Oleh : Muhammad Rafi Risqi Syandana
Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), “Pola konsumsi rokok yang tinggi membuat rumah tangga di Indonesia rata-rata menggunakan 10 – 11 persen dari anggarannya untuk membeli rokok jauh lebih besar dibanding anggaran untuk makanan pokok seperti beras”.
Hal tersebut diketahui menyebabkan semakin parahnya dampak kegagalan pasar akibat eksternalitas perusahaan rokok semakin meluas. Lebih lanjut hal ini memperkuat bahwa eksternalitas dalam ekonomi yang terjadi pada kasus tersebut benar-benar berlangsung dan dekat dengan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sehari-hari.
Konsep Eksternalitas dan Dampaknya
Eksternalitas sendiri dalam ekonomi, adalah dampak sampingan (biaya atau manfaat) dari aktivitas ekonomi seseorang atau perusahaan yang langsung memengaruhi pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi awal, tanpa kompensasi atau pembayaran langsung, yang menyebabkan harga pasar tidak mencerminkan biaya atau manfaat sosial sebenarnya (false pricing).
Eksternalitas sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, baik dari sisi Produsen atau Konsumen, serta Positif maupun Negatif. Akan tetapi yang akan dibahas pada tulisan kali ini adalah terkait Eksternalitas Negatif Produsen yang menyebabkan kegagalan pasar akibat eksternalitas perusahaan rokok di Indonesia. Hal ini akan digambarkan lebih konkret dengan mengetahui kurva berikut :

Dari kurva tersebut dapat diketahui bahwa benefit atau manfaat dari aktivitas ekonomi tersebut seharusnya lebih banyak jika kuantitas yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi tersebut lebih sedikit. Elaborasi lebih lanjut terkait hal ini adalah kuantitas yang seharusnya timbul demi memperoleh manfaat atau benefit yang lebih banyak adalah kuantitas yang sedikit.
Maknanya jika perusahaan rokok yang dimaksud tersebut menyebabkan dampak terhadap kegagalan pasar akibat eksternalitas (dampak negatif) perusahaan rokok seharusnya memiliki kuantitas yang sedikit, sehingga dampak negatif yang dihasilkan tidak terlalu meluas dan memperparah dampak di sektor lain (misalnya kesehatan) yang terjadi.
Sesuai dengan teori dari kurva tersebut, keadaan yang terjadi menyatakan bahwa MSC (Marginal Social Cost) yang ditimbulkan dari aktivitas ekonomi perusahaan rokok tersebut menyebabkan gap atau jarak dengan MPC (Marginal Private Cost) yang bermakna, bahwa dampak biaya sosial yang ada dari dampak negatif sektor lain memiliki jarak yang jauh dengan biaya yang sebenarnya timbul akibat aktivitas perusahaan rokok tersebut atau yang biasa dikenal dengan Deadweight Loss.
Deadweight Loss sendiri memiliki pengertian, yakni hilangnya efisiensi ekonomi atau surplus total (konsumen dan produsen) yang terjadi ketika pasar tidak mencapai keseimbangan optimal, sering kali akibat intervensi seperti pajak, subsidi, harga minimum/maksimum, atau monopoli, yang menyebabkan alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan tidak ada pihak yang diuntungkan dari kerugian tersebut.
Sehingga keseimbangan sosial (Equilibrium Social) dengan keseimbangan biaya (Equilibrium Cost) yang dihasilkan memiliki gap atau jarak. Akibat hal tersebut maka muncul konsekuensi berupa dampak negatif sektor lain yang disebabkan oleh banyaknya kuantitas perusahaan rokok, dimana hal ini disebut Eksternalitas Negatif Produsen.
Solusi Mengatasi Eksternalitas Negatif
Berdasarkan permasalahan tersebut, langkah yang dapat ditempuh adalah dengan beberapa cara yaitu dapat menggunakan Pajak, Teorema Coase, dan regulasi hukum.
Mari kita bedah satu persatu terkait solusi dari eksternalitas negatif yang dihasilkan oleh produsen maupun konsumen.
