Temponews.web.id, Surabaya – Mahasiswa bukan hanya agen perubahan di lingkungan kampus, tetapi juga di ruang-ruang sosial tempat masyarakat membangun kehidupan sehari-hari. Semangat itulah yang dibawa oleh Kelompok 6 Kelas PDB (Pembelajaran Dasar Bersama) 55 Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ketika melaksanakan Proyek Kebangsaan bertema “Kearifan Lokal,” pada Sabtu (25/10/2025), di Balai RW.06 Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Dengan menerapkan visi “Menumbuhkan semangat kewirausahaan sosial berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan potensi alam Indonesia secara inovatif dan amanah”, program ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat rasa kebermaknaan mahasiswa sebagai bagian dari pembangunan bangsa.

Kegiatan ini secara khusus diarahkan untuk ibu-ibu Kader Surabaya Hebat (KSH), yang merupakan kelompok masyarakat yang selama ini berperan penting sebagai penggerak edukasi dan kesehatan di lingkungan masyarakat. Melalui pemberdayaan yang tepat, ibu-ibu KSH diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada warga lainnya, sehingga dampaknya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Menggabungkan Tradisi Herbal dan Edukasi Masyarakat

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara yang kaya akan tanaman herbal. Banyak diantaranya sudah digunakan sejak masa nenek moyang untuk menjaga kesehatan keluarga. Namun, perkembangan zaman membuat sebagian masyarakat mulai bergantung pada produk-produk kesehatan pabrikan yang tidak selalu ramah di kantong ataupun lingkungan. Perubahan gaya hidup ini membuat potensi tanaman obat keluarga (TOGA) sering kali terlupakan.

Untuk mengembalikan nilai kearifan lokal tersebut, Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR memperkenalkan konsep obat kumur herbal yang dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti cengkeh, daun rosemary, dan kayu manis. Setiap bahan memiliki fungsi spesifik, mulai dari sifat antibakteri, antioksidan, antiseptik alami, hingga kemampuannya menciptakan sensasi kesegaran di mulut. Penjelasan ini tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan prinsip kesehatan mulut sehingga peserta memahami relevansinya.

Dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah dan tradisi herbal, Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR ingin menunjukkan bahwa solusi kesehatan tidak harus mahal atau bergantung pada produk pabrikan, tetapi dapat dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan kekayaan alam lokal yang mudah ditemukan.

Menyederhanakan Ilmu Menjadi Pengetahuan Praktis

Tahap awal kegiatan dimulai dengan penyampaian materi dasar mengenai pentingnya menjaga kebersihan mulut. Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR menjelaskan keterkaitan antara kesehatan mulut dan kesehatan tubuh secara umum, seperti risiko gigi berlubang, infeksi, bahkan penyakit sistemik yang dapat muncul akibat kelalaian menjaga kebersihan mulut.

Materi edukasi disampaikan dengan mengutamakan kejelasan dan kesederhanaan bahasa. Setiap informasi dikaitkan dengan kondisi nyata sehari-hari yang sering dialami para ibu, misalnya bau mulut pada anak-anak, gigi sensitif, atau kebiasaan jarang berkumur setelah makan. Pendekatan seperti ini membuat peserta mampu memahami konsep ilmiah secara logis, tanpa merasa terbebani oleh istilah medis yang rumit.

Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR ini juga memperkenalkan prinsip dasar tentang bagaimana herbal bekerja didalam tubuh, termasuk mekanisme anti bakteri yang dimiliki bahan tertentu. Penyampaian ilmu secara sederhana dan relevan membuat sesi edukasi terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta.

Memahami Kebutuhan dan Kebiasaan Masyarakat

Sebelum masuk ke tahap praktik, Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR melakukan wawancara interaktif kepada peserta. Wawancara ini dilakukan secara santai dan terarah, dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman awal ibu-ibu KSH tentang kesehatan mulut, serta kebiasaan mereka dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut di rumah.

Beberapa peserta mengaku jarang menggunakan obat kumur karena menganggapnya sebagai produk sekunder yang tidak terlalu penting. Ada juga yang merasa obat kumur pabrikan memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga tidak menjadi prioritas. Temuan-temuan seperti ini membantu Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR menyesuaikan penyampaian materi, sehingga lebih relevan dengan kebutuhan peserta.

Selain itu, wawancara memberikan ruang kepada peserta untuk bercerita tentang pengalaman mereka menggunakan bahan herbal. Sebagian besar mengaku mengenal beberapa jenis tanaman herbal tetapi belum pernah mengolahnya menjadi produk kesehatan. Temuan ini menjadi pedoman penting yang membuat proses pembelajaran menjadi lebih partisipatif dan kontekstual.

