Oleh : Claudines Lyna Sanjaya Putri
ABSTRAK
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah program terbaru pemerintah yang mengkaji tentang pentingnya status gizi pada anak sekolah guna menekan angka stunting. Program ini berjalan hampir 6 bulan. Namun dalam proses pelaksaannya terdapat laporan bahwa program MBG memicu keracunan massal di beberapa daerah, termasuk di Surabaya dan di Madura. Laporan menunjukkan terdapat makanan yang basi dan bau.
Penelitian ini di adakan untuk mencari faktor utama penyebab permasalahan melalui literatur ilmiah dan analisis secara faktual. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kelemahan dalam penyimpanan dan kurangnya higienitas baik dari sisi penyedia maupun penerima. Temuan ini mejelaskan pentingnya pengawasan personal agar program MBG dapat terealisasikan dengan aman dan kejadian serupa tidak terulang.
PENDAHULUAN
MBG atau Program Makanan Bergizi Gratis merupakan strategi pemerintah untuk menurunkan angka stunting, yang kini menjadi masalah serius di Indonesia. Dengan meningkatkan status gizi pada anak-anak sekolah melalui penyediaan makanan bergizi gratis. Program ini memiliki harapan dapat memberikan penyaluran gizi di setiap daerah hingga ke pelosok maupun berbeda latar belakang sosial-ekonominya dan mendukung keberhasilan kesehatan nasional.
Namun dalam penerapannya akhir-akhir ini terdapat laporan tentang makanan yang basi, bau, dan bahkan menimbulkan keracunan massal di beberapa daerah, termasuk surabaya dan madura. Di Surabaya terdapat laporan sekitar 30% MBG basi, meskipun belum terdapat laporan keracunan, sedangkan di Madura dilaporkan kasus keracunan massal yang menyerang puluhan siswa dan ribuan MBG yang dikirim basi dan tidak layak konsumsi.
Situasi ini menunjukkan adanya kelemahan dari produksi, penyimpanan, serta kurangnya pengawasan yang teliti. Peristiwa tersebut menyebabkan dampak yang signifikan seperti menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap program ini dan risiko kesehatan bagi siswa. Oleh karena itu, diperlukan analisis ilmiah untuk mengidentifikasi penyebab masalah ini, menilai keefektifan pengawasan, dan memberikan evaluasi agar program ini dapat terealasasi secara aman dan berkelanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA
Keamanan pangan merupakan komponen utama dalam program penyediaan makanan skala besar, seperti konsep HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) sangat diperlukan untuk mencegah kontaminasi biologis, kimia pada makanan. Dalam konteks hak anak negara memiliki kewajiban untuk menjamin hak anak atas pangan yang sehat dan aman (Riyanto & Sinaga, 2025).
Beberapa penelitian membuktikan adanya kelemahan dalam pengawasan distribusi MBG dan memicu kontaminasi bakteri berbahaya (E. Coli, Salmonella) dan kasus keracunan massal di beberapa daerah. Dengan demikian, menegaskan kembali bahwa keberhasilan program ini sangat terikat pada konsistensi pengawasan, kualitas bahan pangan, serta standar kebersihan yang ketat.
METODE PENELITIAN
- Publikasi jurnal yang mengkaji keamanan pangan sekolah di Surabaya dan Madura.
- Analisis kasus dari laporan-laporan terkini, terutama di Surabaya dan Madura.
- Analisis kebijakan dan peraturan terkait standar keamanan, pengawasan pelaksanaan, dan mekanisme pertanggungjawaban serta penanggulangan dampak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Beberapa kasus yang muncul pada pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) membuktikan adanya kelemahan pokok dari segi keamanan dan distribusi pangan. Di Surabaya mendapat laporan bahwa 30% paket MBG basi, meskipun tidak terdapat laporan keracunan, karena pihak sekolah langsung menarik makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi. Namun di Madura, dilaporkan puluhan siswa mengalami keracunan massal berupa mual, muntah, dan pusing setelah menngonsumsi MBG, selanjutnya lebih dari 3.000 porsi MBG dilaporkan basi dan tidak layak konsumsi.
Analisis dari beberapa laporan menunjukan faktor utama penyebab peristiwa ini, yaitu kurangnya pengawasan dalam penyimpanan makanan, keterbatasan fasilitas pendingin, distribusi yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri berbahaya, dan kualitas bahan baku yang tidak konsisten. Oleh karena itu, jika masalah ini tidak ditangani secara menyeluruh dapat menurunkan kepercayaan masyarkat terhadap program pemerintah selanjutnya.
KESIMPULAN
Program MBG memiliki tujuan yang baik, tetapi kasus di Surabaya dan Madura menunjukan perlu adanya perbaikan dalam hal pengawasan yang teliti dan standar distribusi yang jelas agar MBG bermanfaat bagi anak-anak Indonesia. Adanya program ini bergantung pada kepercayaan masyarakat untuk program pemerintah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA :
Riyanto, A., & Sinaga, D. (2025). Hak Anak atas Pangan Sehat dalam Kebijakan Publik. Jurnal Kebijakan Sosial, 12(1), 45–59.
Lestari, W., Prasetyo, H., & Widodo, A. (2023). Keamanan Pangan dalam Program Sosial: Analisis Risiko Kontaminasi Bakteri. Jurnal Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 18(2), 101–110.
FAO. (2020). Food Safety and HACCP Principles. Food and Agriculture Organization.
IDN Times Jatim. (2025). “30 Persen MBG Basi di SMAN 15 Surabaya, Belum Ada Keluhan Keracunan.”
Suara Surabaya. (2025). “MBG di SMAN 15 Surabaya Diduga Basi, Sekolah Lapor ke SPPG.”
CNN Indonesia. (2025). “3.000 Menu MBG di Bangkalan Madura Diduga Basi.”
Jurnal Mataraman. (2025). “Puluhan Warga Pamekasan Diduga Keracunan Massal Usai Konsumsi MBG.”
- Penulis Merupakan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

