Oleh : Assyshifa Athifia
Pandemi COVID-19 telah menguji ketahanan global dan mendefinisikan ulang makna keamanan. Virus yang awalnya hanya dianggap masalah kesehatan telah berkembang menjadi krisis multidimensi yang melumpuhkan ekonomi, politik, dan sistem sosial. Selama ini, perhatian dunia terpusat pada ancaman militer dan konflik antarnegara. Namun, krisis ini memaksa kesadaran baru: ancaman terbesar kini dapat datang dari hal yang tak kasat mata, bukan hanya dari medan perang.
Pergeseran Paradigma Keamanan: Dari Negara ke Manusia
Pandemi memicu perlunya peninjauan ulang fundamental terhadap konsep “keamanan internasional.” Secara tradisional, keamanan didefinisikan sebagai kemampuan negara untuk mempertahankan kedaulatan dan menghindari agresi militer. COVID-19 secara signifikan mengubah paradigma ini.
- Keamanan Berpusat pada Manusia: Makna keamanan bergeser dari perlindungan teritorial semata menjadi keselamatan dan kesejahteraan manusia, baik di dalam maupun di luar batas negara. Sebuah negara tidak dapat disebut aman jika warganya rentan terhadap penyakit, kemiskinan, kelaparan, atau ketidakstabilan sosial.
- Ancaman Non-Tradisional: Ancaman terhadap keamanan global tidak lagi terbatas pada aspek militer. Kini, ancaman terbesar juga mencakup wabah, krisis pangan, perubahan iklim, hingga kerentanan teknologi.
- Kekuatan Sejati: Krisis menunjukkan bahwa kekuatan militer menjadi tidak relevan jika suatu negara gagal menjaga ketahanan sosial, sistem kesehatan yang kuat, dan kesejahteraan publik. Negara-negara yang mengutamakan keselamatan warganya terbukti lebih tangguh saat pandemi melanda. Ukuran keamanan saat ini bukan lagi kekuatan senjata, melainkan kemampuan negara melindungi kehidupan dan kesejahteraan warganya.
Kerentanan Global dan Ujian Solidaritas
Pandemi menyoroti kerentanan sistem global dan ketidakmampuan negara dalam menghadapi krisis secara merata.
- Ketimpangan Akses: Adanya perbedaan kemampuan yang tajam antarnegara, di mana sebagian mampu mengamankan pasokan vaksin dan alat medis, sementara banyak negara lain berjuang untuk mendapatkan akses yang sama, menunjukkan adanya cacat mendasar dalam sistem global.
- Keamanan Kolektif: Kesenjangan ini bukan hanya masalah keadilan, tetapi juga masalah keamanan bersama. Risiko penyebaran penyakit akan tetap ada di seluruh dunia selama masih ada negara yang tertinggal dalam penanganan kesehatan. Pandemi membuktikan bahwa keamanan tidak dapat dicapai secara mandiri; dunia harus bekerja sama untuk memastikan keamanan merata.
Ancaman Baru di Ruang Digital
Percepatan perpindahan aktivitas ke dunia digital selama pandemi (bekerja, belajar, berbelanja, pemerintahan) juga melahirkan lapisan ancaman keamanan yang baru.
- Keamanan Siber sebagai Keamanan Nasional: Ketergantungan yang meningkat pada teknologi membawa risiko serius seperti kebocoran data, penipuan digital, dan serangan siber yang kini menjadi komponen penting dari keamanan nasional dan global.
- Ancaman Disinformasi: Penyebaran berita palsu (hoaks) tentang pandemi atau vaksin telah merusak kepercayaan publik dan menghambat upaya penanganan krisis. Negara harus bekerja sama untuk memperkuat perlindungan data dan memerangi penyebaran informasi yang salah.
Retaknya Kepercayaan dan Tantangan Kerja Sama Global
Respons awal terhadap pandemi mengungkapkan kelemahan dalam kerja sama internasional.
- Egoisme Nasional: Saat wabah menyebar, koordinasi internasional berjalan lambat. Setiap negara cenderung fokus pada kepentingan domestik dan kebijakan lockdown-nya sendiri, dengan solidaritas antarnegara yang lambat berkembang.
- Pentingnya Kepercayaan Global: Nasionalisme yang berlebihan terbukti menghambat kemajuan bersama. Krisis ini harus menjadi pelajaran berharga untuk membangun sistem kerja sama yang lebih tangguh. Ke depan, kolaborasi harus didasarkan pada rasa percaya dan kepentingan bersama, bukan sekadar keuntungan ekonomi atau politik. Keseimbangan antara kepentingan nasional dan tanggung jawab global mutlak diperlukan, sebab tidak ada satu pun negara yang dapat benar-benar aman tanpa bantuan negara lain.
Menyusun Ulang Visi Keamanan Global
Dunia pascapandemi menuntut perspektif keamanan yang baru dan menyeluruh (comprehensive). Pengalaman COVID-19 menunjukkan bahwa ancaman dapat datang dari mana saja, dan satu krisis dapat dengan cepat memicu ketidakstabilan di sektor lain (misalnya, masalah kesehatan yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial).
Oleh karena itu, keamanan harus dievaluasi secara holistik. Negara-negara harus memperkuat sistemnya untuk melindungi warganya dari berbagai spektrum ancaman: penyakit, bencana alam, krisis pangan, konflik, dan serangan digital.
Intinya, kerja sama antarnegara harus diperkuat di tingkat global, karena solusi bersama adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah bersama. Dunia saat ini membutuhkan keamanan yang menyeluruh, tangguh, dan berpusat pada manusia.

