Oleh: Romi Zamhir Islami
Di banyak desa, pemandangan para peternak yang berjalan sambil memanggul sabit untuk mengarit rumput masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi ini adalah simbol ketekunan dan kerja keras. Namun, di balik romantisme itu, ada realitas yang tak bisa diabaikan: mengandalkan rumput liar dari alam membuat peternakan rentan terhadap perubahan musim, kualitas pakan yang tak menentu, dan kelelahan harian.
Mengandalkan pakan dari alam berarti bergantung sepenuhnya pada apa yang tumbuh tanpa campur tangan manusia. Saat musim hujan, rumput mungkin tersedia melimpah. Namun, begitu kemarau tiba, pencarian rumput bisa menjadi perjalanan panjang dan melelahkan, bahkan sering kali sia-sia. Rumput yang didapat pun sering kali sudah tua, berserat tinggi, atau bercampur gulma berbahaya bagi ternak. Akibatnya, produktivitas ternak menurun, dan biaya perawatan justru meningkat.
Investasi Jangka Panjang untuk Kualitas Pakan
Dari sisi kandungan nutrisi, rumput hasil budidaya jelas lebih mudah dikendalikan kualitasnya. Peternak bisa memilih varietas unggul yang memiliki kandungan protein kasar 10–16% dan serat kasar yang relatif rendah, sehingga lebih mudah dicerna dan mendukung pertumbuhan ternak. Sebaliknya, rumput liar dari alam umumnya memiliki variasi nutrisi yang besar, bahkan sering kali proteinnya kurang dari 8% jika dipanen terlalu tua. Dalam jangka panjang, ketidakteraturan kualitas rumput ini dapat menghambat performa produksi.
Memang, ada sumber hijauan lain dari limbah pertanian seperti jerami padi, batang jagung, atau daun singkong. Meskipun ketersediaannya melimpah dan bisa menekan biaya pakan, kandungan nutrisinya sering kali rendah dan seratnya tinggi. Jika digunakan tanpa pengolahan seperti fermentasi, limbah pertanian hanya cocok sebagai pakan tambahan, bukan sumber utama, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dan protein harian ternak.

Budidaya Rumput: Lebih dari Sekadar Pakan
Budidaya rumput pakan menawarkan jalan yang berbeda, yaitu sebuah langkah menuju kemandirian pakan. Dengan menanam rumput unggul seperti rumput gajah atau odot, peternak bisa menentukan sendiri kapan waktu panen terbaik, memastikan kualitas nutrisi tetap optimal. Lahan di sekitar rumah atau dekat kandang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu dan tenaga yang biasanya habis di jalan bisa dialihkan untuk perawatan ternak atau mengembangkan usaha lain.
Lebih dari sekadar efisiensi, budidaya rumput juga adalah investasi jangka panjang. Ketika pakan tersedia sepanjang tahun, risiko kematian ternak menurun, pertumbuhan lebih cepat, dan hasil produksi—baik daging maupun susu—meningkat. Peternakan menjadi lebih tahan terhadap gejolak cuaca, perubahan iklim, bahkan alih fungsi lahan yang semakin menggerus area padang rumput liar.
Bahkan, bagi sebagian orang, budidaya rumput bukan hanya solusi pakan, tetapi juga ladang usaha yang menguntungkan. Permintaan hijauan berkualitas dari peternak yang tidak memiliki lahan cukup terus meningkat. Seorang “petani rumput” bisa memasok pakan segar atau olahan seperti silase ke peternak lain dengan harga yang kompetitif. Di beberapa daerah, usaha ini berkembang menjadi bisnis rumput skala kecil hingga menengah yang mampu menghasilkan pendapatan harian tanpa harus memelihara ternak sendiri.
Jalan Mandiri untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Memang, ada yang beranggapan bahwa mengarit dari alam adalah cara paling hemat karena tak perlu membeli bibit atau memelihara lahan. Tapi hemat di awal sering berarti mahal di belakang. Setiap hari yang dihabiskan untuk mencari rumput liar adalah waktu yang hilang untuk membangun masa depan peternakan yang lebih stabil.
Jika ingin peternakan terus bertahan di tengah tantangan zaman, sudah saatnya kita memandang budidaya rumput bukan sebagai pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah dunia yang berubah cepat, kemandirian pakan adalah fondasi utama keberlanjutan. Bagi peternak, memiliki lahan hijauan sendiri bukan sekadar soal rumput—itu adalah soal masa depan.
Penulis Merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD)

