tekstil sintetis itu masalah besar

Serat mikro dari pakaian adalah penyumbang mikroplastik atmosfer yang cukup signifikan.

Bukan berarti kita harus membuang semua baju polyester. Tapi mungkin kita mulai bisa:

  • mengurangi pemakaian yang tidak perlu,
  • tidak mengocok pakaian terlalu keras saat mencuci,
  • atau mempertimbangkan bahan natural ketika membeli pakaian baru
  1. Dorong riset lokal

Ini penting. Kita butuh data di lebih banyak kota. Bukan hanya Jakarta. Bukan hanya Surabaya.

Kita berhak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hujan kita.

Nah, bagian ini saya ingin lemparkan kembali ke pembaca:

Kalau pun riset ini butuh dukungan dana, perhatian publik, atau tekanan ke pemerintah, apakah kita sebagai warga siap ikut mendorongnya? Atau kita menunggu sampai dampaknya terasa di tubuh kita sendiri?

Kita Sedang Hidup di Dunia yang Kita Bentuk Sendiri

Ketika membaca semua jurnal tentang mikroplastik hujan, saya sempat merasa sedih bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa sebagian besar masalah ini berasal dari perilaku kita sendiri. Kita yang pakai plastik, kita yang membakar sampah, kita yang mencuci pakaian sintetis, kita yang buang kantong tanpa pikir panjang.

Jadi, sebenarnya ini bukan sekadar cerita tentang hujan plastik.

Ini cerita tentang kita.

Dan mungkin, lewat opini ini, saya ingin mengajak semua pembaca untuk berhenti sebentar, melihat hujan berikutnya, dan bertanya dalam hati:

“Apa yang sebenarnya jatuh hari ini?”

Kalau kita mulai bertanya, mungkin dari situlah perubahan dimulai.

  • Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Referensi

  1. Abbasi, S., Turner, A., & Jansson, A. (2023). Atmospheric tire wear particles: sources, dispersion, and environmental implications. Environmental Pollution, 321, 121102.
  2. Allen, S., Allen, D., Phoenix, V. R., et al. (2019). Atmospheric transport and deposition of microplastics in a remote mountain catchment. Nature Geoscience, 12(5), 339–344.
  3. Brahney, J., Hallerud, M., Heim, E., Prank, M., & Sukumaran, S. (2020). Plastic rain in protected areas of the United States. Science, 368(6496), 1257–1260.
  4. De Falco, F., Gentile, G., Di Pace, E., et al. (2021). The contribution of washing processes of synthetic clothes to microplastic pollution. Environmental Science and Pollution Research, 28(8), 1061–1072.
  5. Hermabessiere, L., et al. (2017). Microplastics in the environment: behavior, fate, and effects on biota. Marine Pollution Bulletin, 119(1), 27–35.
  6. Leslie, H. A., et al. (2022). Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood. Environment International, 163, 107199.
  7. Lestari, P., & Trihadiningrum, Y. (2019). The impact of open burning of household waste on the atmospheric environment in Indonesia. Journal of Environmental Management, 230, 1–12.
  8. Schwabl, P., et al. (2019). Detection of various microplastics in human stool. Annals of Internal Medicine, 171(7), 453–457.
  9. Wang, J., Coffin, S., Sun, C., et al. (2021). Respiratory exposure to airborne microplastics: implications for human health. Environmental Science & Technology Letters, 8(8), 735–742.
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version