Oleh: Muthia Hafsya
Wisuda sering dianggap sebagai gerbang menuju masa depan yang cerah. Gelar sarjana diyakini bisa membuka jalan ke pekerjaan yang layak, gaji stabil, dan kehidupan mapan. Namun, kenyataan tidak selalu seindah harapan. Kelulusan bukan garis akhir, melainkan titik awal dalam mencari pekerjaan yang cocok untuk masa depan. Banyak fresh graduate justru berhadapan dengan pengangguran, persaingan ketat, dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Pertanyaannya, mengapa begitu banyak sarjana baru yang masih menganggur?
Data dari BPS bulan Agustus 2024 menyebutkan, bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,46 juta orang atau setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional sebesar 4,91%. Sementara itu, lulusan universitas mencatat tingkat pengangguran lebih tinggi, yakni 5,25%. Fakta ini menunjukkan bahwa masih ada ratusan ribu sarjana baru yang belum terserap kerja. Ada empat permasalahan utama yang menjelaskan fenomena ini:
1. Terlalu Picky soal Pekerjaan
Banyak fresh graduate menolak tawaran kerja karena merasa gaji tidak sesuai, lokasi terlalu jauh, atau khawatir perusahaan tidak stabil. Sikap terlalu “picky” ini justru memperpanjang masa menganggur. Padahal, menunggu pekerjaan “ideal” tanpa pengalaman awal hanya memperlebar jurang antara ekspektasi lulusan dengan realitas pasar kerja. Lebih parah lagi, jika mereka tidak berusaha mencari alternatif lain yang lebih realistis atau setidaknya lebih baik daripada menganggur, waktu yang berharga akan terbuang sia-sia. Pada akhirnya, mereka akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan membangun jejaring.
2. Skill yang Tidak Menonjol
Sebagian besar fresh graduate hanya mengandalkan keterampilan umum yang dimiliki banyak orang, seperti penguasaan komputer dasar atau komunikasi standar. Tanpa keahlian spesifik, mereka sulit bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif. Banyak Perusahaan kini lebih menekankan kombinasi hard skill (misalnya analisis data atau literasi digital) dan soft skill (komunikasi, adaptasi, kepemimpinan). Jika lulusan tidak mengembangkan keterampilan unik sejak kuliah atau melalui pelatihan tambahan, mereka akan kalah bersaing dengan kandidat lain yang lebih siap menghadapi tuntutan industri.
3. Ketidaklinearan Jurusan dengan Pekerjaan
Fenomena ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan yang ditempuh kini semakin nyata. Banyak lulusan akhirnya berkarier di bidang yang tidak sejalan dengan latar belakang akademiknya. Kondisi ini kerap menimbulkan rasa kecewa, bahkan membuat sebagian menolak peluang kerja yang sebenarnya bisa menjadi pijakan awal yang berharga.
Faktanya, dinamika pasar tenaga kerja bergerak jauh lebih cepat daripada penyesuaian kurikulum pendidikan. Karena itu, lulusan seharusnya memandang kesempatan lintas bidang bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai ruang untuk memperluas pengetahuan, memperkaya pengalaman, dan membangun jaringan profesional yang akan berguna di masa depan.
4. Kurang Riset dan Perencanaan Karier
Banyak mahasiswa belum menyiapkan strategi karier sejak dini. Mereka sering kali tidak meneliti secara serius peluang kerja yang sesuai jurusan ataupun tren industri yang sedang berkembang. Akibatnya, proses melamar pekerjaan dilakukan tanpa arah yang jelas dan hanya sekadar mencoba peruntungan atau menunggu kesempatan datang. Cara seperti ini membuat pencarian kerja menjadi panjang dan melelahkan.
Padahal, dengan langkah sederhana seperti membaca laporan kebutuhan tenaga kerja, mengikuti forum atau seminar industri, hingga berdiskusi dengan alumni, lulusan bisa menyusun rencana karier yang lebih terarah. Perencanaan semacam ini akan membantu mereka menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar kerja sekaligus memperkecil risiko menganggur dalam jangka waktu lama.
Sebagai mahasiswa, kita perlu lebih proaktif merancang karier sejak kuliah. Kita harus sadar bahwa jurusan atau studi yang kita pilih memiliki konsentrasi tertentu yang akan menentukan arah karier. Pilih jurusan dengan jelas, pahami bidang kerja yang relevan, dan pastikan apakah pekerjaan itu mencukupi kehidupan kita dari sisi gaji maupun gaya hidup.
Selain itu, mulailah membangun portofolio dan CV sejak masih kuliah. Caranya yaitu dengan aktif di organisasi untuk menambah relasi dan pengalaman, serta manfaatkan kesempatan magang agar terbiasa dengan dunia kerja. Soft skill seperti komunikasi dan teamwork harus terus diasah, sementara hard skill sesuai bidang impian harus dilatih secara konsisten. Dengan begitu, saat lulus kita tidak hanya punya ijazah, tapi juga bekal nyata untuk bersaing di dunia kerja.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

