Oleh : Nasywa Nathania Dynel Aurallie
Nanobioteknologi semakin berkembang sebagai salah satu inovasi penting di bidang kesehatan dan kefarmasian. Teknologi yang menggabungkan prinsip nanoteknologi dan bioteknologi ini mampu meningkatkan efektivitas obat, menurunkan efek samping terapi, dan membuka peluang baru dalam pengembangan produk herbal maupun kosmetik.
Nanobioteknologi bekerja pada skala 1–100 nanometer, sehingga memungkinkan obat atau zat aktif diformulasikan dalam ukuran sangat kecil untuk mempermudah penyerapan, memperbaiki stabilitas, serta meningkatkan spesifisitas terhadap organ atau sel target. Dalam dunia medis, teknologi ini banyak dimanfaatkan pada terapi penyakit kompleks, terutama kanker.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian besar adalah penggunaan liposom sebagai sistem penghantaran obat. Berdasarkan studi literatur, liposom mampu membawa senyawa hidrofilik maupun hidrofobik dengan lebih efektif, meningkatkan ketersediaan hayati obat, mengurangi toksisitas, serta memungkinkan penghantaran kombinasi terapi seperti kemoterapi dan imunoterapi. Teknologi ini telah dikaji pada terapi kanker payudara, pankreas, paru-paru, hingga kanker serviks dengan hasil yang menjanjikan.
Pemanfaatan nanoteknologi juga meluas ke pengembangan obat herbal modern. Beberapa senyawa aktif herbal seperti kurkumin diketahui memiliki kelemahan berupa bioavaibilitas rendah. Melalui teknologi nano, senyawa ini dapat diformulasikan menjadi nanopartikel sehingga lebih stabil, mudah diserap, dan memiliki efek farmakologis yang lebih baik.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nanoteknologi berpotensi dalam meningkatkan efisiensi proses ekstraksi daun sukun sebagai antidiabetes. Melalui pendekatan berbasis nanoteknologi ini, proses ekstraksi menjadi lebih selektif dan kandungan bioaktif yang dihasilkan lebih murni.
Di bidang kosmetik, nanoteknologi dimanfaatkan dalam bentuk nanoemulsi untuk formulasi hair tonic herbal. Studi literatur menunjukkan bahwa nanoemulsi minyak argan maupun minyak kemiri memberikan hasil pertumbuhan rambut yang lebih tinggi pada hewan uji dibandingkan sediaan konvensional. Ukuran tetesan nano membuat zat aktif lebih mudah menembus kulit kepala dan bekerja lebih optimal.
Melihat berbagai temuan ini, nanobioteknologi dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan obat dan produk berbahan alam di Indonesia. Tantangan yang masih dihadapi meliputi kebutuhan infrastruktur produksi nano yang memadai, regulasi yang lebih ketat untuk menjamin keamanan produk, biaya, dan keamanan nanopartikel. Namun secara keseluruhan, penerapan teknologi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi farmasi modern yang lebih efektif, aman, dan kompetitif di pasar global.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Pascasarjana Bioteknologi Universitas Andalas (UNAND) Padang
Referensi :
- Iskandar B, Sari DN, Anggraini FD, Prakoso MF, Nugraha MHA, Putri NAT, et al. JOPS:Journal of Pharmacy and Science Smart Liposomes via Nanotechnology: A Breakthrough in Cancer Management Targeted Cancer Therapy. 2025;8(2):334-41.
- Ni Putu Dita Pramesti Maheswari. Peluang dan Tantangan Inovasi Sediaan Herbal Menggunakan Nanoteknologi untuk Pengobatan Herbal Modern di Indonesia. Pros Work dan Semin Nas Farm. 2025;3:74–87.
- Ni Putu Tiara Kusumadewi. Kajian Komprehensif Perkembangan Penelitian Nanoteknologi melalui Pendekatan Bibliometrik. J Ris Ilmu Kesehat Umum dan Farm. 2025;3(3):304–12.
- Hidayat T, Ismail M, Huda S, Hidayah NA, Giovani J, Rachmadhiani AN, et al. Formulasi Nanoteknologi Dari Tumbuhan Sebagai Hair Tonic : Review Artikel. J Pharmacopolium. 2024;7(1):29–36.
- Andriani R, Mahmudah R, Nuralifah N, Jannah SRN, Sida NA, Hikmah N, et al. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Granul Antidiabetes Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandiss Linn F.) Sebagai Zat Aktif. J Mandala Pharmacon Indones. 2023;9(2):484–91.

