Oleh : Surya Hadi Muharam
Beberapa hari lalu, nama SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, mendadak viral. Ratusan siswanya memilih mogok sekolah setelah seorang teman mereka ditampar oleh kepala sekolah karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah.
Video dan kabar itu cepat menyebar di media sosial. Dalam hitungan jam, ribuan komentar muncul — sebagian besar menyalahkan kepala sekolah, sebagian lagi menuding siswa tak tahu sopan santun. Dunia maya kembali jadi arena penghakiman cepat, dimana potongan peristiwa bisa menimbulkan badai opini.
Namun dibalik hiruk-pikuk komentar dan hujatan, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah itu? Dan mengapa tindakan disiplin seorang kepala sekolah bisa berubah menjadi perdebatan nasional?
Ketegasan yang Berangkat dari Kepedulian
Kepala sekolah bukan sekadar pejabat yang mengatur administrasi. Ia adalah sosok yang memikul tanggung jawab moral dan emosional terhadap ratusan anak. Ia harus menjadi pemimpin, pendidik, sekaligus orang tua kedua.
Ketika seorang siswa merokok di sekolah, kepala sekolah tentu tidak hanya melihat itu sebagai pelanggaran kecil. Ia melihat sinyal bahaya: nilai-nilai yang mulai luntur, batas-batas yang mulai kabur. Maka ketika ia menegur, bahkan mungkin dengan cara yang keras, bisa jadi itu lahir bukan dari amarah, melainkan rasa tanggung jawab.
Dalam dunia pendidikan yang makin longgar, dimana disiplin sering dianggap ketinggalan zaman, tindakan tegas justru menjadi bentuk kepedulian.
Namun sayangnya, kepedulian itu kadang salah diterjemahkan. Satu tamparan yang mungkin dimaksudkan sebagai peringatan berubah menjadi bukti “kekerasan”. Dunia maya tidak memberi ruang untuk memahami konteks. Yang terlihat hanya tindakan, bukan niat di baliknya.
Durkheim dan Nilai yang Mulai Pudar
Sosiolog klasik Émile Durkheim pernah menulis, bahwa setiap masyarakat bertahan karena adanya kesadaran kolektif nilai dan aturan yang disepakati bersama. Ketika kesadaran itu melemah, muncullah kekacauan moral, atau yang ia sebut anomie.
“Anomie merupakan sebuah keadaan di mana masyarakat kehilangan arah terhadap individu. Émile Durkheim menjelaskan bahwa anomie merupakan sebuah keadaan tanpa norma dan arah sehingga mengakibatkan hilangnya etika yang diharapkan dengan kenyataan sosial yang ada. Anomie dapat merusak struktur sosial tanpa dapat dipulihkan…”
(Maharani et al., 2023, hal. 140)
Sekolah adalah miniatur dari masyarakat itu. Disanalah nilai-nilai moral ditanamkan sejak awal: menghormati, menaati aturan, dan bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.
Ketika siswa melanggar dan guru tidak berani menegur, nilai bersama itu perlahan hancur. Tapi ketika guru menegur dan malah disalahkan, kita justru sedang menghukum mereka yang berusaha menjaga tatanan sosial.
Durkheim percaya, disiplin bukan alat untuk menakut-nakuti, tapi cara membentuk kesadaran moral. Kepala sekolah di SMAN 1 Cimarga mungkin bersikap keras, tapi di sisi lain, ia sedang menjalankan fungsi sosialnya: memastikan nilai tidak hilang di tengah kebebasan yang kian luas.
Solidaritas yang Tumbuh dari Emosi
Kita tentu bisa memahami perasaan para siswa. Mereka merasa temannya diperlakukan tidak adil, lalu bersatu melakukan protes. Dalam bahasa Durkheim, ini disebut solidaritas mekanik, rasa kebersamaan yang lahir dari kesamaan nasib dan emosi.
Namun solidaritas tanpa pemahaman sering berujung pada salah arah. Aksi mogok yang semula dimaksudkan sebagai bentuk dukungan, justru memperkeruh keadaan. Siswa lupa bahwa ada tanggung jawab moral yang harus dijaga: menghormati guru, menaati aturan, dan menjaga nama baik sekolah.
Solidaritas yang sehat seharusnya tidak menentang nilai, tapi menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan, baik dari siswa maupun guru, punya alasan sosial yang bisa dipahami bersama.
Guru Juga Manusia
Kita sering lupa, kepala sekolah juga manusia. Ia bisa lelah, bisa kecewa, dan bisa salah langkah dalam mengekspresikan emosi. Tapi satu kesalahan kecil tidak seharusnya menghapus seluruh dedikasinya.
Menjadi guru di zaman ini tidak mudah. Mereka menghadapi siswa dengan karakter beragam, tekanan publik yang tinggi, dan ekspektasi masyarakat yang sering kali tidak realistis.
Kita menuntut mereka sabar tanpa batas, tapi jarang memberi ruang untuk memahami sisi manusiawi mereka. Padahal, kadang ketegasan yang tampak keras itu justru lahir dari keinginan mendalam untuk melindungi murid dari jalan yang salah.
Menemukan Keseimbangan
Kasus Cimarga memberi pelajaran berharga: pendidikan tidak bisa berdiri di antara dua ekstrem terlalu keras tanpa empati, atau terlalu lembek tanpa arah.
Kepala sekolah dan guru tetap harus menegakkan disiplin, tapi juga perlu ruang dialog. Sementara siswa perlu belajar bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan menciptakan kekacauan.
Seperti kata Durkheim, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menemukan keseimbangan antara kebebasan individu dan kesadaran bersama. Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana keseimbangan itu dilatih bukan tempat di mana nilai dihukum karena kesalahpahaman.
Penutup
Tindakan kepala sekolah SMAN 1 Cimarga mungkin terasa keras, tapi dibaliknya ada pesan sederhana: ia peduli. Ia ingin menjaga anak-anak agar tidak kehilangan arah ditengah derasnya pengaruh luar.
Daripada menghakimi, mungkin kita perlu belajar melihat niat baik di balik ketegasan. Karena kadang, cinta seorang pendidik memang tidak selalu datang dalam bentuk kelembutan. Kadang, ia hadir dalam bentuk teguran yang di masa depan, justru akan disyukuri oleh murid-muridnya.
* Penulis Merupakan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi – Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

