Temponews.web.id, Aceh Barat – Universitas Cipta Mandiri (UNCM) Aceh Barat, bersama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Pemerintah Desa Pasar Aceh, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, telah berkolaborasi dalam Program Kolaborasi Membangun Masyarakat (Kosabangsa). Kolaborasi ini bertujuan untuk menerapkan solusi teknologi guna menghadapi ancaman bencana alam dan mengatasi masalah lingkungan di wilayah tersebut.
Adapun fokus utama kegiatan tersebut adalah pemasangan Early Warning System (EWS) untuk banjir rob dan implementasi teknologi pengolah sampah (meliputi peleleh, pencetak, dan dekomposer kompos) yang dirancang untuk meningkatkan perekonomian lokal dan potensi pariwisata desa.

Inisiasi dan Pelaksanaan Program
Program Kosabangsa ini diinisiasi dan didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi melalui Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat, di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk tahun pendanaan 2025.
Kegiatan ini telah berlangsung sejak Agustus 2025 dan dijadwalkan berakhir pada November 2025. Tim pelaksana dari UNCM dipimpin oleh Rita Oktavia, M.Si, sebagai ketua, dengan anggota pelaksana Dian Kristanti, M.Pd dan Nursiah, M.Pd.
Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari berbagai Program Studi, yakni Juwita, Betriza, Arli Irdawan, Nuzullah, dan Baban Muliadi. Guna menjamin keberhasilan dan keberlanjutan program, tim pelaksana UNCM didampingi oleh pakar-pakar dari UGM. Tim pendamping dari UGM diketuai oleh Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., dengan anggota Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo dan Dr.sc.tech. Adhy Kurniawan, S.T.
Mitra utama dalam kegiatan ini adalah Desa Pasar Aceh, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, yang dikepalai oleh Rizwan Rahman, S.Pi. Dalam rangkaian kegiatan ini, dibentuk dua kelompok masyarakat:
- Kelompok Mitigasi Bencana yang diketuai oleh Soffian Efendi.
- Kelompok Pengolahan Sampah yang diketuai oleh Agus Saputra, S.Tp.

Solusi Teknologi: Mitigasi Bencana dan Peningkatan Ekonomi
1. Teknologi Early Warning System (EWS) Banjir Rob
Sebagai wilayah pesisir, Desa Pasar Aceh sering menghadapi ancaman bencana banjir rob. Untuk menjawab tantangan ini, fokus utama program adalah pemasangan Teknologi Early Warning System (EWS). EWS ini diharapkan mampu menyediakan peringatan dini yang akurat kepada masyarakat, memfasilitasi evakuasi yang lebih cepat, dan secara efektif mengurangi risiko kerugian material serta korban jiwa.
2. Implementasi Teknologi Pengolahan Sampah Tepat Guna (TTG)
Program ini juga berupaya mengatasi masalah penumpukan sampah di sepanjang pantai Desa Pasar Aceh, sekaligus melanjutkan pengolahan sampah plastik dari Posyantek Desa yang sebelumnya baru mencapai tahap pencacahan. Sampah diubah menjadi sumber daya utama bernilai ekonomi melalui inovasi teknologi tepat guna (TTG).
Tim Kosabangsa UNCM dan UGM menargetkan penerapan serangkaian teknologi pengolahan sampah, ditargetkan pada November 2025 mendatang, meliputi:
- Teknologi Peleleh Cacahan Sampah Plastik: Untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan baku produk bernilai.
- Pencetak Paving Blok Plastik: Memanfaatkan limbah plastik menjadi material bangunan yang kuat dan ramah lingkungan.
- Pencetak Permukaan Meja Estetik: Mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai seni dan memiliki nilai jual tinggi.
- Dekomposer Sampah Organik Sederhana (Sudah Diterapkan): Mengubah sampah organik menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair (POC), yang mendukung sektor pertanian dan ekonomi masyarakat.

Dukungan Kemajuan Masyarakat dan Pariwisata
Rita Oktavia, M.Si., Ketua Tim Pelaksana UNCM, menjelaskan program ini memiliki tujuan ganda. “Dengan EWS, kami ingin meningkatkan ketahanan masyarakat Desa Pasar Aceh juga meminimalisir dampak yang ditimbulkan terhadap bencana. Sementara melalui teknologi pengolah sampah, kami ingin mengubah paradigma bahwa sampah adalah masalah menjadi peluang ekonomi. Sumber daya utama kami berasal dari sampah plastik Posyantek dan sampah yang berada di sepanjang Pantai Kasih, yang jika diolah, dapat meningkatkan pendapatan dan membuat desa menjadi lebih bersih dan menarik,” jelasnya pada Senin (27/10/2025).
Senada, Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., Ketua Tim Pendamping UGM, menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah contoh nyata sinergi perguruan tinggi dalam mendukung kemajuan masyarakat. “Penerapan TTG ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah sampah dan meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga secara langsung mendukung potensi pariwisata Desa Pasar Aceh. Pantai yang bersih, didukung produk-produk daur ulang kreatif, akan menarik lebih banyak wisatawan,” ujarnya.
Sementara Kepala Desa Pasar Aceh, Rizwan Rahman, S.Pi., menyampaikan apresiasi dan dukungan penuhnya. “Kami sangat menyambut baik program ini karena benar-benar memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Melalui pelatihan dan pendampingan dari tim Kosabangsa, warga kami kini lebih siap menghadapi banjir rob dan juga bisa mengolah sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi diantaranya pupuk padat, pupuk organik cair (POC), paving block plastik dan papan meja estetik. Harapannya, program seperti ini terus berlanjut agar Desa Pasar Aceh semakin bersih, tangguh, dan mandiri,” tuturnya.
Diharapkan, setelah program berakhir pada November 2025, Desa Pasar Aceh akan memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana rob. Hal ini diharapkan akan berdampak positif dan signifikan terhadap peningkatan perekonomian dan sektor pariwisata desa. Program Kosabangsa ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas kampus dan kemitraan dengan masyarakat desa adalah kunci untuk mewujudkan kemandirian dan kemajuan sosial-ekonomi. *[UNCM/TN]

