Oleh : Shofiatunnisa
Sekolah tidak hanya tempat siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, namun juga sekolah sebagai arena sosial tempat siswa untuk membangun identitas sosial, mencari sebuah pengakuan, serta memainkan peran sosialnya. Dalam konteks budaya modern, sekolah sering menjadi sebuah ruang dalam masyarakat yang diwarnai dengan budaya kompetitif. Realita kehidupan sekolah siswa yang ditandai dengan adanya sebuah usaha untuk mendapatkan nilai tertinggi, penghargaan, hingga posisi terbaik yang lebih menonjol di antara siswa yang lain. Peristiwa ini bukan sekedar menunjukkan adanya semangat belajar belaka, tetapi juga mencerminkan bagaimana interaksi sosial dapat membentuk sebuah makna kesuksesan serta kegagalan dalam kehidupan sekolah.
Budaya Kompetitif dan Simbol Nilai Akademik
Budaya kompetitif bisa muncul karena adanya sistem sosial dimana menilai prestasi dengan memandang angka, rangking, dan pencapaian akademik lainnya. Nilai akademik menjadi simbol dalam status sosial di lingkungan sekolah. Siswa dengan prestasi tinggi yang memperoleh penghargaan akan dianggap lebih berharga, daripada siswa dengan nilai rendah akan dipandang kurang mampu. Sehingga ini memunculkan sebuah pandangan bahwa sekolah adalah sebuah ruang sosial dimana setiap individu akan berusaha untuk menampilkan citra terbaiknya demi mendapatkan sebuah pengakuan.
Interaksionisme Simbolik dalam Perspektif Erving Goffman
Dalam perspektif interaksionisme simbolik menurut pandangan Erving Goffman, kehidupan sosial ini dapat dipahami sebagai sebuah seni pertunjukan dimana setiap individu adalah aktor utama dalam kehidupan mereka yang berusaha untuk mengelola kesan di depan para penontonnya. Goffman menggunakan istilah front stage yang menggambarkan situasi dimana individu akan berperilaku sesuai dengan harapan sosial. Dan back stage merupakan ruang pribadi dari individu tersebut untuk bisa bersikap jujur dan bebas dari peran tuntutan sosial. Melalui konsep ini, Goffman menegaskan bahwa kehidupan sosial manusia selalu dipenuhi dengan proses penciptaan dan pengelolaan kesan yang terus berlangsung dalam setiap interaksi.

Penerapan Teori Goffman dalam Kehidupan Sekolah
Teori ini jika dihubungkan dengan kehidupan sekolah, maka dapat dilihat siswa sebagai aktor yang sedang tampil di atas panggung sosial. Pada sisi front stage mereka yaitu di depan guru dan teman-teman, mereka akan berusaha untuk menampilkan diri sebagai individu yang pintar, rajin, serta memiliki jiwa yang kompetitif. Mereka akan mengatur strategi sedemikian rupa agar mereka bisa menampilkan citra diri yang sesuai dengan ekspektasi lingkungan sosial mereka. Namun dibalik itu semua terdapat sisi back stage dimana merupakan sisi asli dari individu tersebut yang digambarkan dengan banyak siswa yang merasa cemas, lelah bahkan merasa stress dengan beban akademik serta tuntutan sosial yang harus mereka lakukan.
Budaya kompetitif ini juga menciptakan makna simbol terhadap hasil belajar siswa. Keberhasilan siswa tidak hanya diakui sebagai sebuah hasil belajar, namun juga sebagai sebagai sebuah simbol dari pengakuan sosial. Siswa yang berprestasi dianggap memiliki citra yang lebih baik di mata teman sebaya dan guru di sekolah. Berlawanan dengan hal itu, kegagalan yang harus terjadi pada individu akan menimbulkan rasa rendah diri yang dianggap sebagai tanda ketidakmampuan. Sehingga pendidikan menjadi sebuah ruang nilai sosial dan identitas diri dibentuk melalui interaksi simbolik antarindividu.
Budaya kompetitif juga ikut mewarnai relasi sosial antar siswa. Ketika sebuah pencapaian menjadi tolok ukur utama, hubungan sosial yang terbangun cenderung bergeser ke arah individualistik. Siswa akan lebih fokus pada pengembangan diri sendiri daripada kerja sama. Sehingga situasi ini membuat siswa akan memiliki perasaan untuk membandingkan pencapaian diri dengan siswa yang lain. Yang berakibat sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh untuk dan belajar bersama malah berubah menjadi arena tekanan sosial.
Dari sudut pandang Goffman sendiri mengenai kondisi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah impression management atau pengelolaan kesan menjadi bagian krusial dalam kehidupan sosial siswa. Mereka “berperan” agar bisa diterima dan berusaha untuk menutupi kelemahan mereka agar tidak diketahui oleh orang lain yang berakibat menekan mental siswa untuk selalu tampil baik.
Peran Sekolah dalam Menyeimbangkan Kompetisi dan Kolaborasi
Tugas sekolah adalah harus bisa untuk menyeimbangkan antara kompetisi dan kolaborasi. Sebuah kompetisi tanpa adanya kontrol sosial akan menciptakan sebuah alienasi dan stress. Sekolah harus bisa memberikan ruang dan dukungan bagi siswa untuk mengembangkan ekspresinya tanpa tekanan. Guru juga memiliki peran penting sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami bahwa nilai dan prestasi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Lebih dari itu, lingkungan belajar perlu dibangun dengan suasana saling menghargai, dimana setiap siswa merasa aman untuk berpendapat dan mencoba hal baru. Proses belajar harus menjadi pengalaman yang hidup dan penuh dinamika, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk tumbuh bersama. Ketika siswa merasa didengarkan dan dihargai, motivasi mereka akan muncul secara alami. Dalam situasi seperti itu, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan empati.
Melalui kacamata interaksionisme simbolik Goffman, kita dapat melihat bahwa budaya kompetitif di sekolah bukan hanya sekedar persoalan belajar saja, namun juga sebuah drama sosial yang membentuk identitas, makna, serta relasi antar individu. Dengan memahami dinamika ini, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga bisa menciptakan individu yang sehat secara sosial dan emosional.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

