Oleh : Erna Septiana
Zaman setiap harinya mengalami perubahan dari modernisasi hingga digitalisasi. Semua aktivitas beralih ke gadget mulai dari belanja, bekerja, belajar, mengaji, sekolah, kuliah, hingga mencari hiburan. Menurut data dari Backlinkco (Backlinkco.com) pada Januari 2025, pengguna media sosial diseluruh dunia mengalami lonjakan hingga lebih dari 5,24 miliar orang dan rata-rata dari mereka mengakses 6,83 platform media sosial setiap bulannya.
Telepon pintar yang hanya segenggam tangan dan mudah dibawa ke mana-mana, ternyata memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan manusia terutama dalam membentuk jati dirinya untuk menjadi lebih baik atau malah lebih buruk.
Sedangkan menurut Global Web Index, jumlah rata-rata platform media sosial yang diakses pengguna berusia 16+ secara rutin setiap bulan adalah 6,83 diseluruh dunia.
Dari data tersebut rata-rata penduduk Indonesia bermedia sosial 3 jam 8 menit dalam sehari baik sebagai produsen (kreator konten) maupun konsumen (audien).
Di Dunia Digital Semua Orang adalah Kreator Konten
Setidaknya di era digital ini manusia hidup di alam ini dalam dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya atau biasa disebut dengan dunia digital. Di dunia digital manusia tidak hanya sebagai konsumen dari konten yang tersedia, tetapi juga sebagai produsen. Setidaknya Anda pernah bukan posting status di WhatsApp?
Konten yang Anda buat lalu Anda posting pasti dikonsumsi oleh orang lain, bahkan tidak sedikit pada platform media lain tembus jutaan views atau mencapai keviralan. Dimana ketika konten viral yang jelas banyak orang yang mengonsumsi konten Anda.
Menurut data spyralitics (spyralitics.com) bahwa saat ini terdapat lebih dari 64 juta pembuat konten YouTube di seluruh dunia, lebih dari 165 juta pembuat konten telah bergabung dengan media sosial sejak tahun 2020, 6 dari 10 pembuat konten memiliki pekerjaan penuh waktu, 2 dari 10 pembuat konten menjalankan bisnis berbasis konten mereka sendiri, ada lebih dari 1 juta pembuat konten TikTok di seluruh dunia, 35% pembuat konten telah aktif selama 3-5 tahun.
Data Spyralitics (spyralitics.com) mengungkapkan, bahwa generasi milenial menduduki peringkat teratas (42%) sebagai kreator konten, selanjutnya disusul generasi Z (14%) dan sisanya para influencer yang biasa membuat konten global (14%).
Mengenal Konten Brain Rot
Dilansir dari Oxford University Press dipaparkan, bahwa setelah melalui pemungutan suara yang diikuti lebih dari 37.000 orang menghasilkan keputusan Oxford Word of The Year 2024 adalah brain rot. Alasannya kata ini lebih mewakili huru-hara yang terjadi di tahun 2024. Dimana mereka mendefinisikan brain rot sendiri sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual, terutama akibat konsumsi secara berlebih terhadap konten daring yang berkualitas rendah serta berdampak negatif.
Konten receh adalah konten tidak bermutu yang berdampak pada pembusukan otak atau brain rot, karena tidak menambah pengetahuan audien. Konten tersebut bekerja secara tidak disadari, dimana ketika seseorang mengonsumsi konten ini secara terus menerus dan dalam waktu yang singkat secara bersamaan, kerja otak menjadi cepat sebelum dapat menyerap satu informasi. Sehingga otak tidak bisa berpikir secara kritis. Inilah yang dimaksud pembusukan otak meskipun pada stadium awal.
Terutama pada saat ini sedang tren konten makhluk anomali, seperti Italian Brain Rot, meme anomali, meme aneh, sounds bising dan tayangan absurd yang menyerang gen Z dan gen Alfa, meskipun demikian gen milenial tidak bisa dipungkiri untuk juga terseret arus tren ini.
Konten Brain Rot Datang Dari Siapa Saja
Tidak hanya sekedar konten makhluk anomali, tetapi apapun kontennya apabila tidak memberikan manfaat bagi konsumen, maka dapat dikategorikan sebagai konten brain rot. Bukankah begitu mudah bagi seseorang untuk scrolling konten brain rot, karena unfaedah jadi skip-skip aja dan scroll–scroll terus sampai menemukan yang menurutnya bagus?
Jadilah Kreator Konten Bermutu
Dari fenomena brain rot, ketika kita posting sesuatu pastikan kita posting yang bermanfaat. Buatlah konten yang tidak hanya sebagai hiburan pelepas penat, tetapi juga memuat manfaat. Hal ini sebagai upaya mencegah banyak orang diluar sana yang terpapar konten brain rot.
Melalui konten yang kita posting, kita pastikan bahwa mereka tidak sekedar melihat, tetapi juga mendapatkan manfaatnya seperti bertambahnya pengetahuan mereka, mengubah perilaku mereka, menyehatkan mental dan mengasah otak mereka untuk berpikir kritis.
Di tengah derasnya arus informasi dan banjir konten di dunia digital, peran kreator konten bukan lagi sekadar hiburan untuk viral, tetapi juga edukasi dan pencerahan. Fenomena brain rot seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap konten yang kita buat memiliki dampak baik maupun buruk bagi konsumen. Maka dari itu, mari kita pilih untuk membuat konten yang membawa manfaat, bukan mudarat.
Mulailah dari hal sederhana seperti berpikir sebelum posting, menimbang manfaat sebelum membagikan, dan berani menolak tren yang tidak bernilai seperti halnya tren konten makhluk anomali Sebab, sejatinya jejak digital adalah bagian dari amal jariyah kita di dunia maya.
Penulis Asal Kediri Jawa Timur

