Temponews.web.id, Lamongan – Kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Persiapan (P) Lamongan periode 2025 – 2026 resmi dilantik pada Sabtu (27/09/2025). Acara yang mengusung tema ‘HmI Lamongan Sebagai Simpul Gerakan Intelektual’ ini diwarnai dengan kritik tajam terhadap dunia pendidikan tinggi melalui Diskusi Panel bertajuk: ‘Perguruan Tinggi Sebagai Pabrik Gelar atau Ruang Pencerahan?’.
Hadir Pejabat Daerah dan Tokoh Nasional
Pelantikan ini mendapat perhatian luas dengan kehadiran sejumlah tokoh penting. Tercatat hadir Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, dan Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, serta Anggota DPRD Jatim, H. Syamwil,Anggota DPRD Lamongan (Fatoni dan Erna Sujarwati), Komisioner Bawaskab Lamongan (Yulianti dan Muttaqin), Komisioner KPU Lamongan, Hafid Hamzah, juga Rektor Unisla, Dr.Abdul Ghofur. Selain itu, turut hadir Pengurus Besar HmI, Faizal Kuncoro, Ketua Umum HmI Badko Jatim, Yusfan Firdaus, serta sejumlah alumni dan kader HmI juga tamu undangan lainnya.
Diskusi Panel yang menjadi bagian dari acara pelantikan menghadirkan narasumber kredibel, yaitu M. Nasih (Pendiri Monash Institute) dan Prof. Henri Subiakto (Mantan Staf Ahli Kominfo).

Indonesia Kekurangan Orang Bernalar, Bukan Bergelar
Dalam sambutannya yang dinamis, Ketua Umum (Ketum) HnI Cabang (P) Lamongan, Ahmad Zamroni, menyebut pelantikan ini sebagai “pertemuan antara sejarah dan masa depan”. Ia lantas melontarkan kritik keras terhadap fenomena pendidikan tinggi saat ini.
Zamroni menilai, banyak perguruan tinggi kini berubah fungsi menjadi “biro jasa” yang fokus utama adalah mencetak gelar semata.
”Banyak perguruan tinggi hari ini sudah berubah menjadi semacam biro jasa. Bayar uang kuliah, ikut ujian, lalu keluarlah gelar. Padahal, gelar hanyalah tanda baca di belakang nama. Nilainya baru bermakna jika ada akal sehat yang bekerja di dalam kepala,” tegas Zamroni.
Menurutnya, kampus yang hanya mencetak gelar tak ubahnya pabrik yang menghasilkan produk tanpa jiwa. Ia menegaskan, kampus harus menjadi laboratorium kebebasan berpikir dan ruang perdebatan gagasan untuk mencetak pencerahan.
Zamroni menyimpulkan bahwa permasalahan utama bangsa adalah kurangnya nalar kritis. “Negeri ini tidak kekurangan orang bergelar, tapi kekurangan orang bernalar. Tidak kekurangan seremonial, tapi kekurangan substansi. Dan di titik inilah HmI harus mengambil peran,” ujarnya.

HmI Lamongan Komitmen Jadi Mitra Kritis Pembangunan
Zamroni menekankan bahwa HmI didirikan sebagai organisasi pencetak akal sehat, bukan pencetak gelar. Ia mendefinisikan intelektual sebagai “keberanian untuk mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah—meskipun dunia berteriak sebaliknya,” tandasnya.
Mengakhiri sambutannya, Zamroni menyampaikan janji dan komitmen kepengurusan HmI Cabang (P) Lamongan periode 2025-2026 akan terus mengawal kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat dengan menjadi mitra kritis pembangunan Kabupaten Lamongan.
”HmI Lamongan harus menjadi pusat dialektika, bukan pusat basa-basi. HmI Lamongan harus melahirkan kader yang tidak hanya bangga karena diundang ke panggung, tapi juga bangga karena berani menyuarakan akal sehat di tengah kebisingan kekuasaan,” tutup Zamroni, mengingatkan bahwa “Jabatan itu sementara, gelar itu fana, tapi akal sehat itu abadi. *TN]

