Oleh: Dedi Sapriadi Manurung
Insiden keracunan massal yang terjadi di SMP Negeri 1 Laguboti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara menjadi kejadian yang menggugah perhatian masyarakat. Sebanyak 95 orang diduga menjadi korban keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), (CNN Indonesia, Jumat, 17 Okt 2025 05:15 WIB). Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, pusing, mulas, nyeri ulu hati, dan sesak napas. Menu yang disajikan terdiri dari ikan mujair asam manis, tempe, sayur pokcoy, dan buah semangka, yang dari temuan awal buah semangka tampak agak berlendir.
Kejadian ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu mendesaknya kebutuhan akan penguatan pendidikan gizi di sekolah agar literasi gizi siswa meningkat, dan kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang.
Literasi gizi bukan sekedar pemahaman tentang makanan sehat, tetapi juga kemampuan mengenali risiko pada makanan, memahami transmisi dan sanitasi, serta membuat keputusan yang aman dan sehat terkait konsumsi makanan. Sekolah dan guru memiliki posisi strategis untuk memberikan edukasi langsung yang kontekstual, menanamkan kebiasaan sehat di lingkungan sekolah, dan mengaktifkan kebijakan serta prosedur yang mendukung keamanan pangan.
Peran Krusial Guru dalam Meningkatkan Literasi Gizi
Guru berada di garis depan dalam membentuk pola pikir dan kebiasaan siswa. Berikut beberapa peran guru yang krusial dalam meningkatkan literasi gizi siswa:
- Pengajaran Materi Gizi dan Keamanan Pangan: Guru dapat memasukkan materi keamanan pangan, bahan-bahan makanan yang berkualitas, risiko keracunan, dan cara pencegahannya ke dalam pelajaran IPA, Biologi, Kesehatan, atau mata pelajaran lain yang relevan.
- Penggunaan Kasus Nyata sebagai Media Pembelajaran: Kasus keracunan MBG di Laguboti dapat digunakan sebagai contoh nyata dalam pembelajaran, menggali fakta penyebab, gejala, dampak, dan solusi. Ini membantu siswa lebih memahami dan mengingat materi karena kontekstual.
- Menumbuhkan Sikap Kritis dan Kepedulian: Guru dapat memotivasi siswa untuk bertanya, menyelidiki sumber pangan mereka, memahami label makanan, serta menilai apakah sesuatu aman atau tidak. Kurikulum atau tugas proyek bisa diarahkan ke isu tersebut.
- Role Model (Teladan): Guru bisa menjadi contoh dalam melakukan kebersihan: mencuci tangan sebelum makan, memastikan makanan yang disajikan bersih, penggunaan peralatan makan yang sehat, dan memastikan makanan disimpan/disajikan dalam kondisi layak.
- Kerja sama dengan Orang Tua dan Komunitas: Guru mendukung komunikasi dengan orang tua tentang apa yang siswa makan, bagaimana rumah tangga bisa ikut menjaga keamanan dan kualitas makanan. Keterlibatan komunitas (keluarga, petugas kesehatan lokal) juga penting.
Tanggung Jawab Institusi Sekolah
Sekolah sebagai institusi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengatur lingkungan yang mendukung literasi gizi dan keamanan pangan, terutama dalam konteks program MBG:
- Pengawasan dan Standarisasi Kebersihan Kantin / Penyedia MBG: Sekolah harus memastikan bahwa penyedia MBG (dapur SPPG) mengikuti standar sanitasi, pengolahan bahan pangan, distribusi makanan, dan penyimpanan yang benar.
- Pelatihan untuk Guru & Petugas MBG: Sekolah menginisiasi pelatihan rutin tentang keamanan pangan, teknik memasak dan distribusi, manajemen risiko makanan dasar atau kontaminasi, dipandu oleh ahli gizi atau dinas kesehatan.
- Pengaturan Prosedur Darurat: Menyiapkan SOP (Standard Operating Procedure) bila terjadi dugaan keracunan: deteksi awal gejala, pemberian pertolongan, komunikasi dengan pihak kesehatan, serta pelaporan ke pihak yang berwenang.
- Penyediaan Fasilitas Kebersihan: Dispensasi air bersih, fasilitas cuci tangan untuk siswa dan staf, perlengkapan kebersihan dapur (piring, peralatan memasak) yang higienis, serta tempat penyimpanan makanan yang sesuai kondisi keamanan makanan.
- Integrasi Literasi Gizi dalam Kegiatan Ekstrakurikuler dan Lingkungan Sekolah: Membentuk klub kesehatan, sekolah pertanian, kegiatan masak sehat, pengarahan untuk membawa bekal sehat dari rumah, kampanye sekolah tentang “diet bersih” dan keamanan pangan.
Rekomendasi untuk Penguatan Literasi Gizi
Untuk mendorong literasi gizi siswa yang efektif dan memastikan keamanan pangan dalam program sekolah, berikut rekomendasi yang dapat dijalankan oleh sekolah, guru, dan pemangku kebijakan:
- Kolaborasi Antarlembaga: Sekolah bekerja sama dengan dinas kesehatan, Badan Gizi Nasional (BGN), dan instansi lokal untuk pengawasan dan pelatihan.
- Penambahan Modul Literasi Gizi dalam Kurikulum Lokal: Materi literasi gizi dan keamanan pangan sebaiknya menjadi bagian wajib dari kurikulum lokal, minimal sebagai bagian dari mata pelajaran terkait.
- Audit dan Evaluasi Program Rutin MBG: Sekolah dan pemangku kebijakan melakukan audit terhadap penyedia MBG secara berkala, mencakup bahan baku, penyimpanan, distribusi, dan reputasi.
- Keterlibatan Siswa Aktif dan Orang Tua: Program edukasi yang melibatkan siswa sebagai agen perubahan (peer education), serta sosialisasi kepada orang tua agar penerapan di rumah juga mendukung.
- Transparansi dan Pelaporan: Sekolah harus terbuka mengenai menu MBG, prosedurnya, dan bila terjadi pelaporan kejadian ke orang tua dan pihak yang berwenang. Transparansi ini membantu membangun kepercayaan.
Kasus keracunan MBG di Kabupaten Toba membuka pelajaran nyata tentang betapa pentingnya keamanan pangan dan literasi gizi dalam lingkungan sekolah. Guru dan sekolah berada di garis depan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dengan memperkuat pendidikan gizi, membangun kebiasaan yang sehat, dan menjalankan kebijakan yang mendukung lingkungan makan yang aman bagi siswa. Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi, literasi gizi siswa tak hanya menjadi teori, namun bagian dari keseharian mereka yang pada akhirnya akan ikut menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan memberikan fondasi yang kuat bagi masa depan.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi – Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

