Oleh: Claire Godwin Rio
“Stress tugas kuliah? Healing dulu, dong.”
“Capek kerja? Wajib self-reward.”
“Overthinking soal masa depan? Liburan ke Bali aja, biar waras.”
Kalimat-kalimat ini sudah jadi keseharian di linimasa kita. Healing kini seolah jadi obat mujarab untuk segala sakit hati, lelah pikiran, dan tekanan hidup. Tapi pernahkah kita bertanya: apakah healing benar-benar menyembuhkan, atau hanya membuat kita semakin kehilangan arah—bahkan kehilangan uang?
Fenomena healing menarik dikupas karena ia merepresentasikan dua sisi generasi muda: di satu sisi sadar pentingnya kesehatan mental, di sisi lain terjebak pada logika konsumtif yang menguras dompet.
Dari “Penyembuhan” ke “Pameran”
Awalnya, healing berarti sesuatu yang sederhana: istirahat, refleksi, atau aktivitas menenangkan jiwa. Namun, media sosial mengubah makna itu. Sekarang, healing sering diasosiasikan dengan liburan ke destinasi eksotis, nongkrong di kafe estetik, atau belanja online yang disebut “self-reward.”
Di TikTok, misalnya, kita bisa dengan mudah menemukan video dengan caption: “Pusing kerja, waktunya healing ke Lombok.” Di Instagram, unggahan bertema self-healing sering dihiasi foto secangkir kopi latte seharga dua kali lipat nasi padang. Seolah-olah healing adalah soal berapa banyak uang yang dikeluarkan, bukan bagaimana hati dipulihkan. Inilah transformasi besar: dari penyembuhan diri menjadi pamer gaya hidup.
Logika yang Tersesat
Kalau kita melihat fenomena ini dengan kacamata logika dan berpikir kritis, banyak kesalahan nalar (fallacy) yang sebenarnya tersembunyi di baliknya.
1. False Cause – Bahagia Bisa Dibeli
Premis yang salah: belanja dan liburan pasti bikin bahagia. Faktanya, kesenangan hanya sementara. Begitu saldo rekening menipis atau tagihan datang, rasa bersalah dan stres finansial justru muncul.
2. Bandwagon Fallacy – Ikut Tren Biar Gaul
Karena media sosial penuh dengan postingan healing, banyak orang merasa wajib ikut. Kalau tidak, dianggap ketinggalan zaman. Padahal, tidak ada hubungan logis antara kebahagiaan sejati dan keikutsertaan dalam tren viral.
3. Illusion of Happiness – Bahagia yang Hanya di Feed
Foto liburan, kafe estetik, atau belanja barang branded yang terpampang di media sosial hanya potongan terbaik hidup orang lain. Kita terjebak membandingkan diri dengan highlight palsu itu, lalu merasa hidup kita tidak cukup.
Logika sederhana seharusnya menuntun kita: kalau healing justru menambah stres baru, maka ada yang salah dengan cara kita mendefinisikannya.

Dampak: Dompet, Mental, dan Relasi Sosial
Fenomena healing konsumtif tidak berhenti pada individu, melainkan berdampak luas pada generasi muda.
● Dompet yang Menjerit
Banyak mahasiswa menghabiskan uang saku demi nongkrong dengan alasan healing. Pekerja muda menguras gaji bulanan untuk traveling. Bahkan ada yang nekat berhutang lewat pay later hanya untuk bisa posting “healing” di Instagram.
● Mental yang Rapuh
Ketika healing selalu dipahami sebagai konsumsi, kita kehilangan kemampuan untuk mengelola emosi secara sehat. Akibatnya, muncul ketergantungan: setiap kali sedih, jawabannya belanja; setiap kali lelah, jawabannya liburan. Padahal, masalah mental butuh penanganan lebih dalam, bukan sekadar pelarian sementara.
● Relasi Sosial yang Terkikis
Budaya pamer healing menimbulkan tekanan sosial. Banyak yang merasa rendah diri hanya karena tidak bisa ikut nongkrong di tempat estetik atau jalan-jalan ke luar kota. Kecemburuan sosial meningkat, dan rasa syukur pun terkikis.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana logika sehat terkadang ditelan oleh arus tren yang memaksa kita membandingkan diri dengan orang lain.
Alternatif Healing yang Rasional
Apakah artinya kita harus anti-healing? Tentu tidak. Healing tetap penting, tetapi harus dimaknai dengan lebih rasional.
Penyembuhan diri sejati bisa dilakukan dengan cara sederhana dan murah, bahkan gratis. Misalnya:
● Jalan sore sambil mendengarkan lagu favorit.
● Olahraga ringan seperti jogging atau yoga untuk melepaskan hormon endorfin.
● Membaca buku, menulis jurnal, atau sekadar menonton film di rumah.
● Ngobrol dengan sahabat dekat, keluarga, atau komunitas yang suportif.
● Berdoa, meditasi, atau merenung untuk mencari ketenangan batin.
Semua aktivitas ini mungkin tidak terlihat estetik di feed Instagram, tapi justru memberi kedamaian yang lebih nyata.
Refleksi: Healing atau Hilang?
Fenomena healing konsumtif sejatinya adalah cermin. Ia menunjukkan betapa mudahnya logika kita dibelokkan oleh media sosial dan budaya konsumerisme. Kita jarang bertanya pada diri sendiri: apakah tindakan ini benar-benar menyembuhkan, atau sekadar pelarian dari masalah?
Kalau healing membuat kita kehilangan uang, kehilangan kendali diri, bahkan kehilangan jati diri, maka sesungguhnya kita tidak sedang healing—kita sedang hilang.
Berpikir kritis menuntun kita untuk memilah mana kebutuhan sejati dan mana ilusi yang dipoles iklan dan tren. Kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari dompet tebal atau destinasi liburan mahal. Terkadang, ia hadir dalam hal-hal sederhana: tawa bersama teman, waktu berkualitas dengan keluarga, atau keheningan yang membuat kita berdamai dengan diri sendiri. Dan mungkin, di situlah kita menemukan arti healing yang sesungguhnya.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

