Oleh : Alifia Khumairoh
Di ujung Darfur, Sudan, suara tangis perempuan-perempuan hebat bergema di tengah kota yang sempat berwarna. Mereka berjalan sambil menggendong bayi, menuntun anak-anaknya, dan berharap akan ada tempat aman yang tersisa. Namun dunia tampaknya tak mendengarkan. Para perempuan Sudan bukan hanya sekadar korban peperangan, mereka adalah sasaran utama dari kekerasan seksual dan penindasan.
Neraka El-Fasher
Amira, seorang ibu di Sudan, tak pernah melupakan mimpi buruk yang dialaminya. Kota yang dianggap benteng terakhir militer, El-Fasher, akhirnya jatuh di tangan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada bulan Oktober 2025. Setiap harinya, Amira melihat pemerkosaan massal, penculikan anak perempuan, dan kekerasan yang tak kunjung berakhir (Detik.com, 2025). Tempo (2025) mengutip pernyataan dari Anadolu Ajansı, dilaporkan sebanyak 300 perempuan terbunuh di bawah RSF dalam dua hari.
RSF bukan sekadar pasukan militer bersenjata biasa. Dulunya, mereka adalah Janjaweed, milisi yang terkenal dengan kekejaman dan genosida yang dilakukan pada kelompok non-Arab (BBC News Indonesia, 2025). Meskipun telah disahkan secara hukum menjadi bagian militer Sudan, kekejiannya tetap ada. Ketika El-Fasher dikepung selama 18 bulan, ratusan ribu jiwa masih terjebak dalam kelaparan tanpa obat-obatan.
Target yang Menjadi Arena Perang
Kekerasan seksual digunakan oleh Rapid Support Forces (RSF) sebagai senjata melawan perempuan. Mereka menakut-nakuti, menghancurkan fisik dan mental, dan mendominasi arenanya. Para penyidik PBB menerima kesaksian bahwa anggota RSF mengolok-olok perempuan non-Arab melalui perkataan rasis dengan memaksa mereka untuk melahirkan “bayi Arab” (BBC News Indonesia, 2025). Anadolu Ajansı menguatkan dengan laporan bahwa saat akan melarikan diri dan mendapatkan haknya, lebih dari 150 perempuan menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual.
Bukan hanya perempuan, anak laki-laki juga tak lepas dari penderitaan. Puluhan warga menghilang tanpa jejak. Mereka dilema akan sebuah pilihan, sebaiknya bertahan dan hanya menunggu ajal, atau mencoba melarikan diri menuju jalan keselamatan yang dianggap sebagai “jalan kematian”.
Perempuan Terlupakan dalam Krisis yang Diabaikan
Laporan PBB menunjukkan setidaknya lebih dari 5,8 juta dengan persentase 53% pengungsi internal adalah perempuan (UN Women, 2024). Mereka terlantar, berperang dengan kelaparan dan akrab akan momen kehilangan. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, jumlah orang yang berisiko mengalami kekerasan berbasis gender meningkat sebanyak tiga kali lipat. Sementara, kasus masih jarang sekali dilaporkan begitu juga dengan layanan yang tak lagi tersedia. Hampir tidak ada perawatan kesehatan untuk perempuan dan akibatnya kasus kematian ibu melonjak (UN Women, 2025).
Perempuan yang sebelumnya mandiri secara finansial, kini harus bergantung pada bantuan kemanusiaan. Kekacauan ekonomi negara membuat mereka rentan mengalami kekerasan. Lagi-lagi patriarki berbicara. Menurut IPC (2024) periode Oktober 2024-Mei 2025 lebih dari 24,6 juta orang mengalami kerawanan pangan akut, dan perempuan adalah yang paling tidak aman (UN Women, 2025). Mereka hidup di bawah tekanan norma sosial, selalu mendahulukan anggota keluarga lain untuk makan, dan memilih mengambil sedikit bagian untuk dirinya.
Peran yang besar pun tak pernah dianggap, padahal mereka berada di garis depan untuk menyuarakan perdamaian dan keadilan. Mereka menegosiasikan jalur aman bagi orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan, menyelamatkan nyawa, dan mengadvokasi perdamaian (UN Women, 2025). Namun mereka justru dikeluarkan dari pembicaraan diplomatik.
Diamnya Dunia Internasional
Sedih sekali melihat Sudan dianggap sebagai “negara yang terlupakan”. Mereka bingung kemana semua orang berada. Liputan media rendah, bantuan kemanusiaan lambat, dan negosiasi yang telah dilakukan tidak lagi efektif. Dukungan dari pihak luar semakin menambah kerumitan, membuat dunia menutup mata pada penderitaan perempuan dan anak-anak.
Perempuan Sudan terus menjerit dalam sunyi. Mereka kehilangan haknya. Dunia tidak bisa berpaling. Kisah ini harus didengar.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

