Menjadi orang hebat tidak selalu menghadapi tantangan di zaman sekarang. Banyak orang muda yang mahir dalam teknologi, pemilik bisnis online yang sukses di usia muda, atau profesional yang sukses dalam karirnya.

Menurut Anang Sugeng dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Di Indonesia (2016), bahwa perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada.

Dunia digital sekarang memungkinkan siapapun yang memiliki kemampuan untuk menjadi terkenal, viral, atau memiliki peluang besar. Tapi sayangnya, seiring dengan kemajuan itu, banyak orang mulai lupa tentang moralitas. Sementara moralitas dan sikap yang benar mungkin lebih penting daripada kemampuan dan keakraban yang diperlukan untuk menjadi hebat, kemampuan dan keakraban tampaknya cukup untuk menjadi hebat.

Padahal, seseorang tidak akan pernah benar-benar dihargai meskipun memiliki etika. Dia mungkin sedikit berhasil, tetapi jika dia tidak memiliki moral yang baik, masalah akan datang cepat atau lambat. Etika bukan hanya peraturan resmi organisasi atau kantor; itu juga dasar untuk menentukan etika dalam setiap tindakan profesional. Semua profesi, termasuk jurnalis, dokter, guru, pegawai kantor, polisi, influencer, atau bahkan pedagang kaki lima, membutuhkan etika.

Etika Mulai Ditinggalkan

Di zaman saat ini yang serba dengan teknologi, sosial media menjadi kebutuhan penting bagi banyak orang. Tak jarang kita selalu terhubung dengan dunia luar melalui media sosial. Hubungan beragam yang dibangun dengan orang yang sudah dikenal, kerabat, relasi, ataupun pihak-pihak yang belum kita kenal dan baru diketahui lewat dunia maya. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Tuty Mutiah, Ilmah Albar, Fitriyanto, dan A. Rafiq (2023), dalam karya ilmiahnya berjudul Pengaruh Etika Profesi terhadap Kinerja Karyawan di Era Digita.

Masalahnya saat ini adalah semakin banyak individu yang terjebak dalam budaya instan. Semuanya cepat, menyebar, dan murah. Orang rela melakukan apapun hanya untuk terlihat keren, mendapatkan pengikut, atau mendapatkan posisi yang tinggi. Padahal, tidak ada jalan yang cepat yang benar.

Kasus saling sikut antar teman kantor meningkat ditempat kerja. Orang-orang tertentu menjelekkan orang lain untuk cari muka ke atasan mereka. Ada orang yang berpura-pura benar, tetapi sebenarnya mereka melakukan kesalahan demi keselamatan mereka sendiri. Selain itu, dalam dunia bisnis, ada banyak bisnis yang memanipulasi harga, menipu pelanggan, atau bahkan merusak produk saingan untuk mendapatkan keuntungan. Ini terjadi karena orang lebih tertarik pada hasil daripada cara mencapainya.

Orang-orang di media sosial yang seharusnya menjadi contoh, seperti tokoh publik, influencer, atau profesional terkenal, seringkali membuat konten kontroversial, berbicara seenaknya, dan menyebarkan hoaks untuk menjadi viral. Untuk mengejar sensasi, etika profesional malah diabaikan.

Oleh karena itu, kepercayaan masyarakat semakin berkurang. Kelakuan segelintir orang menyebabkan reputasi profesi tertentu tercemar. Selain itu, lingkungan kerja menjadi tidak sehat, penuh dengan konflik dan persaingan yang tidak sehat. Masalah etika karyawan dapat menyebabkan perusahaan rugi atau kehilangan klien.

Balik Ke Nilai Etika Profesi

Sangat penting bagi setiap profesi untuk mengembalikan nilai-nilai etika supaya situasi ini tidak menjadi lebih buruk. Pertama-tama, organisasi, lembaga, dan lembaga pemerintah harus tegas menerapkan kode etik profesi. Tidak hanya menjadi peraturan yang dibaca saat memulai pekerjaan, tetapi juga diterapkan di lapangan. Tanpa mempertimbangkan jabatan, status, atau relasi, pelanggaran apapun harus ditangani.

Kedua, pendidikan etika profesional harus terus diajarkan, bukan hanya di kelas, tetapi juga di tempat kerja, seminar, dan kelompok masyarakat. Tidak hanya mengajarkan orang tentang bagaimana melakukan pekerjaan dan mencapai tujuan, tetapi juga mengajarkan mereka cara bertindak dengan benar dalam situasi apapun. Dilatih dan diingatkan terus-menerus dapat membangun karakter yang baik.

Ketiga, peran yang dimainkan oleh masyarakat juga penting. Jangan gampang kagum dengan orang yang luar biasa yang berperilaku buruk. Publik harus lebih berani menolak profesional atau influencer yang tidak bermoral. Karena perilaku buruk itu dianggap normal setelah lama dibiarkan.

Yang tidak kalah penting, setiap orang harus memiliki kesadaran diri. Jangan pernah merasa diri Anda lebih baik dari segalanya, apapun kehebatannya. Tetap rendah hati, tetap jujur, dan percaya bahwa kesuksesan tanpa etika sama aja seperti membangun rumah megah diatas tanah yang rapuh: cepat atau lambat akan runtuh.

Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Manajemen, dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)- Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Diantaranya:
1. Ester Junita Giawa
2. Vivi Novella Br Milala
3. Delis Ignasia Sito
4. Agnes Berliana Silalahi
5. Helena Sihotang, S.E., M.M

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version