Oleh : Shinta Putri Augusty
Perpustakaan kampus adalah tempat paling sakral untuk mengerjakan tugas. Ruangannya tenang, dingin, dan dipenuhi aroma kertas serta suara lembut dari lembaran buku yang dibalik. Namun sekarang, pemandangan itu perlahan berubah. Mahasiswa lebih sering terlihat menenteng laptop, earphone, dan segelas kopi dingin menuju coffee shop favorit.
Di kafe itu, bunyi mesin americano bergantian dengan denting sendok di cangkir, sementara daftar putar lo-fi mengalir lembut di belakang. Mengerjakan tugas kuliah di kafe kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah terintegrasi ke dalam gaya hidup mahasiswa era sekarang. Menurut saya, suasana seperti ini membuat proses nugas terasa lebih menyenangkan dibanding duduk sendirian di kamar kos.
Suasana di kafe terasa ideal, tidak sepi seperti di ruang belajar, namun juga tidak ramai seperti kantin. Ada semacam energi produktif yang timbul ketika dikelilingi orang-orang yang juga terlihat sibuk dengan laptop di depan mereka. Meski demikian, di balik alasan produktiitas itu, ada faktor lain yang sama kuatnya, estetika. Pencahayaan hangat, meja kayu yang tertata rapi, aroma kopi, dan desain interior yang cocok untuk diunggah ke Instagram menciptakan kenyamanan sekaligus memanjakan penglihatan. Tidak sedikit yang datang bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas, melainkan juga untuk mempercantik feed media sosial dengan foto “nugas produktif” yang terlihat menarik.
Fenomena tersebut bukan sekadar masalah gaya hidup yang konsumtif. Dibawah beban tekanan akademik dan ekspektasi sosial, banyak mahasiswa memilih kafe sebagai tempat untuk melarikan diri. Di sana, mereka bisa merasa “sendiri namun tidak kesepian”. Melihat orang lain yang sibuk di depan layar membangun solidaritas yang tak terlihat seakan semua orang sedang berjuang melawan deadline masing-masing. Atmosfer tersebut membuat keberadaan di ruang publik terasa lebih enteng daripada menghadapi keheningan kamar yang dipenuhi gangguan.

Selain sebagai tempat untuk mencari konsentrasi, kedai kopi juga berfungsi sebagai ruang sosial yang baru. Diskusi kelompok sering dimulai dari pembicaraan tentang tugas, namun berakhir dengan percakapan panjang mengenai kehidupan, asmara, dan cita-cita di masa depan. Kafe berperan sebagai area transisi antara serius dan santai, antara belajar dan bersosialisasi. Tak heran, banyak mahasiswa memilih kafe tertentu bukan karena kopinya, melainkan karena ikatan emosional yang mereka bina disana.
Namun tentu saja, kafe yang sempurna untuk mahasiswa tidak hanya sekadar menarik secara visual. Kafe ini harus memenuhi tiga hal yang penting yaitu rasa kopi yang enak, koneksi Wi-Fi yang cepat, dan kabel colokan yang banyak. Ketika ketiganya sudah terpenuhi, waktu seolah berjalan dengan lambat. Jam bisa berlalu tanpa disadari, tugas mungkin baru setengah jalan, tetapi ada rasa kepuasan karena setidaknya hari terasa lebih bermanfaat. Meski begitu, di balik semangat terhadap produktivitas itu, ada hal lain yang perlu diperhatikan.
Di era media social saat ini, foto yang memperlihatkan kesibukan dan produktivitas sering kali menjadi suatu bentuk pengakuan tersendiri. Foto di kafe dengan laptop, secangkir kopi, dan caption yang bagus memberikan kesan bahwa orang tersebut aktif, sedang berkembang, dan bukan pribadi yang malas. Sebenarnya, waktu yang dihabiskan untuk nugas di kafe sering kali lebih banyak digunakan untuk scrolling reels atau tiktok. Mungkin di situlah letak kebenarannya, terlepas dari sejauh mana kita benar-benar produktif.
Pada akhirnya, kafe bukan hanya sekadar tempat untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga menjadi tempat yang menggabungkan kebutuhan akademik dan sosial mahasiswa. Kafe menawarkan sedikit ketenangan di tengah tekanan hidup kampus, sekaligus menjadi wadah untuk merasa terhubung dengan dunia luar. Alasan mahasiswa betah nugas di kafe itu sangat sederhana, disana ada wangi kopi, alunan music, dan keramaian orang lain yang membuat segalanya terasa lebih mudah untuk diterima.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

