Oleh : Frida Dwi Lestari
Di balik setiap tindakan medis, ada hal sederhana yang sering terlupakan: Bagaimana cara kita berbicara dengan pasien?. Di Puskesmas Keputih, Kota Surabaya, hal ini terasa nyata lewat cara perawat menyapa pasien dengan ramah, menatap dengan tulus, dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Itu bukan sekadar sopan santun ataupun formalitas — tapi bagian dari bentuk nyata penerapan komunikasi terapeutik, Dimana konsep penting tersebut baru saja saya pelajari di kelas. Melalui wawancara dengan salah satu tenaga Kesehatan disana, yaitu dengan Bapak Wahyu bin Kaderi, saya mulai memahami bahwa teori yang awalnya terdengar “Akademis dan sekadar Formalitas” itu, ternyata hidup dan sangat relevan di lapangan.
“Kadang pasien datang bukan cuma butuh obat aja, tapi juga perlu ketenangan. Kita bisa bantu dengan sekadar tersenyum tulus dan menanyakan keluhan dan kabarnya, sehingga pertanyaan sederhana tersebut bisa jadi obat pertama sebelum obat sebenarnya dikasih,” kata Bapak Wahyu sambil tersenyum (Wawancara pribadi, Minggu, 12 Oktober 2025).
Sebenarnya, apa itu komunikasi tereupatik?
Dalam salah satu mata kuliah yang di tempuh oleh mahasiswa keperawatan, komunikasi terapeutik dijelaskan sebagai proses interaksi yang dilakukan dengan sadar dan terencana antara perawat dan pasien dengan tujuan membantu pasien memahami perasaannya, menerima kondisinya, dan menemukan ketenangan (Jusliawati et al., 2023).
Komunikasi ini melibatkan empati, mendengarkan aktif, dan kehadiran emosional — tiga unsur utama yang membangun kepercayaan dan meningkatkan kepuasan pasien (Rohayati et al., 2023).
Bentuk penerapan sederhananya dapat berupa:
- Menyapa pasien dengan nada hangat,
- Menatap dengan kontak mata yang menenangkan,
- Mendengarkan tanpa menyela,
- Mengulang kembali ucapan pasien untuk menunjukkan bahwa perawat benar-benar memahami.
Penelitian terbaru bahkan menegaskan bahwa komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap kepuasan, kepercayaan dan ketenangan pasien di berbagai fasilitas kesehatan (Aulia et al., 2024).

Ketika Teori Bertemu Realita di Puskesmas
Melalui wawancara dan observasi, saya melihat bagaimana konsep komunikasi terapeutik benar-benar diterapkan oleh para perawat di Puskesmas Keputih. Misalnya, saat menghadapi pasien lansia yang takut disuntik, perawat menenangkan dengan suara lembut dan candaan ringan. Ketika pasien datang dengan keluhan berulang, perawat tetap sabar mendengarkan karena memahami bahwa keluhan itu tak selalu soal fisik, tapi juga emosi.
Hal ini sejalan dengan penelitian Nabila et al. (2024) yang menyebutkan bahwa faktor pengetahuan dan sikap profesional perawat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi terapeutik. Semakin tinggi kesadaran perawat terhadap pentingnya komunikasi ini, semakin positif pula pengalaman pasien terhadap layanan kesehatan yang mereka terima.
“Yang penting itu sabar dan dengerin dulu,” ujar Om Wahyu. Ditambahkannya “Kalau pasien udah merasa dipahami dan percaya ke lawan bicara, biasanya mereka jadi lebih mudah diajak kerja sama,” Imbuhnya.
Pandangan Kritis dan Reflektif
Sebagai mahasiswa keperawatan, saya menyadari bahwa komunikasi terapeutik bukan sekadar senyum dan kata-kata baik. Ia menuntut profesionalitas, kesadaran emosional, dan kemampuan untuk menjaga batas antara empati dan simpati (Siti Nurlatifah & Simamora, 2022).
Dosen di kelas pun menekankan bahwa perawat harus mampu menghadirkan diri secara penuh didepan pasien — mendengarkan dengan hati, bukan hanya dengan telinga.
Namun dalam praktiknya, tantangan muncul ketika kondisi puskesmas sedang padat atau pasien datang dengan emosi tinggi. Disinilah kualitas komunikasi terapeutik diuji: apakah perawat masih bisa tetap sabar, empatik, dan profesional di tengah tekanan waktu dan situasi?
Penelitian terbaru menegaskan bahwa komunikasi terapeutik bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga refleksi dari nilai kemanusiaan perawat itu sendiri (Jusliawati et al., 2023).
Dari wawancara dengan Om Wahyu, saya belajar bahwa kata-kata yang baik bisa menjadi terapi, dan komunikasi yang empatik bisa menjadi awal dari kesembuhan. Komunikasi terapeutik bukan teori yang sulit — ia adalah seni untuk menjadi manusia yang hadir sepenuhnya bagi manusia lain.
“Pasien kadang cuma butuh didengar,” kata Om Wahyu pelan. Lanjutnya “Kalau kita bisa hadir buat mereka, setengah sembuhnya udah di situ karena mereka sudah bisa tenang dan percaya.”
Catatan Reflektif Mahasiswa
Setelah mempelajari teori komunikasi terapeutik di kelas dan melihat penerapannya langsung di lapangan, saya jadi memahami satu hal sederhana:
Menjadi perawat bukan sekadar memberi obat, tapi juga memberikan rasa aman.
Dan rasa aman itu, sering kali, dimulai dari satu hal kecil — sebuah sapaan hangat dan komunikasi yang tulus.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Daftar Pustaka:
- Aulia, M. R., Fauziyah, N., & Adiutama, N. M. (2024). Differences in patient satisfaction regarding nurses’ therapeutic communication in class I, II, and III in patient rooms at RSUD Subang. Journal of Vocational Nursing, 5(2). https://e-journal.unair.ac.id/JoViN/article/view/58593
- Jusliawati, H., Haskas, Y., & Fauzia, L. (2023). Hubungan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien di RSUD Labuang Baji Makassar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan (JIMPK), 3(4), 62–67. https://jurnal.stikesnh.ac.id/index.php/jimpk/article/view/931
- Nabila, I., Mardiana, N., & Fitri, N. (2024). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat di ruang rawat inap RS Jiwa dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Keperawatan Sistahana, 10(1). https://jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id/index.php/SISTHANA/article/view/1643
- Rohayati, I., Ratnah, I., & Simamora, R. S. (2023). The relationship between therapeutic communication and the application of caring behavior for nursing students at STIKES Medistra Indonesia. Jurnal Medicare, 3(3). https://medicare.renaciptamandiri.org/index.php/medicare/article/view/90
- Siti Nurlatifah, & Simamora, R. S. (2022). Hubungan pengetahuan dengan kemampuan komunikasi terapeutik dalam praktik klinik keperawatan mahasiswa STIKES Medistra Indonesia. Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia, 6(1). https://journal.mandiracendikia.com/index.php/ojs3/article/view/3
- Wawancara pribadi dengan Wahyu, Perawat Puskesmas Keputih, Surabaya. (2025, Oktober 12).

