Oleh : Aquiela Asyifania Bryanmalta
Penggunaan etanol sebagai campuran dalam BBM di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk biaya produksi yang kompetitif, infrastruktur distribusi yang terbatas, dan persepsi konsumen terhadap kualitas BBM. Meskipun demikian, dengan dukungan pemerintah dan inovasi teknologi, prospek etanol sebagai sumber energi terbarukan yang berkelanjutan tetap menjanjikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia akan segera menerapkan pencampuran etanol 10% (E10) kedalam setiap liter Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini disampaikan saat ia menjadi pembicara dalam forum Investor Daily Summit 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Kamis (09/10/2025). Menurutnya, pencampuran etanol penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Langkah ini juga diharapkan dapat memutar roda perekonomian Indonesia seperti membuka lapangan kerja baru dan mendorong pendapatan masyarakat.
Seperti yang diketahui, Indonesia telah mengimpor BBM sejak tahun 1997. Pada tahun tersebut, Indonesia pertama kali mengalami defisit neraca minyak dan gas (migas), karena total volume impor minyak Indonesia yang sebesar 11 juta ton atau 94,33 juta barel minyak, melampaui total volume ekspor minyak Indonesia sebesar 10,22 juta ton atau 82,07 juta barel minyak. Defisit ini terus meningkat hingga tahun-tahun berikutnya, dimana pada tahun 2025, sebanyak 27 juta barel minyak harus diimpor dari luar negeri, menyebabkan kekhawatiran pada ketergantungan impor Indonesia yang tinggi terhadap produk BBM.
Pencampuran etanol sebesar 10% ke dalam setiap liter BBM digadang-gadang mampu mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Etanol merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan nabati (biofuel), seperti tebu, jagung, singkong, atau bahan lain yang mengandung gula atau dapat dikonversi menjadi gula. Karena didapat dari bahan-bahan alami, maka etanol merupakan campuran bahan bakar yang bersifat terbarukan dan ramah lingkungan. Hal ini menjadikan etanol lebih unggul dari bahan bakar fosil, karena bahan bakar fosil bersifat tidak terbarukan dan menimbulkan krisis energi serta kerusakan lingkungan.
Selain dapat menekan ketergantungan impor, pencampuran etanol sebesar 10% ke dalam setiap liter BBM juga dapat memutar roda perekonomian di Indonesia, seperti menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal ini dikarenakan, kebutuhan akan bahan-bahan nabati seperti tebu, jagung, dan singkong juga akan meningkat, sehingga mendorong produsen untuk meningkatkan produksi dan memperluas usaha mereka.
Pencampuran etanol sebesar 10% ke dalam BBM, ungkap bahlil, telah disetujui oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Hal ini membuktikan adanya langkah yang serius dari pemerintah dalam menjalankan program mandatori pencampuran etanol 10% ke dalam BBM sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor dari negara luar.
Pencampuran etanol ke dalam BBM ini bukan merupakan hal baru. Hal tersebut dikarenakan telah banyak negara-negara lain di dunia yang menerapkan kebijakan ini, karena campuran etanol dalam BBM terbukti mampu menurunkan emisi karbon dan kerusakan lingkungan tanpa mengakibatkan penurunan performa mesin yang berarti.
Amerika Serikat merupakan salah satu penggerak kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin. Dikutip dari Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat sudah lama menggunakan etanol untuk dicampur ke dalam BBM dengan tiga varian utama, yaitu E10 (etanol 10%), E15 (etanol 15%), dan E85 (etanol 85%). Hal ini tidak mengherankan, mengingat Amerika Serikat merupakan produsen etanol terbesar di dunia selama beberapa tahun terakhir.
Selain Amerika Serikat, negara-negara di Eropa juga telah banyak menerapkan kebijakan ini. Uni Eropa, misalnya, saat ini sedang mengkaji apakah E20 atau campuran etanol 20% ke dalam BBM secara lebih signifikan mampu menurunkan emisi karbon dibandingkan E10. Adapun India, dikutip dari Press Information Bureau (PIB), juga mencoba menerapkan campuran E20 ke dalam BBM pada tahun 2025. Selain dapat menurunkan ketergantungan impor, langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produsen tebu, singkong, jagung, serta bahan-bahan lain.
Pencampuran etanol 10% ke dalam BBM dinilai cukup potensial di Indonesia. Program ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional, karena bahan-bahan etanol diperoleh dari sumber-sumber alami didalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah berharap masyarakat dapat menyambut baik kebijakan pencampuran etanol 10% ke dalam BBM ini, karena selain dapat menekan ketergantungan impor Indonesia terhadap produk BBM negara luar, sifat terbarukan dari etanol juga menawarkan manfaat lain seperti pengurangan emisi karbon dan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, pencampuran etanol 10% ke dalam BBM menjadi langkah strategis dalam mewujudkan masa depan energi Indonesia yang mandiri dan berkelanjutan.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Hubungan Internasional – Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya
DAFTAR PUSTAKA :
- Badan Pusat Statistik. (2025, July 29). Nilai Ekspor dan Impor Migas (juta US$) 1996-2024. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTAwNCMx/nilai-ekspor-dan-impor-migas–juta-us—1996-2024.html
- Cahyaningtyas, A. & Sindhuwati, C. (2021). Pengaruh Penambahan Konsentrasi Saccharomyces Cerevisiae pada Pembuatan Etanol dari Air Tebu dengan Proses Fermentasi. DISTILAT Jurnal Teknologi Separasi, 7(2), 89-94. https://doi.org/10.33795/distilat.v7i2.207
- Hanung, R. (2018, January 25). Indonesia Sudah Impor Bensin Sejak 1997. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20180125133825-4-2488/indonesia-sudah-impor-bensin-sejak-1997
- India Ministry of Petroleum & Natural Gas. (2025, August 08). India’s Ethanol Journey is Unstoppable: Shri Hardeep Singh Puri. https://www.pib.gov.in/PressReleasePage.aspx?PRID=2154355
- United States Department of Energy. (2024, January). Global Ethanol Production by Country or Region. AFDC Energy. https://afdc.energy.gov/data/10331
- United States Energy Information Administration. (2024, January 26). Biofuels explained Ethanol. https://www.eia.gov/energyexplained/biofuels/ethanol-supply.php

