Temponews.web.id, Kudus – Kelompok 204 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berlokasi di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menjalankan Program Kerja (Proker) bertajuk “Green Innovation Project: Langkah Nyata untuk Gerakan Hijau”. Program ini bertujuan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui cara-cara kreatif dan inovatif.

​Ketua KKN 204 UNS, Septian Dwi Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa Proker ini berfokus pada dua kegiatan utama, yaitu pelatihan ecoprint dan pembuatan eco enzyme. Kedua kegiatan ini menjadi bagian dari enam program kerja KKN 204 UNS di bidang pendidikan, yang menyasar siswa di SD dan SMP setempat.

​”Kegiatan ini sengaja menyasar siswa SD dan SMP setempat, karena mereka merupakan generasi muda yang masih dalam proses pembentukan karakter. Diharapkan edukasi mengenai pengolahan sampah organik melalui eco enzyme, dan kreativitas ramah lingkungan lewat ecoprint dapat menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini dan menjadi kebiasaan positif hingga dewasa,” kata Septian, Rabu (10/09/2025).

​Ecoprint: Seni Ramah Lingkungan dengan Sentuhan Alam

​Pelatihan ecoprint diadakan pada 19 Juli 2025 di SMP Negeri 2 Jekulo, melibatkan siswa kelas VIII. Program ini memperkenalkan teknik pewarnaan kain menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan batang tumbuhan untuk menciptakan motif unik dan ramah lingkungan.

​Hana Fathimatuz Zahra, Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS, dan koordinator program ecoprint ini, menjelaskan bahwa prosesnya cukup sederhana. Bagian tumbuhan ditempelkan pada kain, dilapisi plastik, lalu dipukul agar pigmennya menempel. Kain kemudian direndam dalam larutan tawas agar warnanya lebih awet dan tidak mudah pudar.

​”Melalui pelatihan ecoprint, mahasiswa KKN 204 UNS tidak hanya menanamkan nilai kepedulian lingkungan, tetapi juga mendorong kreativitas serta membuka wawasan baru bagi generasi muda mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujar Septian.

​Eco Enzyme: Mengubah Limbah Dapur Menjadi Cairan Serbaguna

​Kegiatan eco enzyme dilaksanakan pada 5 Agustus 2025 di SD Negeri 9 Tanjungrejo, dengan peserta siswa kelas VI. Pelatihan ini mengajarkan praktik mengolah limbah organik rumah tangga menjadi cairan serbaguna yang bernilai guna tinggi.

​Sofia Putri Khaylila, Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNS, yang menjadi koordinator program eco enzyme, bertanggung jawab memberikan penjelasan ilmiah tentang proses fermentasi. Ia memandu siswa untuk mencampurkan air, sampah organik (buah dan sayuran), serta gula jawa dengan perbandingan 10:3:1. Setelah melalui proses fermentasi selama kurang lebih tiga bulan, campuran ini akan berubah menjadi cairan berwarna cokelat gelap dengan aroma asam segar.

​Cairan eco enzyme ini memiliki beragam manfaat, mulai dari pembersih alami untuk rumah, pupuk cair, pestisida alami, hingga agen pelestarian lingkungan yang dapat membersihkan air tercemar. “Produk eco enzyme ini sangat ramah lingkungan dan membantu mengurangi volume sampah rumah tangga,” bebernya.

​Apresiasi dari Sekolah dan Harapan untuk Gerakan Hijau

​Pihak sekolah menyambut positif kegiatan ini. Wakil Kepala Sekolah SMP 2 Jekulo, Pak Puji, mengungkapkan antusiasme para siswa karena ini adalah pengalaman baru bagi mereka. “Ilmu yang diberikan benar-benar bermanfaat dan memberikan wawasan baru bagi siswa kami,” tuturnya.

​Kehadiran 10 Mahasiswa KKN 204 UNS ini tidak hanya memperkenalkan metode pembelajaran inovatif, tetapi juga menumbuhkan semangat baru bagi guru dan siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dari Desa Tanjungrejo, mahasiswa KKN UNS Kelompok 204 membuktikan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengolah limbah organik dan memanfaatkan daun di sekitar.

Septian berharap, eco enzyme dan ecoprint dapat menjadi awal gerakan hijau yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 12 tentang konsumsi, dan produksi yang bertanggung jawab, juga SDGs 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim, serta SDGs 15 tentang menjaga ekosistem daratan.

“Semoga gerakan ini terus tumbuh tidak hanya di lingkup sekolah, tetapi juga di hati setiap generasi muda,” pungkas Septian penuh harap. *[UNS/TN]

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version