Saat ini, perkembangan teknologi sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, khususnya dibidang Media Sosial (Medsos). Semua orang pasti telah menggunakan media sosial. Mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa kini sudah memiliki media sosial.
Media sosial kini sudah menjadi seakan-akan kebutuhan dalam hidup. Berbagai aplikasi bermunculan untuk memenuhi kebutuhan sosial antar individu, antar masyarakat, bahkan antar negara. Dapat dikatakan bahwa media sosial menjadi sarana penghubung jiwa sosial masyarakat.
Sarana penghubung jiwa sosial masyarakat ini dapat dilihat dari kenyataan, bahwa persebaran informasi semakin tidak mengenal batas-batas. Bahkan bisa mempertemukan orang-orang yang berbeda suku, bahasa, bahkan negara. Ketiadaan batas-batas ini menjadi pedang bermata dua bagi penggunanya.
Disebut pedang bermata dua karena, disatu sisi media sosial bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat, namun disisi lain bisa menjadi alat yang melukai bahkan menghancurkan jika digunakan tanpa tanggung jawab. Sayang, kesadaran akan makna dibalik media sosial sebagai pedang bermata dua masih perlu didorong untuk memberikan pemahaman pentingnya bijaksana dalam menggunakan media sosial.
Pedang Bermata Dua
Tak dapat disangkal, bahwa media sosial memberikan banyak manfaat bagi penggunanya. Tak jarang berbagai kemudahan yang ditawarkan media sosial membantu kita dalam menyelesaikan berbagai masalah atau persoalan. Sebut saja misalnya, masalah dalam keterbatasan informasi. Dengan adanya media sosial, dalam waktu yang singkat kita dapat mengetahui berita yang sedang beredar di negara ini, bahkan kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi diluar negeri.
Namun dalam perkembangannya, media sosial acap kali disalahgunakan. Tidak sedikit penyalahgunaan media sosial terjadi di tengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan moral dan etika. Salah satu contohnya adalah maraknya masalah cyberbullying.
Cyberbullying atau perundungan lewat dunia maya merupakan tindakan seseorang melakukan perbuatan yang melanggar moral dan etika, seperti menyebarkan kebohongan, mengirimkan pesan atau ancaman, mengirim pesan jahat, mengancam orang, bahkan mencuri identitas orang lain untuk disalahgunakan.
Perilaku ini sangat berdampak besar terhadap korban. Mulai dari depresi hingga bunuh diri. Hal ini tentunya menjadi salah satu dampak dari media sosial sebagai pedang bermata dua. Dimana media sosial seharusnya digunakan untuk memudahkan aktivitas, ternyata media sosial juga dapat digunakan untuk kejahatan.
Maka Penulis memandang bahwa masalah etika dan moral dalam menggunakan media sosial harus dipahami dengan bijaksana, dan pentingnya kesadaran dalam diri menjadi sarana yang mengontrol penggunaan media sosial ini. kesadaran ini harus diikuti dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah kebijaksanaan untuk mampu membedakan hal-hal baik dan hal-hal buruk. Lewat perilaku bijaksana, kita dapat meminimalisir dampak buruk dari media sosial. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kesadaran dalam bermedia sosial.
Bijaksana Menggunakan Media Sosial
Salah satu contoh kecil bijaksana menggunakan media sosial adalah dengan sadar dalam menuliskan komentar, dan bijak dalam membuat konten di media sosial. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan, bahwa di era digital ini siapapun bisa dengan bebas membuat konten. Tapi kebebasan ini bukan berarti bebas sebebas-bebasnya.
Mari kita jaga pikiran dan hati, sebab dibalik layar, ada perasaan manusia yang nyata. Berhati-hatilah dalam berkomentar, dan bijaklah dalam berkata-kata. Hendaknya komentar dan kata-kata kita dapat membangun orang lain, bukan malah merundung orang lain. Ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab moral dan etika kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi etika dan moral.
Sangat penting dilakukan edukasi atau sosialisasi dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika dalam menggunakan media sosial. Tujuan dilakukan edukasi ini diharapkan agar pengguna media sosial dapat dengan bijak menggunakan media sosial. Edukasi atau sosialisasi sangat penting guna menumbuhkan kesadaran, bahwa kebebasan bereskpresi di media sosial harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial.
Edukasi atau sosialisasi bisa digunakan melalui berbagai cara, seperti seminar, kampanye daring, melibatkan peran dunia pendidikan, hingga dengan konten edukatif di media sosial itu sendiri. sudah saatnya kita menyadari bahwa media sosial bukan hanya tentang apa yang kita inginkan, akan tetapi juga tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkannya.
Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Manajemen, dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)- Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Diantaranya :
1. Imelda Franciska Tarihoran.
2. Helena Sihotang, SE., MM

