Oleh : Defrisza Shandi
Artikel ini membahas tentang learning loss yang masih sering sekali terjadi pada siswa di Indonesia, yang menurunkan minat mereka untuk belajar dan berinteraksi. Telah diketahui bahwa fenomena besar yang mengguncang dunia pada tahun 2019 telah mengubah cara masyarakat dunia beraktivitas. Salah satunya adalah perubahan metode pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh karena munculnya virus berbahaya yang menyebar, yaitu COVID-19. Pandemi COVID-19 telah menjadi titik besar perubahan dalam sejarah pendidikan dunia, termasuk di Indonesia.
Hampir dua tahun sistem pendidikan nasional beralih ke mode Pembelajaran Jarak Jauh.(PJJ) Pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah metode pembelajaran yang baru dilakukan di Indonesia, hal inilah yang mengakibatkan munculnya adaptasi yang serba mendadak menyebabkan banyak siswa tidak mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Akibatnya, istilah learning loss atau hilangnya capaian pembelajaran muncul. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan penurunan nilai akademik, hal itu juga memiliki hubungan dengan aspek sosial, emosional, dan bahkan karakter siswa.
Menurut Azim (2021) dalam Hakim (2023), terdapat kemerosotan dalam belajar selama kegiatan belajar online, diantaranya yaitu bahasa 92% dan 82% kemampuan matematika. Hal ini terjadi karena kondisi pelaksanaan PJJ ini masih jauh dari ideal karena masih ada banyak tantangan yang dihadapi. Lalu, apa sebenarnya learning loss dalam pendidikan yang terjadi pasca pandemi di Indonesia?
Apa Itu Learning Loss dan Mengapa Learning Loss dapat Terjadi?
Learning loss didefinisikan sebagai penurunan atau hilangnya pencapaian pembelajaran yang seharusnya dicapai oleh siswa atau mahasiswa karena gangguan dalam proses pembelajaran. Fenomena ini mencakup bidang akademik, psikologis, sosial, dan profesional. Salah satu tanda learning loss adalah ketimpangan atau ketidaksesuaian hasil belajar siswa dengan kemampuan atau kompetensi yang seharusnya mereka kuasai. Dampak learning loss dapat mencakup pemahaman yang lebih buruk tentang materi pelajaran, skor ujian yang lebih rendah, dan kesulitan untuk mengikuti pelajaran atau tahapan belajar yang seharusnya sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
Dilansir dalam laman UGM, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti mengatakan bahwa, “Selama pandemi, pembelajaran dilakukan secara daring, atau malah tidak ada pembelajaran sama sekali, dan dampaknya masih bisa dirasakan sampai sekarang.” Hal ini dapat disimpulkan bahwa dampaklearning loss di Indonesia merupakan dampak yang jangka panjang. Karena, learning loss masih sering kali dirasakan oleh pelajar Indonesia saat ini akibat dari adanya pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan kurang maksimal.
Siswa dapat mengalami kehilangan pembelajaran karena berbagai hal yang mengganggu proses pembelajaran mereka secara teratur. Situasi-situasi seperti halnya hal-hal yang membatasi atau mengubah lingkungan belajar mereka merupakan salah satu faktor terjadinya hilangnya motivasi belajar siswa.
Dampak Learning Loss
Di Indonesia pula, pemerataan pendidikan masih sangat sulit untuk dilakukan, apalagi untuk daerah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan). Dengan adanya pandemi yang terjadi, ketidamerataan dan ketimpangan sosial pendidikan semakin meningkat lagi. Tidak ada fasilitas pendidikan yang memadai di wilayah ini, guru yang berkualitas rendah, dan hampir tidak ada akses ke teknologi informasi. Kondisi tersebut berubah menjadi krisis yang nyata ketika pandemi memaksa seluruh pendidikan beralih ke sistem daring. Banyak siswa yang tinggal di daerah terpencil tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, tetapi mereka juga benar-benar terputus dari sistem pendidikan.
Di daerah-daerah tersebut, tidak hanya penurunan hasil belajar kognitif, tetapi juga penurunan keinginan dan dorongan siswa untuk belajar di bidang ini. Ketika sekolah kembali dibuka, anak-anak yang sudah lama tidak berinteraksi dengan pendidik dan teman sebaya mengalami kesulitan beradaptasi.
Kurikulum Merdeka yang Dinilai sebagai Langkah Baru Pemulihan Pembelajaran Siswa
Kurikulum Merdeka merupakan respons langsung terhadap krisis learning loss yang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia pasca pandemi. Kurikulum Merdeka diluncurkan oleh Kemendikbudristek (2022) dengan tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, dan menekankan pemulihan hasil belajar, penguatan karakter, dan pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi.
Kurikulum merdeka membedakannya dari kurikulum sebelumnya yang lebih ketat dan terpusat karena memberi sekolah kebebasan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan siswa, potensi lokal, dan sumber daya yang tersedia. Kurikulum Merdeka memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai strategi pemulihan kegagalan belajar yang kontekstual, yang merupakan salah satu keunggulan utamanya. Kurikulum ini memungkinkan proses belajar yang lebih realistis di tengah kondisi pasca pandemi yang beragam dengan memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi, waktu, dan cara pembelajaran.
Namun, dalam pelaksanaanya, tidak dipungkirkan bahwa Kurikulum Merdeka juga masih membawa tantangan dan hambatan. Seperti banyak lembaga pendidikan, terutama di wilayah 3T, menghadapi tantangan infrastruktur dan sumber daya manusia yang sangat besar. Guru masih membutuhkan pelatihan khusus untuk memahami konsep dan praktik pembelajaran diferensiasi. Mereka juga harus dilatih bagaimana melakukan asesmen formatif yang berhasil.
Kualitas Pendidikan Nasional Sekarang
Kualitas pendidikan nasional saat ini bisa dikatakan berada pada masa transisi. Kualitas pendidikan di perkotaan dan pedesaan masih sangat berbeda. Sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) masih menghadapi keterbatasan sumber daya, tetapi sekolah-sekolah di kota besar lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dan metode pembelajaran baru. Kondisi ini menyebabkan perbedaan yang cukup besar dalam capaian pendidikan antara daerah di Indonesia.
Pendidikan di Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi belum stabil seperti yang diharapkan. Untuk menjamin kualitas pendidikan yang sama di seluruh wilayah, meningkatkan kemampuan guru, dan menyesuaikan sekolah dengan era digital yang terus berkembang, merupakan contoh-contoh yang masih harus diperhatikan oleh pemerintah untuk mengatasi learning loss di Indonesia, dan memastikan bahwa krisis pendidikan tidak berlanjut menjadi hambatan permanen bagi generasi penerus bangsa.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

