Oleh : Romi Zamhir Islami
Seiring meningkatnya harga bahan pakan unggas seperti jagung dan bungkil kedelai, para peternak mulai mencari alternatif yang lebih murah namun tetap bergizi. Salah satu solusi yang kini banyak dikembangkan, terutama di kalangan peternak kecil dan menengah, adalah tepung hijau yang berasal dari daun-daunan yang mudah ditemukan di sekitar kita, tepung hijau menjadi inovasi sederhana yang mampu menjawab tantangan pakan secara ekonomis dan berkelanjutan.
Tepung hijau atau green feed meal pada dasarnya adalah daun atau bagian hijau tanaman yang dikeringkan dan dihaluskan hingga menjadi bubuk. Beberapa jenis tanaman yang umum digunakan antara lain daun indigofera, lamtoro, kaliandra, daun kelor, hingga daun singkong. Bahan-bahan ini bukan hanya mudah tumbuh di iklim tropis, tetapi juga memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi — terutama protein, vitamin A, dan mineral esensial.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daun indigofera, misalnya, bisa memiliki kadar protein kasar lebih dari 25% menurut Nuraini, dkk (2014). Kandungan ini membuatnya sangat potensial sebagai pengganti sebagian bahan pakan komersial. Selain protein tinggi hiajuan ini banyak mengandung betakaroten dan juga mineral.
Adapun proses pembuatan tepung hijau relatif sederhana. Daun yang sudah dipilih dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering, kemudian digiling hingga menjadi bubuk halus. Dalam bentuk ini, tepung hijau lebih mudah dicampurkan ke dalam ransum pakan, memiliki daya simpan yang lebih lama, dan bisa digunakan kapan saja, termasuk saat musim kemarau ketika hijauan segar sulit didapat.
Lalu dari segi penggunaannya, tepung hijau umumnya ditambahkan kedalam ransum dengan persentase sekitar 3% hingga 8% dari total campuran pakan, tergantung jenis daun dan umur unggas. Jika digunakan secara tepat, tepung hijau mampu meningkatkan efisiensi pakan dan memperbaiki kualitas produk, seperti warna kuning telur yang lebih cerah, karena kandungan karotenoid alami dalam daun. Pembatasan ini di lakukan mengingat hijauan ini memiliki serat kasar yg cukup tinggi dan kandungan anti nutrisi yang cukup tinggi juga. Selain itu juga pemberian yang berlebihan bisa menurunkan palatbilitas pakan.

Pada ayam broiler, pemberian tepung hijau harus dilakukan secara hati-hati. Untuk anak ayam usia 0 hingga 3 minggu (fase starter), sebaiknya tidak lebih dari 3% dari total ransum, karena sistem pencernaan mereka masih sangat sensitif. Memasuki fase grower (usia 4–6 minggu), ayam broiler dapat mengonsumsi tepung hijauan hingga 5%, tergantung dari jenis daunnya dan cara pengolahannya.
Sementara itu, ayam petelur lebih toleran terhadap serat. Pada masa remaja (pullets), mereka bisa diberi campuran tepung hijau hingga 6%, dan pada fase produksi telur, dosisnya bisa ditingkatkan menjadi 4–8%, terutama jika daun yang digunakan memiliki kandungan nutrisi tinggi dan kadar anti-nutrien rendah, seperti daun kelor atau indigofera muda.
Untuk unggas lokal seperti ayam kampung, apalagi yang dipelihara secara semi-intensif atau organik, toleransi terhadap hijauan jauh lebih tinggi. Mereka bisa diberi tepung hijau dalam ransum hingga 10%, asalkan dicampur dengan bahan pakan lain agar tetap seimbang. Begitu juga dengan itik atau bebek petelur, yang dapat menerima campuran tepung hijau sekitar 3–6% tanpa gangguan berarti pada performa produksinya.
Di banyak daerah, pengembangan tepung hijau tidak hanya memberi solusi nutrisi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan peternakan lokal yang mandiri dan berbasis sumber daya alam sekitar. Peternak mulai menanam sendiri tanaman penghasil daun pakan, membuat silase atau tepung hijau, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.
Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD)

Sumber :
Nuraini, H., Wina, E., & Yulistiani, D. (2014).
Kandungan nutrien dan nilai kecernaan in vitro hijauan Indigofera zollingeriana yang dipanen pada umur berbeda.
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 19(3): 173–180.