1. Penetapan Pajak
Penetapan pajak sebagai langkah preventif untuk mencegah semakin besarnya dampak dari eksternalitas negatif sekaligus menjadi pengganti dampak biaya sosial yang terjadi meskipun secara tidak langsung.
Contoh lain yang dapat digunakan adalah pabrik rokok, Pemerintah dapat menetapkan pajak yang besar bagi perusahaan rokok, karena mereka telah membuat eksternalitas seperti dampak kesehatan akibat konsumsi rokok, sehingga perusahaan tersebut harus melakukan ganti rugi atas eksternalitas yang timbul akibat aktivitas ekonomi perusahaan tersebut.
2. Teorema Coase
Solusi yang kedua adalah Teorema Coase, yakni negosiasi yang dapat dilakukan oleh individu atau perusahaan terkait tanpa campur tangan dari pemerintah.
Contoh lain adalah UMKM yang memiliki output sampah dengan kuantitas banyak, sehingga dia harus membebani orang-orang yang bekerja di TPS (Tempat Pembuangan Sampah), karena tumpukan sampah yang melebihi kuantitas aslinya, maka dia bisa menempuh jalur negosiasi dengan cara memberikan ‘uang’ sebagai ganti rugi atas kelebihan kuantitas sampah yang ia hasilkan sebagai ganti rugi atas kelebihan waktu dan tenaga orang-orang yang bekerja di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) tersebut.
3. Regulasi Hukum
Kemudian solusi yang terakhir adalah dengan regulasi hukum, hal ini dapat terjadi jika biaya transaksi tinggi dan negosiasi sulit, pemerintah dapat mengatur batasan polusi atau memberi hak gugat bagi korban agar pelaku menanggung biaya sosial.
Contohnya pada kasus yang marak diberitakan, yakni penebangan hutan demi aktivitas suatu perusahaan tertentu. Tentunya hal tersebut juga dapat dicegah dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, yang mengatur larangan pembalakan liar, penggunaan kawasan hutan tanpa izin, serta memberikan sanksi pidana dan administratif bagi pelanggar. Sehingga hal-hal yang menyebabkan eksternalitas negatif dapat dicegah sedini mungkin.
Kesimpulan
Akhirnya, keseluruhan uraian ini menunjukkan bahwa eksternalitas yang disebabkan oleh kuantitas perusahaan rokok telah menyebabkan dampak besar yang semakin membuat parah dampak di sektor lain, seperti kesehatan di Indonesia. Sehingga hal tersebut memerlukan solusi yang meminimalisir kemungkinan terjadinya eksternalitas tersebut dengan melalui beberapa cara, yaitu penentapan pajak, Teorema Coase, dan regulasi hukum sebagai langkah preventif sekaligus solusi atas eksternalitas yang terjadi, khususnya dalam menekan angka konsumsi rokok demi kenyamanan bersama.
> Penulis Merupakan Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Brawijaya (UB) Malang
Referensi :
- “Indonesian smokers spend 11% of budget on cigarettes.” Asia-Pacific Solidarity Network/Tempo, 31 Mei 2025. Asia Pacific Solidarity
- “Gizi buruk dan Konsumsi Tembakau.” YLKI, diakses 2025. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
- “Siaran Pers: Sehari Tidak Merokok, Masyarakat Indonesia Bisa Menghemat Rp 605 Milyar Per Hari!” YLKI, 2025. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
- “Pola Konsumsi dan Biaya Kesehatan.” YLKI, 2025.
- Muhammad Rafi Risqi Syandana, 2025. Kegagalan Pasar. Powerpoint, Ekonomi Mikro II, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya.
- Batabyal, A. A. (2023). The theory of externalities (MPRA Paper 119233). University Library of Munich.
- Verhoef, E. T. (1999). Externalities. In J. C. J. M. van den Bergh (Ed.), Handbook of Environmental and Resource Economics (ch. 13). Edward Elgar Publishing.