Belajar Melalui Pengalaman

Setelah memahami dasar teori, peserta diajak untuk langsung mempraktikkan pembuatan obat kumur herbal. Sesi ini menjadi momen paling ditunggu, karena peserta dapat mempelajari keterampilan baru secara langsung. Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR memberikan demonstrasi secara runtut mulai dari proses perendaman bahan, pencampuran minyak esensial, hingga teknik penyaringan dan penyimpanan larutan agar tetap higienis.

Suasana kegiatan menjadi lebih hidup ketika setiap ibu-ibu KSH mulai mencoba membuat larutan mereka sendiri. Mereka saling bertanya, berdiskusi, dan mencoba membandingkan aroma hasil olahan masing-masing. Pendampingan Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR dalam proses ini memastikan setiap peserta memahami tahapan dengan benar.

Membangun Interaksi yang Menghangatkan

Setelah praktik selesai, sesi tanya jawab dibuka dengan suasana yang meriah. Berbagai pertanyaan bermunculan, mulai dari cara menyimpan obat kumur herbal, berapa lama efeknya bertahan, keamanan penggunaan pada anak-anak, hingga alternatif bahan yang dapat digunakan ketika ada salah satu bahan yang sulit ditemukan.

Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan informatif. Untuk meningkatkan antusiasme, panitia menyediakan doorprize bagi peserta yang aktif bertanya. Gelak tawa dan antusiasme peserta membuat sesi ini menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dalam kegiatan.

Menemukan Potensi Baru dari Hal yang Sederhana

Pada akhir acara, Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pesan dan kesan. Banyak ibu-ibu merasa bahwa kegiatan ini sangat membuka wawasan mereka mengenai manfaat herbal. Selama ini mereka hanya mengenal bahan-bahan tersebut sebagai bumbu dapur atau tanaman hias, tetapi ternyata dapat diolah menjadi produk kesehatan yang bernilai tinggi.

Beberapa peserta bahkan menyatakan tertarik menjadikan obat kumur herbal sebagai peluang usaha rumahan, terutama karena bahan-bahannya mudah diperoleh dan proses pembuatannya tidak rumit. Testimoni seperti ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan peluang ekonomi kecil bagi masyarakat.

Bukti Keberhasilan Pemberdayaan

Untuk memastikan bahwa kegiatan benar-benar memberikan dampak, Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR menyebarkan angket evaluasi kepada peserta. Dari hasil angket, 80% peserta menyatakan kegiatan ini sangat bermanfaat, sementara 20% lainnya menyatakan bermanfaat. Dalam aspek penyampaian materi, 80% peserta menilai penyampaian Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR sangat baik, dan sisanya menilai baik.

Dari sisi pemahaman, 60% peserta merasa sangat paham mengenai pentingnya kebersihan mulut setelah mengikuti kegiatan, dan 40% menyatakan paham. Yang paling membanggakan, 90% peserta merasa mampu membuat obat kumur herbal secara mandiri setelah mengikuti sesi praktik. Data ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan masyarakat.

Menghidupkan Nilai Pancasila dan Mendukung SDGs

Nadin Nur Al Rafah, selaku Ketua Kelompok 6 Kelas PDB 55 UNAIR menyampaikan, bahwa Projek Kebangsaan ini bukan hanya sekadar kegiatan edukasi, tetapi juga menjadi wujud nyata penerapan nilai-nilai Pancasila. Nilai gotong royong terlihat dari kerja sama mahasiswa dan masyarakat, nilai musyawarah tercermin dalam diskusi dan tanya jawab yang terbuka, sementara nilai keadilan sosial tampak dalam upaya memberikan manfaat yang merata kepada seluruh peserta.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu ;

  • SDGs 3 : Kehidupan Sehat dan Sejahtera — Meningkatkan kesehatan mulut masyarakat.
  • SDGs 4 : Pendidikan Berkualitas — Memberikan edukasi dan pelatihan keterampilan.
  • SDGs 12 : Konsumsi dan produksi yang Bertanggung Jawab — Menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan.

“Pendekatan yang selaras dengan Pancasila dan SDGs menjadikan kegiatan ini memiliki dampak tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga pada lingkungan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat,” jelas Nadin Nur Al Rafah, Minggu (30/11/2025).

Kesimpulan

Melalui pendekatan yang terstruktur, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, dan memanfaatkan potensi kearifan lokal, mahasiswa Universitas Airlangga berhasil melaksanakan kegiatan pemberdayaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif. Proyek Kebangsaan ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, bila dipadukan dengan nilai-nilai lokal dan semangat kolaborasi, mampu menghasilkan perubahan nyata. Bahkan, perubahan itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti cara membuat dan menggunakan obat kumur herbal alami. *[SWP/TN]

  • Pewarta : Septianda Wihensa Pratama, Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya
  • Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi

Referensi :

  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025). Keanekaragaman hayati aset berharga Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.go.id/keanekaragaman-hayati-aset-berharga-indonesia/
    dan selebihnya bersumber dari hasil pengamatan langsung
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version