Oleh : Kinanthi Elmira Putri
Pemuda adalah sumber kekuatan suatu bangsa. Saat pemuda menjadi pemimpin, akan muncul banyak sudut pandang baru yang membawa perubahan dalam sebuah kelompok. Dengan semangatnya, pemuda mampu menginovasi dan menginisiasi perubahan inovatif untuk mewujudkan tujuan yang revolusioner. Peran pemimpin pemuda diperlukan untuk membangun bangsa melalui inovasi dan kepemimpinannya.
Seperlima penduduk Indonesia adalah pemuda, menjadikan Indonesia semakin dekat pada keemasan bonus demografi di tahun 2045. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terdapat 64,22 juta jiwa pemuda di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2024). Jumlahnya yang begitu besar bukanlah sekadar angka yang terpampang, namun penggerak perubahan yang nyata. Sumpah Pemuda dan Reformasi 1998 menjadi bukti nyata keberadaan pemuda sebagai garda terdepan perubahan bangsa. Pemuda memegang peranan penting dalam pembangunan komunitas, berkontribusi pada perubahan sosial dan pembangunan ekonomi melalui inisiatif yang mempromosikan hak anak, pemberdayaan komunitas, dan praktik berkelanjutan (Christens & Dolan, 2011; Mathiyazhagan, 2020). Kekuatan pemuda inilah yang membuatnya dijuluki sebagai masa depan bangsa. Sebuah negara tak bisa apa-apa tanpa pemudanya, sebuah bangsa juga demikian. Menandakan bahwa pemuda-lah harta karun terbesar bangsa yang senantiasa bergerak dalam keberanian membawa yang lebih baik.
Jumlah ini juga menyebabkan Indonesia mempunya potensi bonus demografi yang bisa mengantarkan pada Indonesia Emas 2045. Pemuda yang memiliki semangat membara, pemikiran kritis, dan penyelesaian masalah inovatif menjadi modal awal yang baik untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam mewujudkan perubahan melalui kepemimpinan mereka. Terbukti dari tingkat partisispasi sebesar 70% dari kalangan generasi Z dalam aksi sosial dan politik, menandakan partisipasi yang masif dan dapat terus dioptimalkan (Cooper, 2021).
Pemimpin muda menjunjung tinggi inklusivitas berwawasan masa depan dalam kebijakan mereka. Mereka cenderung berpikir progresif serta tidak terpaku pada sistem tradisional yang ada di sekeliling. Mereka juga sering memperjuangkan pemikiran mereka dalam masalah penting di dunia pendidikan, sosial, dan politik yang mendesak generasi muda untuk menciptakan perubahan baik di masa depan. Pemimpin muda juga sangat responsif dan adaptif terhadap isu yang terjadi, terutama pemimpin dari generasi Z. Mereka melihat aspirasi yang muncul bersama dengan peran nyata sebagai hubungan tak berwujud yang memegang kekuatan besar untuk memotivasi dan menginspirasi aksi mereka.
Kepekaannya terhadap lingkungan sekeliling membuat pemuda mampu menjadi pemimpin yang mengerti kebutuhan masyarakat serta lebih mudah dalam melihat arah tren masa depan, seperti digitalisasi, IoT, dan AI. Kemampuan ini juga yang membuat pemimpin muda menjadi penghubung antar generasi. Mereka mampu mengerti dan mewakili keresahan setiap generasi untuk selanjutnya dielaborasikan menjadi poin-poin pertimbangan dalam menentukan kebijakan solutif dan pada akhirnya akan mendorong stabilitas sosial.
Globalisasi masif membawa pemimpin muda memiliki banyak ide segar terhadap hubungan antar negara. Mereka sangat mengupayakan adanya kolaborasi internasional yang inklusif untuk mengatasi permasalahan global. Pendekatan seperti ini dapat membantu mereka untuk membangun kerja sama global yang lebih kuat dan terintegrasi. Contohnya United Nations Development Programme (UNDP) bersama dengan Citi Foundation membentuk Youth Co:Lab untuk memberdayakan pemuda dalam mengakselerasi implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui kepemimpinan, inovasi sosial, kewirausahaan (Madina, 2023).
Membangun kepemimpinan pemuda dapat dimulai dari lingkup paling kecil, yaitu keluarga. Keluarga sebagai agen sosialisasi pertama bagi individu memiliki peran besar untuk mengajarkan kemampuan mengenal diri dan memahami nilai serta norma yang ada di sekitarnya sehingga kemudian menghasilkan individu yang memiliki kemandirian, kepribadian yang matang, dan kecerdasan emosional yang baik. Ketika seorang pemuda sudah melewati fase ini, mereka dapat melanjutkan ke komunitas masyarakat, baik itu sekolah maupun organisasi.
Keterlibatan sederhana pemuda dalam organisasi seperti OSIS, MPK, dan ekstra kurikuler merupakan sebuah contoh sederhana yang dapat dijadikan sebagai tahap pembelajaran dalam membentuk kepemimpinan yang lebih baik. Dari keterlibatan mereka dalam organisasi tersebut, mereka belajar manajemen diri, bekerja dalam tim, dan tentunya mendengarkan aspirasi dari orang-orang sekeliling. Kemampuan mereka dalam memahami permasalahan akan mengarahkan mereka untuk menciptakan solusi yang inklusif dan inovatif. Pembelajaran yang mereka dapat inilah yang dapat menjadi modal lanjutan bagi pemuda untuk terus mengembangkan dan menyebarkan dampak kepemimpinannya bagi orang-orang di sekitar.
Kehadiran mereka di panggung kekuasaan pemimpin memberi inspirasi untuk kepemimpinan pemuda agar terlibat aktif di masyarakat. Aspirasi yang mereka sampaikan dapat memperkuat demokrasi yang lebih inklusif. Pemimpin muda juga menjadi lambang perubahan sosial di suatu wilayah. Dengan menyalurkan pandangan baru terkait norma yang sudah ada, mereka mampu memicu perubahan dalam sikap dan perilaku masyarakat. Perilaku ramah lingkungan, kesetaraan gender, keterbukaan berpendapat, dan toleransi yang dibawa dapat berdampak untuk membangun masyarakat yang terbuka.
Maka dari itu, guna mendorong partisipasi pemuda dalam kepemimpinan membawa bangsa cemerlang, kita perlu memberi ruang bagi inovasi dan inisiasi mereka dalam berbagai hal. Elaborasi antara inovasi, inisiasi, dan tantangan yang dihadapi akan menjadi poin utama dalam mewujudkan perubahan menuju Indonesia Emas 2045.
- Penulis Merupakan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya
Daftar Pustaka :
- Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pemuda Indonesia 2024 (Vol. 22).
- Christens, B. D., & Dolan, T. (2011). Interweaving Youth Development, Community Development, and Social Change Through Youth Organizing. Youth & Society, 43(2), 528–548. https://doi.org/10.1177/0044118X10383647
- Cooper, J. (2021, December 20). Unleashing the Power of Gen Z. https://www.edelman.com/insights/unleashing-power-gen-z
- Madina, K. (2023, May 2). Memperkuat Peran Pemuda dalam Proses Pengambilan Keputusan. https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/memperkuat-peran-pemuda-dalam-proses-pengambilan-keputusan/
- Mathiyazhagan, S. (2020). Participatory youth-led community development: A child-centered visual SWOT analysis in India. Children and Youth Services Review, 113, 104963. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.104963

